Rombak Direksi BUMN, Erick Thohir: Tidak Ada Like and Dislike

Aditya Pratama ยท Kamis, 25 Juni 2020 - 17:09 WIB
Rombak Direksi BUMN, Erick Thohir: Tidak Ada Like and Dislike

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. (Foto: Kementerian BUMN).

JAKARTA, iNews.id - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir merombak direksi dan komisaris sejumlah perusahaan pelat merah. Beberapa nama menjadi sorotan publik.

Erick menegaskan, perombakan direksi BUMN dilakukan karena beberapa pertimbangan. Selain proyeksi ke depan serta business model, figur yang menempati kursi direksi diputuskan berdasarkan penilaian.

“Penentuan direksi dilakukan sesuai dengan asessment. Jadi tidak ada di situ saya like and dislike. Tidak mungkin dong saya sejak awal bilang AHKLAk, tapi ada begitu,” kata Erick dalam Manager Forum ke-47 MNC Group bertajuk “Peran BUMN dalam Pemulihan Ekonomi Post Covid-19 & Corporate Business Update”, Kamis (25/6/2020). Manager Forum berlangsung secara virtual dengan dihadiri Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT).

AHKLAK yang dimaksud Erick yakni slogan Kementerian BUMN yang berarti Amanah, Kompetensi, Harmonis, Loyalitas, Adaftif, dan Kolaborasi. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Erick selalu menyebutkan pentingnya AKHLAK ini.

Erick menegaskan, dalam menentukan direksi, prioritas pertama yakni talent dari dalam. Hal ini antara lain telah diterapkan di Pelindo yang direksinya merupakan pejabat dari internal.

Menurut dia, sebelum menentukan direksi Kementerian BUMN juga mengecek proyeksi perusahaan. Jika ada yang telah bertahan lama, namun tidak menunjukkan kemajuan, bukan tidak mungkin figur tersebut dianggap kurang cocok sehingga harus diganti.

Mantan bos Inter Milan ini menjelaskan, masuknya figur baru dari kalangan muda dan berkompeten sesungguhnya tidak hanya di Telkom yang kemudian menjadi sorotan. Ada pula di Angkasa Pura.

Dalam paparanya, Erick juga menunjukkan sejumlah roadmap perusahaan pelat merah agar bisnis mereka menjadi lebih fokus. Di klaster farmasi dan kesehatan, misalnya, Kementerian BUMN menjadikan Kimia Farma sebagai perusahaan yang menangani sektor ritel.

Editor : Zen Teguh