Ketoprak Arya Penangsang

Berebut Tahta, Anggota DPR dan Tokoh Perbankan sampai Berlumuran Darah

Siska Permata Sari · Rabu, 31 Januari 2018 - 13:14 WIB
Berebut Tahta, Anggota DPR dan Tokoh Perbankan sampai Berlumuran Darah

Ilustrasi ketoprak. (Foto: Sindo)

JAKARTA, iNews.id – Banyak orang sampai gelap mata, bahkan terhadap saudaranya sendiri demi mendapatkan tahta. Inilah sepenggal kisah dari ketoprak berjudul “Arya Penangsang” yang melibatkan sekitar 50 tokoh penting di Indonesia.

Lakon “Arya Penangsang” ini digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Rabu 31 Januari 2018, mulai pukul 19.00 sampai 22.00 WIB. Pementasan kali ini diproduksi #Paragraf Satu Production dan disutradari seniman senior Aris Mukadi.

Beberapa praktisi dan regulator keuangan dan perbankan yang ikut terlibat dalam pergelaran ini, antara lain Destry Damayanti (LPS), Anto Prabowo (OJK), Ahmad Fajar (J-trust Bank), Kusumaningtuti S Soetiono (mantan DK OJK), Benny Purnomo (MNC Bank), Diding S. Anwar (Kadin), Nicolaus Prawiro (Capro), Lisawati (Bank Jasa Jakarta), Sussie Meilina (MNC Securitas), Frans Rundengan (Andalan Finance), Ilya Avianti (PLN), Handayani (BRI), Muhammad Adil (Bank Sumsel Babel), dan Lies Permana Lestari (Sarinah). Lalu, ada Suwandi (APPI), Juanita Luthan (Securinvest), Susanti (ATM Prima), Nini Sumohandoyo (Prudential), Anggar B Nuraini (OJK), Rita Mirasari (Danamon), Vera Liem (BCA), Fajar Nugroho (BKraf), Danny Hartono (Bank Mas), serta Dumasi Samosir (Asuransi Sinar Mas).

Direktur Utama Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmodjo rencananya main sebagai Sultan Bonang, Kresno Sediarsi (Dirut Bank DKI), Bob T Ananta (BNI) sebagai Arya Penangsang, M Eddy Purnawan (BSBI) dan Evi Afiatin sebagai Ratu Kaliyamat (BPJS Ketenagakerjaan). Kemudian M Ikhsan (OJK) akan menjadi Hadiwijaya.

Kalangan anggota DPR RI, ada Andreas Soesatyo dan Indah Kurnia. Lalu kalangan ekonom, ada Aviliani (ISEI), Bustanul Arifin (Indef), Nimmi Zulbainarni (ISEI), Ina Primiana (ISEI), Komang Savytri (ISEI), serta Arif Budimanta (KEIN)

Sementara dari kalangan media massa, ada wartawan senior Kompas Ninok Leksono, Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Hery Trianto, Direktur Utama Koran Sindo Sururi Alfaruq, Aprevyta selaku Pemimpin Redaksi GTV, Pemimpin Redaksi Tempo Budi Setyarso, Wapremred Infobank Karnoto Mohamad, dan beberapa senior editor seperti Titis Nurdiana (Kontan), Joice (Kompas), Tommy Aryanto (Tempo), serta Lahyanto Nadie (Bisnis Indonesia) dan Darto (InfoBank).

Selain mereka, pergelaran ketoprak kali ini juga menghadirkan bintang tamu para pemain Srimulat, termasuk dari Perhimpunan Seniman Wayang Orang dan Ketoprak “Adhi Budaya”.

“Acara ini dipersembahkan sebagai bentuk kecintaan para sahabat di lingkungan masyarakat keuangan, perbankan, BUMN, serta kalangan media terhadap kesenian tradisi budaya Indonesia, yaitu ketoprak,” tutur Eko B Supriyanto, Produser Eksekutif Pagelaran Ketoprak “Arya Penangsang” dalam rilis yang diterima redaksi iNews.id, Rabu (31/1/2018).

Eko sangat mengapresiasi para pemain yang terlibat, di tengah kesibukan sebagai profesional, mereka masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian kesenian tradisional Indonesia.

“Untuk itu, kami memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada beliau-beliau yang berkenan meluangkan waktu, serta memberikan dukungan atas terselenggaranya pergelaran ini. Semoga pergelaran ini dapat menyalakan lilin bagi kebudayaan tradisi yang sudah lama redup,” jelas Eko B Supriyanto sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Infobank itu.

Kegigihan para seniman tradisional, seperti Aris Mukadi dan para seniman dari Yayasan Adhi Budaya untuk melestarikan seni tradisi, menurut Eko, sudah seharusnya dihargai dan diberi kesempatan untuk terus berlanjut bisa mengadakan pentas di banyak tempat. Maka itu, sebagai bentuk kepedulian, hasil dari pementasan tersebut akan disumbangkan untuk pengembangan kesenian tradisi ketoprak Yayasan Adhi Budaya.

“Untuk itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para sponsor, donatur, dan semua pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini,” ujar Eko.

Acara ini memang sangat istimewa, karena berbarengan dengan kejadian alam gerhana bulan.

“Semoga kisah Arya Penangsang ini bisa memberikan pelajaran berharga bagi kita. Semoga di tahun politik yang sedang sibuk Pilkada, kisah Arya Penangsang tidak sampai terulang lagi di negeri tercinta ini,” ucap Eko.

Perebutan Tahta

Ketoprak yang mengambil lakon “Arya Penangsang”, memang menarik untuk ditonton. Pergelaran ini menceritakan tentang sejarah perebutan tahta Kerajaan Demak pada pertengahan abad-15 yang berlumuran darah.

Bermula dari dibunuhnya Raja Demak ke-2, Pangeran Surowiyoto atau Pangeran Sekar oleh Sunan Prawoto, anak Pangeran Trenggono. Trenggono yang masih bersaudara dengan Pangeran Sekar karena sama-sama anak pendiri Kerajaan Demak, Raden Patah itu, kemudian naik tahta menjadi Raja Demak ke-3 tahun 1521.

Setelah berkuasa selama 25 tahun, Trenggono wafat pada 1546 dan digantikan oleh Sunan Prawoto sebagai Raja Demak ke-4. Di sinilah muncul Arya Penangsang, anak dari Pangeran Sekar.

Saat itu, Penangsang disebut juga Arya Jipang atau Ji Pang Kang adalah raja di Kadipaten Jipang (Cepu). Penangsang yang menyimpang dendam atas terbunuhnya sang ayah oleh Sunan Prawoto menuntut balas.
   
Arya Penangsang mengutus orang kepercayaannya, Rangkud, untuk membunuh Sunan Prawoto dengan dibekali Keris Kyai Setan Kober. Keris yang menjadi penyebab tewasnya beberapa raja Demak itu, akhirnya juga mengakhiri kepemimpinan Sunan Prawoto di Demak. Penangsang pun naik tahta sebagai Raja Demak ke-5 tahun 1549.

Arya Penangsang hanya lima tahun menjadi Raja Demak. Ambisinya yang besar untuk mengalahkan Raja Pajang Hadiwijaya, justru berbalik arah. Dia tewas terbunuh secara mengenaskan oleh pasukan Hadiwijaya pada 1554.

“Hikmahnya, semoga dendam politik tidak terus terjadi di Indonesia demi kekuasaan. Sudah waktunya ekonomi menjadi panglima, bukan politik yang terus mendendam,” kata Eko B Supriyanto.

Editor : Tuty Ocktaviany