PPnBM Nol Persen Mobil Baru Berlaku Maret, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Rina Anggraeni ยท Sabtu, 13 Februari 2021 - 11:10:00 WIB
PPnBM Nol Persen Mobil Baru Berlaku Maret, Ini Penjelasan Sri Mulyani
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merelaksasi pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk mobil di bawah 1.500 cc. Kebijakan diskon pajak ini akan menggunakan PPnBM DTP (ditanggung pemerintah) melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dan ditargetkan mulai diberlakukan pada Maret 2021.

"Pemberian diskon pajak kendaraan bermotor ini didukung kebijakan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan untuk mendorong kredit pembelian kendaraan bermotor, yaitu melalui pengaturan mengenai uang muka (DP) 0 persen dan penurunan ATMR Kredit (Aktiva Tertimbang Menurut Risiko)," kata Sri Mulyani dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (13/2/2021)

Dia melanjutkan, kombinasi kebijakan ini harapannya juga dapat disambut positif oleh para produsen dan dealer penjual untuk memberikan skema penjualan yang menarik agar potensi dampaknya semakin optimal. "Kebijakan ini diharapkan mampu mengungkit kembali penjualan kendaraan mobil penumpang yang mulai bangkit sejak bulan Juli 2020," ujarnya.

Diskon pajak ini juga berpotensi meningkatkan utilitas kapasitas produksi otomotif, mengungkit gairah Konsumsi Rumah Tangga (RT) kelas menengah dan menjaga momentum pemulihan pertumbuhan ekonomi yang telah semakin nyata. Di sisi konsumen, lebaran dengan tradisi mudiknya juga akan meningkatkan pembelian kendaraan bermotor.

"Tentunya hal itu bisa terlaksana apabila pandemi Covid-19 telah melandai," ucapnya.

Nantinya, diskon pajak kendaraan bermotor diberikan untuk mempercepat laju pemulihan ekonomi. Rilis pertumbuhan ekonomi Q4-2020 pada 5 Februari 2021 yang lalu mengonfirmasi tren pemulihan ekonomi yang semakin nyata.

"Pertumbuhan ekonomi terus membaik, dari minus 5,32 persen di Q2-2020 meningkat menjadi minus 3,49 persen di Q3-2020 dan terus meningkat menjadi minus 2,19 persen di Q4-2020," tuturnya.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi ditopang oleh stimulus belanja negara berbagai program penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Konsumsi rumah tangga  secara bertahap juga mengalami perbaikan.

"Pada Q2-2020, konsumsi RT tumbuh minus 5,52 persen, meningkat menjadi minus 4,05 persen di Q3-2020 dan minus 3,61 persen di Q4-2020," katanya.

Lalu,  konsumsi masyarakat kelas menengah-atas masih tertahan karena pandemi Covid-19 sehingga tabungan masyarakat di perbankan mengalami peningkatan yang signifikan. Dari sisi produksi, insentif ini akan memperkuat pemulihan ekonomi sektor-sektor strategis domestik. Rilis PDB menunjukkan bahwa semua sektor ekonomi telah mengalami perbaikan pertumbuhan ekonomi.

Sektor industri pengolahan dan perdagangan yang secara total berkontribusi sebesar 32,8 persen juga mengalami pemulihan. Sektor industri pengolahan telah membaik dari minus 6,18 persen di Q2-2020, meningkat menjadi minus 4,34 persen di Q3-2020 dan minus 3,14% di Q4-2020. 

Sektor perdagangan memiliki tren pemulihan yang hampir sama, dari minus 7,59 persen di Q2-2020 meningkat menjadi minus 5,05 persen di Q3-2020 dan minus 3,04 persen di Q4-2020," ujarnya.

Editor : Ranto Rajagukguk