Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Debut Akting di Film Garapan Tumpal Tampubolon, Azka Corbuzier: Luar Biasa!
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Cinta Tante Sonya Penuh Drama, Angkat Stigma Perempuan di Usia Matang  

Senin, 05 Oktober 2026 - 15:29:00 WIB
Kisah Cinta Tante Sonya Penuh Drama, Angkat Stigma Perempuan di Usia Matang  
Tante Sonya hadirkan drama perempuan usia matang. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Jatuh cinta tidak selalu datang pada usia yang dianggap ideal. Bagi perempuan yang memasuki usia 40-an, perasaan tersebut bahkan bisa hadir bersama berbagai pertanyaan, stigma, hingga keraguan untuk kembali membuka hati.

Gambaran tersebut diangkat dalam serial 'Tante Sonya' yang menghadirkan kisah seorang perempuan berusia 42 tahun dalam menghadapi kehidupan percintaan setelah melewati pengalaman pahit.

Karakter Sonya yang diperankan Raihaanun digambarkan sebagai perempuan yang memilih fokus membangun kehidupan dan karier setelah mengalami pengkhianatan menjelang pernikahan.

Pengalaman tersebut membuat Sonya lebih berhati-hati dalam urusan asmara. Dia tidak mudah percaya dan memilih menjaga jarak dari hubungan romantis.

Hingga kemudian Sonya bertemu dengan Ben, karakter yang diperankan Maxime Bouttier. Pertemuan tersebut perlahan membuat perasaan yang selama ini dia pendam kembali muncul.

Persoalan semakin kompleks karena Ben berusia 14 tahun lebih muda dari Sonya. Perbedaan usia tersebut membuat Sonya tidak hanya harus menghadapi perasaannya sendiri, tetapi juga berbagai pertimbangan mengenai hubungan yang akan dijalani.

"Sonya tahu dirinya punya perasaan kepada Ben, tetapi menerima perasaan itu tidak mudah. Dia pernah dikhianati dan kini berhadapan dengan laki-laki yang usianya 14 tahun lebih muda," ujar sutradara Tante Sonya, Surya Ardy Octaviand, dalam keterangannya.

Menurut Surya, konflik yang dialami Sonya tidak berhenti pada persoalan cinta dan perbedaan usia. Pengalaman masa lalu membuat Sonya mempertanyakan kembali apakah dirinya siap mempercayai seseorang.

"Jadi, konflik Sonya bukan soal cinta saja. Dia juga mempertanyakan apakah hubungan ini aman untuk dijalani dan apakah dirinya siap mengambil risiko sekali lagi," katanya.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa menjalin hubungan di usia matang bisa memiliki tantangan yang berbeda. Seseorang mungkin sudah memiliki pengalaman hidup, karier, dan prinsip yang lebih kuat, tetapi pengalaman buruk juga dapat membuat proses membuka hati menjadi lebih sulit.

Di sisi lain, perempuan yang memilih pasangan lebih muda masih kerap berhadapan dengan pandangan sosial. Usia seolah menjadi salah satu ukuran dalam menentukan apakah sebuah hubungan dianggap ideal.

Padahal, tekanan mengenai usia dan status pernikahan bukan sekadar persoalan komentar dari lingkungan sekitar. Penelitian yang dipublikasikan dalam *Persona: Jurnal Psikologi Indonesia* terhadap 196 perempuan lajang berusia 25-55 tahun menemukan adanya kaitan antara stereotip negatif terhadap perempuan lajang dengan kesejahteraan psikologis.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa ketakutan menjadi lajang dapat memperkuat dampak stereotip tersebut.

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana pertanyaan mengenai kapan menikah, anggapan terlalu pemilih, hingga penilaian terhadap pilihan pasangan dapat menjadi tekanan emosional bagi perempuan.

Persoalan mengenai perempuan usia 40-an yang kembali menemukan cinta pun dinilai masih jarang diceritakan dari sudut pandang perempuan itu sendiri.

"Cerita cinta perempuan usia 40-an masih jarang diceritakan dari sudut pandang perempuannya sendiri. Pembahasannya sering langsung tertuju pada status pernikahan atau usia pasangan," kata Country Head WeTV Indonesia, Febriamy Hutapea.

Dalam Tante Sonya, hubungan Sonya dan Ben kemudian berkembang bukan hanya sebagai kisah tentang perbedaan usia. Keduanya juga harus membangun rasa percaya di tengah luka masa lalu dan keraguan yang dimiliki Sonya.

Ben perlu menunjukkan bahwa perasaannya bukan sekadar kekaguman sesaat. Sementara Sonya harus menghadapi ketakutannya sendiri setelah pernah dikhianati oleh orang yang hendak dinikahinya.

Kisah tersebut sekaligus membawa pesan bahwa cinta tidak harus hadir mengikuti jadwal yang ditentukan masyarakat. Perempuan yang memasuki usia matang tetap memiliki ruang untuk menemukan pasangan, jatuh cinta, maupun memulai kembali sebuah hubungan.

Pada akhirnya, persoalan terpenting bukan berapa usia seseorang ketika jatuh cinta atau seberapa jauh perbedaan usia dengan pasangannya, melainkan kesiapan untuk menjalani hubungan tersebut dengan kesadaran dan pilihan sendiri.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut