Sri Mulyani: Turis Asing Rela Bayar 1.000 Dolar AS Semalam demi Tinggal di Hutan

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Kamis, 01 Agustus 2019 - 15:23 WIB
Sri Mulyani: Turis Asing Rela Bayar 1.000 Dolar AS Semalam demi Tinggal di Hutan

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melihat adanya peluang bagi Indonesia untuk menjadi objek wisata ekologi terutama hutan internasional. Pasalnya, luas hutan terbesar hanya ada di tiga tempat di dunia yaitu Indonesia, Brasil, dan Kolombia.

Menurut dia, saat ini keberadaan hutan semakin banyak diminati oleh turis kelas atas (high end). Pasalnya, mereka ingin merasakan koneksi langsung dengan alam. 

"Indonesia mestinya mampu menangkap tren ini sehingga memunculkan suatu high end tourism di mana hutan hanya ada tiga tempat di dunia Indonesia, Kolombia dan Brasil," ujarnya saat Transfer Fiskal Ekologis di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Berdasarkan laporan dari Wall Street Journal, turis asing kelas atas bersedia membayar mahal hanya untuk bisa menikmati keindahan alam. Pasalnya, hal ini tidak setiap hari bisa dinikmati di kota-kota besar.

"Bahkan 1.000 dolar AS semalam untuk hanya tinggal di sebuah hutan atau ujung sebuah gunung sendirian tanpa TV, tanpa listrik, dan mereka hanya ingin menikmati alam secara sendiri," ucapnya.

Hal ini akan menjadi peluang yang sangat besar bagi Indonesia yang memiliki hutan kurang lebih sebanyak 120,6 juta hektare atau 63 persen wilayah daratan Indonesia. Dari jumlah tersebut, 25 persen merupakan hutan lindung, 18 persen hutan konservasi, dan 57 persen hutan produksi.

Sementara, hutan lindung dan hutan konservasi yang membentang dari 43 persen wilayah Indonesia memiliki nilai potensial untuk dijadikan tempat wisata ekologi. Daripada hutan tersebut digunakan untuk industri yang justru merusak lingkungan.

"Ini menjadi choice (pilihan) yang sangat besar sehingga tidak ada tension antara hutan dipakai secara industri yang merusak dengan keinginan untuk mendapatkan penerimaan yang bisa menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat," kata dia.

Dengan demikian, pemeliharaan dan pelestarian hutan serta kegiatan ekonomi bisa dikurangi dengan alternatif-alternatif lain. Salah satunya dengan memanfaatkan hutan menjadi komoditas pariwisata yang autentik.

"Kita berharap bahwa tension mengenai opportunity pemeliharaan pelestarian hutan dan kegiatan ekonomi tidak selalu memotong hutan dan menghancurkan hutan untuk mengambil kayunya," tutur 

Editor : Ranto Rajagukguk