Terbesar di ASEAN, Investasi Digital Indonesia Masih Terkendala soal Infrastruktur

Hafid Fuad ยท Rabu, 01 Desember 2021 - 06:32:00 WIB
Terbesar di ASEAN, Investasi Digital Indonesia Masih Terkendala soal Infrastruktur
Investasi digital di Indonesia mencapai Rp60 triliun di 2020. Karena terkendala infrastruktur, investasi digital masih terpusat di Jabodetabek dan Bandung. (foto: Ilustrasi/dok. iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Investasi digital yang masuk ke Indonesia pada tahun 2020 mencapai Rp60 triliun dan menjadi yang terbesar di ASEAN. Namun, investasi tersebut sebagian masih terpusat di wilayah Jabodetabek dan Bandung karena terkendala infrastruktur.

Ketua Tim Pelaksana Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir mengatakan, secara keseluruhan market value Indonesia yang mencapai 44 miliar dolar AS dan merupakan yang terbesar di ASEAN. Namun bila dilihat ekonomi digital per kapita, Indonesia menduduki urutan keempat.

"Ini artinya, secara inklusif ekonomi digital baik per kapita mupun per daerah tidak merata. Penyebabnya infrastruktur," ujar Iskandar dalam webinar Kolaborasi Tumbuhkan Ekonomi Digital di Daerah, Selasa (30/11/2021).

Adapun data menurut Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi, provinsi DKI Jakarta menjadi yang tertinggi di angka 7,27 dibanding sejumlah wilayah lainnya. Demikian pula dengan penetrasi internet yang mencapai 73,7 persen rata-rata pengguna terkonsentrasi di Jawa.

Terkait Sumber Daya Manusia (SDM), karena kaum milenial dengan pendidikan tinggi di bidang IT lebih banyak tinggal di wilayah Jawa atau Jabodetabek, hal ini turut menyebabkan perkembangan investasi dan digital ekonomi banyak terpusat di kawasan tersebut. Maka dari itu diperlukan tim percepatan ekonomi digitalisasi di daerah.

Demi mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi digital hingga ke daerah, pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), seperti Palapa Ring. Kemudian pembangunan Base Transceiver Station (BTS), baik di daerah terpencil yang didanai dari pemerintah maupun yang bekerja sama dengan provider internet swasta.

"Berikutnya, dari sisi SDM, dimana kami terus mempercepat pengembangan digital talent yang diharapkan bisa menciptakan 9 juta talenta digital 15 tahun terakhir," ucap Iskandar.

Guna mempercepat target ini, menurutnya sudah ada sejumlah cara yang dilakukan pemerintah mulai dari membentuk program digital leadership academy, siber kreasi dan talenta digital yang nantinya akan dikembangkan dengan mitra pengembangan talenta bersama universitas terkemuka dunia dan mitra perusahaan swasta seperti Google, Oracle, Microsoft dan sebagainya.

"Ada 116 mitra kita yang terdiri dari akademisi, pekerja seni, perusahaan teknologi dan platform media sosial atau digital lainnya," kata dia.

Editor : Aditya Pratama

Bagikan Artikel: