Pulihkan Ekonomi, China Enggan Tiru Barat Longgarkan Kebijakan Moneter
BEIJING, iNews.id - Gubernur Bank sentral China (PBOC) Yi Gang tidak akan mengikuti gaya ekonomi barat dengan melakukan pelonggaran moneter skala besar. Tetapi sebaliknya, pihaknya akan melihat stabilitas harga konsumen dan nilai tukar untuk membantu pemulihan ekonomi dari dampak Covid-19.
"Menerapkan kebijakan moneter normal, yaitu suku bunga positif dan kurva imbal hasil yang meningkat, baik untuk memberikan insentif bagi entitas pasar dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan bagi ekonomi dan masyarakat," tulis Yi dalam artikel yang diterbitkan oleh majalah China Finance, dikutip dari South China Morning Post Senin (12/10/2020).
Yi mengatakan, hal itu akan meningkatkan daya saing aset yuan dan dengan demikian membantu China memanfaatkan pasar domestik serta eksternal. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah menggelontorkan 9 triliun yuan (Rp19.700 triliun) untuk melawan pandemi Covid-19, menstabilkan ekonomi dan membantu bisnis serta individu.
Tetapi, tidak seperti Federal Reserve AS yang telah memulai pelonggaran kuantitatif tanpa batas, PBOC justru enggan menyuntikkan lebih banyak likuiditas yang dinilai dapat memperlambat laju pasokan kredit setelah upaya awalnya untuk memulai perekonomian tercapai.
China Desak Forum Baru Dukung Kesepakatan Nuklir Iran, Peringatan Keras bagi AS
“Kita perlu menjaga likuiditas, jumlah uang beredar dan pembiayaan yang wajar. Tetapi, harus mengatakan tidak pada banjir uang pada saat yang sama. Sebaliknya, kita harus menargetkan pertumbuhan mendekati produktivitas potensial dan menghindari fluktuasi ekonomi,” tulis Yi.
Suku bunga deposito satu tahun acuan China tidak berubah pada angka 1,5 persen, sementara suku bunga acuan pinjaman satu tahun (LPR) acuan hanya turun 1,3 persen sepanjang tahun ini, dipandu oleh penurunan suku bunga kebijakan bank sentral. Yi memperingatkan, stimulus terkesan berlebihan yang diadopsi oleh negara maju justru akan menimbulkan efek yang akan sulit dihentikan.
“Dalam jangka panjang, hal itu akan meningkatkan gelembung utang dan aset, mendistorsi struktur ekonomi, mempengaruhi distribusi pendapatan dan meningkatkan risiko keuangan yang sistematis,” tulisnya.
PBOC sekarang fokus menjaga harga konsumen, yuan dan nilai tukar yang stabil guna mendorong China yang akan melaporkan pertumbuhan ekonomi positif tahun ini. Setelah mencatat penurunan pertama PDB dalam empat dekade di kuartal I tahun ini, Negeri Tirai Bambu berhasil mencatat pertumbuhan positif 3,2 persen pada kuartal II.
Kinerja solid PBOC telah terbukti meningkatkan antusiasme pasar terhadap yuan, mendorong modal mengalir ke pasar domestik dan nilai yuan meningkat sekitar 4 persen dibandingkan dengan dolar AS dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
“Perekonomian yang sukses harus menjaga mata uangnya tetap stabil. Ini tidak hanya mencakup harga konsumen domestik yang stabil, tetapi juga stabilitas dasar nilai tukar,” kata Yi.
Editor: Ranto Rajagukguk