Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Momen Purbaya Kaget KSAD Ngutang untuk Bangun Jembatan di Aceh: Saya Baru Tahu
Advertisement . Scroll to see content

Utang Pemerintah Diprediksi Tembus Rp9.645 Triliun, Ekonom Ingatkan Risiko Gagal Bayar 2026

Selasa, 13 Januari 2026 - 07:46:00 WIB
Utang Pemerintah Diprediksi Tembus Rp9.645 Triliun, Ekonom Ingatkan Risiko Gagal Bayar 2026
Ilustrasi risiko gagal bayar utang pemerintah di 2026.. (Foto: Ilustasi/Okezone)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id Ekonom senior dari Bright Institute, Awalil Rizky memberikan peringatan keras terkait kondisi kesehatan fiskal Indonesia di awal tahun 2026. Ia mengatakan ada risiko gagal bayar yang mengintai.

Berdasarkan analisis data realisasi sementara APBN 2025, Awalil memproyeksikan posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025 telah mencapai Rp9.645 triliun, dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 40,52 persen.

"Narasi pemerintah yang selalu mengatakan kondisi utangnya aman, sejauh ini hanya berdasar rasio atas PDB. Berbagai indikator kerentanan utang yang lazim dipakai menganalisis kondisi seolah tidak diperlukan lagi untuk memastikannya," kata Awalil dalam catatan analisisnya, dikutip Selasa (13/1/2026).

Salah satu indikator yang paling mengkhawatirkan menurut Awalil adalah nilai Keseimbangan Primer (KP) yang tercatat defisit atau minus Rp180,7 triliun. Kondisi ini menandakan bahwa pendapatan negara bahkan tidak cukup untuk membiayai belanja di luar pembayaran bunga utang.

Dampaknya, pemerintah terpaksa menarik utang baru hanya untuk membayar bunga dari utang lama. Awalil memprakirakan penarikan utang baru (bruto) sepanjang 2025 sebenarnya mencapai Rp1.563 triliun, jauh di atas angka pembiayaan neto yang sering dipublikasikan.

"Jika KP bernilai minus artinya sudah tidak tersedia dana untuk membayar bunga utang. Sebagian atau seluruh bunga utang dibayar dengan penambahan utang baru," tegasnya.

Analisis Bright Institute menunjukkan bahwa rasio utang terhadap pendapatan negara per akhir 2025 mencapai 349,96 persen. Angka ini jauh melampaui batas praktik terbaik yang direkomendasikan International Monetary Fund (IMF), yakni di kisaran 90 hingga 150 persen.

Selain itu, rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara tahun 2025 diprediksi mencapai 18,65 persen, jauh di atas standar IMF yang berada di level 7 hingga 10 persen. Kondisi ini mempersempit ruang gerak pemerintah untuk membiayai belanja pembangunan karena porsi pendapatan yang tersedot untuk kewajiban utang semakin besar.

Adapun Awalil juga memberikan peringatan mengenai potensi gangguan pada kesinambungan fiskal jangka menengah dan panjang. Ia menyebut ada risiko nyata yang membayangi operasional keuangan negara pada tahun berjalan ini.

"Kondisi utang pemerintah cukup mengkhawatirkan. Tidak tertutup kemungkinan, Pemerintah alami gagal sebagian kewajiban utang, terutama bunganya, pada tahun 2026. Sekurangnya, kesinambungan fiskal jangka menengah dan panjang telah terancam," pungkasnya.

Sementara itu, hingga saat ini Kementerian Keuangan belum merilis angka resmi posisi utang per akhir 2025 dan menyatakan baru akan membukanya pada Februari mendatang setelah rilis data PDB oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut