RI Dorong Pengembangan Sawit Jadi Bensin dan LPG

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Minggu, 14 April 2019 - 15:04 WIB
RI Dorong Pengembangan Sawit Jadi Bensin dan LPG

Kini penelitian sawit diubah menjadi bahan bakar jenis bensin (gasolin) maupun Liquified Petroleum Gas (LPG). (Foto: Reuters)

JAKARTA, iNews.id - Indonesia adalah salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia. Selain dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar minyak jenis solar, kini penelitian pemanfaatan sawit untuk bahan bakar jenis bensin (gasolin) maupun Liquified Petroleum Gas (LPG) tengah dikembangkan di Indonesia. Salah satunya melalui kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Indonesia yang pertama mengembangkan sawit untuk bensin melalui co-prosessing. Minyak sawit dicampurkan ke kilang dengan proses cracking, menggunakan katalis Merah Putih, yang juga merupakan produksi anak bangsa, dan akan menghasilkan bensin dan LPG di akhir proses," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana dikutip dari laman Kementerian ESDM, Minggu (14/4/2019).

Dadan mengungkapkan, pemanfaatan sawit untuk bensin ini juga telah dilakukan di beberapa negara seperti di Amerika, Italia, dan UEA. Namun, yang dikembangkan di negara-negara tersebut adalah membuat pabrik baru yang dapat mengolah langsung sawit dengan bensin sebagai salah satu produknya. "Yang mereka kembangkan bukan co-prosessing, tapi standalone, dari sawit menghasilkan bensin. Untuk co-processing ini kita yang pertama," katanya.

Kelebihan lain dari co-prosessing ini, lanjut Dadan, masih dapat menggunakan kilang exsisting, sehingga lebih hemat dalam proses produksinya. "Yang digunakan adalah kilang eksisting, hanya ditambahkan proses di tengahnya untuk menghasilkan bensin dan LPG," kata Dadan.

Terkait harga, Dadan mengungkapkan, bensin dari sawit ini nantinya masih akan tergantung dari harga bahan baku sawitnya. "Ada mekanisme yang saling menguntungkan pastinya, bisa melalui intensif atau bentuk lain, karena kita tahu hingga saat ini di lapangan kita tahu kalau harga minyak goreng selalu lebih mahal dari bahan bakar," kata Dadan.


Editor : Ranto Rajagukguk