PII Susun Database Keinsinyuran Indonesia, Ada Nama Presiden Jokowi

Isna Rifka Sri Rahayu · Rabu, 11 September 2019 - 14:43 WIB
PII Susun Database Keinsinyuran Indonesia, Ada Nama Presiden Jokowi

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Heru Dewanto. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sudah mulai menyusun database keinsinyuran pertama di Indonesia yang berisikan lebih dari sejuta insinyur di Indonesia. Hal ini akan berguna untuk sertifikasi dan registrasi insinyur yang akan praktik di Indonesia.

Ketua Umum PII Heru Dewanto mengatakan, penyusunan database keinsinyuran ini respons atas diberlakukannya undang-undang keinsinyuran pada tahun ini. Beleid tersebut mewajibkan setiap insinyur yang akan berpraktik di Indonesia harus disertifikasi dan terdaftar.

"Inilah pintu masuk kami untuk menyusun database keinsinyuran pertama di indonesia yang akan berisikan lebih dari 1 juta talenta-talenta terbaik bangsa," ujarnya di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Dia pun menjamin nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) masuk dalam database tersebut. Pasalnya, seperti diketahui mantan Wali Kota Solo itu memiliki gelar insinyur. "Tentu nama bapak Ir Joko Widodo ada di dalamnya. lengkap dengan klasifikasi dan standar kompetensinya," kata dia.

Selain itu, standardisasi insinyur ini  memungkinkan diberlakukannya remunerasi, termasuk untuk insinyur asing yang bekerja di indonesia. Kemudian aturan ini bukan hanya milik insinyur dan sarjana teknik saja. Pasalnya, sekarang lulusan vokasional pun bisa memiliki gelar profesi insinyur dan masuk ke dalam database keinsinyuran Indonesia ini

"Database ini kami harapkan bisa menjadi sumbangsih kami yang nantinya bisa disinergikan dengan pusat manajemen talenta yang akan dibuat pemerintah. Jadi yang bagian SDM keinsinyuran, kami siap rampungkan, pak," ucapnya.

Menurut dia, SDM yang unggul dapat menjadi kunci penting untuk menghadapi perubahan kondisi global yang semakin cepat di tengah era teknologi digital. Di era ini, informasi menjadi sumber daya yang penting dan tidak ternilai harganya sehingga pihaknya merasa perlu menyusun database keinsinyuran Indonesia.

"Ini bukan hal mudah, mencetak SDM unggul harus dimulai dari sebuah data base sehingga kita tahu peta kekuatan kita, sebelum membuat sebuah peta jalan yang terintegrasi menuju tujuan bersama. Bukankah data lebih mahal dari minyak?" tutur dia.


Editor : Ranto Rajagukguk