Pinjol dan Judol Jadi Cerita Pay Later 2, Ternyata Ini Alasan di Baliknya
JAKARTA, iNews.id - Pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) bukan lagi sekadar persoalan keuangan yang dialami seseorang. Ketika seseorang terjerat dua masalah tersebut, keluarga hingga orang-orang terdekat bisa ikut menanggung dampaknya. Persoalan inilah yang diangkat dalam original series Pay Later 2.
Lewat musim terbarunya, VISION+ mencoba membawa isu yang masih dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia ke dalam sebuah cerita fiksi. Tidak hanya membahas utang dan masalah finansial, serial ini juga memperlihatkan bagaimana keputusan seseorang bisa mengubah kehidupan keluarganya.
Deputy CEO VISION+ sekaligus CEO V+Short, Clarissa Tanoesoedibjo, mengatakan Pay Later 2 memiliki fokus cerita berbeda dibandingkan musim pertama. Jika sebelumnya persoalan berawal dari kecanduan belanja online yang membuat karakter utama terjerat pinjaman online, kali ini masalah justru datang dari anggota keluarganya sendiri.
Dalam cerita tersebut, adik karakter Amanda Manopo yang diperankan Fajar Sadboy terjerat pinjol dan judi online. Kondisi itu membuat Amanda kembali harus mengambil tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga demi membantu melunasi utang sang adik.
“Di season kedua ini, kita fokusnya lebih kepada pinjol dan judol. Adiknya dia yang diperankan Mas Fajar Sadboy, dia terjerat pinjol. Nah, Amandanya ini sebagai tulang punggung keluarga, dia harus membantu keluarganya untuk bisa melunaskan utangnya,” ujar Clarissa saat konferensi pers Pay Later 2, Senin (2/11/2026).
Masalah finansial yang dihadapi keluarga tersebut turut mengubah arah kehidupan karakter Amanda. Keinginannya untuk kembali membangun karier sebagai selebgram harus tertunda karena keadaan memaksanya kembali bekerja di kantor sebagai tenaga marketing.
Menurut Clarissa, pinjol dan judol sengaja dipilih karena keduanya merupakan persoalan yang masih menjadi perhatian di tengah masyarakat. Isu tersebut dinilai cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga relevan untuk diangkat menjadi sebuah cerita.
“Ini adalah sebuah isu yang bisa dibilang lumayan heavy dan lumayan relatable dalam sehari-hari, karena kita juga melihat data, pinjaman-pinjaman online dan judi online ini juga menjadi salah satu isu yang kita hadapi di kalangan masyarakat Indonesia secara nasional,” jelasnya.
Namun, Paylater 2 tidak hanya ingin memperlihatkan bagaimana seseorang bisa terjebak dalam masalah pinjaman online maupun judi online. Serial ini juga menyoroti konsekuensi yang harus dihadapi orang-orang di sekitarnya.
Clarissa menjelaskan, persoalan finansial seperti ini memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada yang terlihat. Beban utang seseorang bisa merembet ke kehidupan rumah tangga dan memengaruhi kondisi anggota keluarga lainnya.
“Jadi kami melihat bahwa ini dampaknya tuh secara finansial sangat besar dan bukan kepada diri sendiri, tapi kepada orang-orang di sekitarnya juga, kepada keluarga, kepada suami-istri, dan juga kepada anak-anak,” tuturnya.
Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam kampanye Pay Later 2 bertajuk “Sekali Coba, Semuanya Kena”. Melalui kisah Amanda dan keluarganya, penonton diajak melihat bahwa keputusan finansial yang tampak personal ternyata bisa membawa konsekuensi bagi banyak orang.
Persoalan pinjol dan judol pun tidak hanya dihadirkan melalui konflik keluarga. Dinamika pertemanan dan kehidupan di lingkungan kerja turut menjadi bagian dari cerita, sehingga dampak masalah finansial tersebut terlihat dari berbagai sisi hubungan antarmanusia.
Dengan memadukan komedi, drama keluarga, dan dinamika pertemanan, Pay Later 2 mencoba mengangkat isu yang berat melalui pendekatan cerita yang lebih ringan. Pada akhirnya, serial ini membawa satu gambaran bahwa ketika seseorang terjerat masalah keuangan, orang-orang terdekatnya belum tentu bisa terhindar dari dampaknya.
Editor: Muhammad Sukardi