Perekonomian Negara G20 Diprediksi Masuk Resesi, Kecuali China dan Indonesia

Dani M Dahwilani ยท Selasa, 23 Juni 2020 - 09:34 WIB
Perekonomian Negara G20 Diprediksi Masuk Resesi, Kecuali China dan Indonesia

Selain pandemi Covid-19, pasar keuangan dunia banyak dipengaruhi situasi geopolitik global yang tengah bergejolak. (Foto: The Economist Intelligence Unit)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah dan para ekonom memprediksi negara-negara G20 memasuki resesi tahun ini. Selain pandemi Covid-19, pasar keuangan dunia banyak dipengaruhi situasi geopolitik global yang tengah bergejolak.

Langkah sigap yang diambil pemerintah dan sumber daya yang besar, membuat China dan Indonesia diperkirakan bisa lepas dari resesi walau dengan pertumbuhan kecil.

“Seluruh perekonomian di G20 akan masuk resesi tahun ini menurut prediksi the Economist Intelligence Unit, kecuali China dan Indonesia dengan pertumbuhan kecil di angka positif antara 0,5 persen -1 0 persen,” ujar Chairman GIPA, Steven Marcelino dalam webinar yang dihadiri lebih dari 500 profesional serta eksekutif dari 110 kota di 30 negara, belum lama ini.

Wamenlu Mahendra Siregar yang juga matan kepala BKPM memberikan update tentang ketanggapan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan domestik. Salah satunya dengan memproduksi masker hingga dua jenis ventilator dalam waktu tiga bulan secara end-to-end.

“Bahkan, Indonesia sekarang mulai mengekspor alat-alat medis yang berstandar internasional ini ke luar negeri” tambah Mahendra, yang sempat menjabat sebagai Dubes Indonesia untuk AS.

Terdapat peluang untuk menggunakan pandemi sebagai momentum untuk mengembangkan produksi lokal di tengah terganggunya rantai pasokan dunia.

Sementara itu, Founder dari Mobius Capital Partners, Mark Mobius berpendapat Indonesia telah menunjukkan kekuatan yang dimiliki untuk mengubah krisis dari covid-19 menjadi sebuah peluang untuk perubahan dan melangkah maju.

Pria yang dijuluki ‘Godfather of Emerging Markets’ oleh Reuters ini memaparkan pandemi Covid-19 ini akan mempercepat laju perubahan tatanan global, yang sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum pandemi ini. Tiga hal yang spesifik; Pertama, tatanan global akan melihat lebih banyak ‘Balkanisasi’ yang terjadi dengan melemahnya perjanjian-perjanjian multilateral; Kedua, diversifikasi dari rantai pasokan global atas upaya berbagai perusahaan untuk mengalihkan produksi dari China ke negara-negara dengan labour cost yang rendah seperti di Asia tenggara; Ketiga, Alarus teknologi yang tak terbendung mampu membuat dunia semakin global tanpa batas ruang dan waktu.

“Perubahan yang begitu cepat ini tidak akan mengakhiri tren globalisasi, malah sebaliknya,” kata Mark yang mendapatkan gelar PhD di bidang ekonomi dari MIT pada 1964.

Terkait prediksi krisis keuangan di masa depan, Mark berpendapat ‘Black Swan’ akan berasal dari teknologi di mana akan terjadi serangan terhadap infrastruktur pasar keuangan.

"Krisis yang akan terjadi dikemudian hari tidak hanya terjadi di negara maju atau berkembang, namun dengan skala global yang bahayanya tidak bisa dicerna sekarang," katanya.

Menimbang ini, lanjut dia, ada kebutuhan mendesak bagi negara-negara agar semakin beradaptasi dan bersiap sedia sebab tidak ada yang bisa lepas dari gejolak pasar berikutnya.

Mark percaya pemulihan ekonomi akan berbentuk V (V-Shaped). Meskipun terdapat volatilitas lebih tinggi, pasar berkembang sudah bangkit kembali, bahkan telah melebihi Pasar di AS atau di Eropa.

"Minat investor global sendiri terhadap Indonesia saat ini dianalogikan seperti di abad 16-an di mana berbagai ekspedisi berburu ‘The Spice Islands’ karena kekayaan rempah Indonesia yang cukup langka di saat ratusan tahun silam," kata Mark.

Mark memberikan tips untuk Indonesia agar bisa lebih giat lagi dalam meningkatkan ‘Ease of Doing Business’ indeks Bank Dunia. Indonesia akan bisa lebih menarik arus investasi dan diversifikasi rantai pasok yang akan terus berlangsung di Asia Tenggara, di mana tren ini akan terakselerasi pasca Covid-19.

Adapun forum ini, dihadiri berbagai pejabat senior dari Kemenlu, KBRI, KJRI di berbagai belahan dunia yang telah banyak mendukung inisiatif-inisiatif global yang dilaksanakan oleh GIPA.

“GIPA sebelumnya pernah menggandeng World Economic Forum, Bloomberg, Kemenkeu dan berbagai mitra strategis lain dalam membawa perspektif dari pemimpin dunia di luar negeri maupun di tanah air,” ujar Hilmi Kartasasmita, Head of Indonesia GIPA.

Editor : Dani Dahwilani