Vision+ Angkat POTE, Hantu dari Bawean Jawa Timur yang Tak Sekadar Menampakkan Diri
JAKARTA, iNews.id - Vision+ mengangkat kisah POTE, sosok misterius yang dikenal dalam cerita masyarakat Pulau Bawean, Jawa Timur, menjadi serial orisinal terbaru. Berbeda dari kisah horor yang hanya mengandalkan kemunculan sosok menyeramkan, POTE menghadirkan teror yang berlanjut setelah seseorang bertemu dengan makhluk tersebut.
Deputy CEO Vision+, Clarissa Tanoesoedibjo, mengatakan POTE menarik untuk diangkat karena cerita mengenai sosok tersebut belum banyak diketahui masyarakat.
Menurut Clarissa, POTE atau "orang pote" merujuk pada sosok dengan ciri khas wajah putih. Namun, karakter tersebut memiliki keunikan karena kemunculannya dipercaya diikuti oleh berbagai kejadian lain.
"Yang membedakan si hantu ini atau makhluk ini dengan hantu-hantu yang lain, jadi: what is coming after you encounter the ghost. Jadi bukan hanya penampakan, tapi dampak setelah penampakan itu," ujar Clarissa Tanoesoedibjo saat press conference series POTE, Sabtu (19/9/2026).
Dia menjelaskan, POTE dalam serial tersebut bukan sekadar sosok yang muncul untuk menakut-nakuti karakter. Kehadirannya menjadi semacam omen atau pertanda yang kemudian memicu kejadian lain.
"Siapa yang berhadapan dengan dia itu bakal dihantui lah atau bahkan menjadi korban berikutnya. Jadi itu adalah premis dari seluruh ceritanya," kata Clarissa.
Premis tersebut menjadi salah satu fondasi cerita POTE yang dikembangkan dalam delapan episode. Pada episode pertama, penonton diperkenalkan dengan sebuah tim medis yang datang ke sebuah pulau untuk membantu masyarakat setempat.
Namun, misi tersebut berubah ketika tim medis justru harus berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri.
"Sekilas ceritanya, tadi memang sebuah tim medis datang ke pulau. Mereka berusaha untuk membantu rakyat di sana, tapi the plot twist is they have to save themselves, right, in the end," ujar Clarissa.
Menurut Clarissa, POTE tidak hanya mengandalkan unsur horor. Di tengah misteri dan teror, serial tersebut juga menghadirkan dinamika hubungan antarkarakter, mulai dari keluarga, persahabatan hingga percintaan.
Cerita juga mempertemukan dua latar berbeda, yakni tim medis yang datang dari kota dengan masyarakat yang tinggal di desa.
"Walaupun genrenya horor tapi kan ada tema keluarga, friendship. Dan di sini tuh yang membuat menarik tuh, ini saya nggak mau terlalu banyak spoiler ya, tapi ada dinamika di dalam tim medis itu sendiri antara pertemanan itu dan juga kan ada percintaan juga di dalam sana," kata Clarissa.
"Juga ada hubungan dan gesekan antara medis yang datang dari kota dan juga penduduk yang ada di desa," lanjutnya.
Dengan demikian, sosok POTE bukan menjadi satu-satunya sumber konflik dalam cerita. Kejadian-kejadian yang berlangsung setelah kemunculan Pote justru menjadi bagian penting yang membuat alur cerita terus bergerak.
"Jadi sebenarnya yang membuat ceritanya sangat menarik karena bukan hanya Pote-nya sebagai wujud, tapi event yang terus berjalan setelah wujud Pote ini ada di cerita," ujar Clarissa.
Pemilihan Pote sebagai materi serial juga tidak lepas dari keinginan Vision+ mengangkat cerita rakyat dan budaya yang belum banyak terekspos.
Dalam pengembangan serial ini, tim Vision+ turut menggali lore atau latar cerita Pote, termasuk asal-usul, hal-hal yang dipercaya boleh dan tidak boleh dilakukan, hingga alasan sosok tersebut dipercaya meneror.
Pote kemudian ditempatkan sebagai bagian dari budaya dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat Indonesia, lalu dikemas dalam bentuk serial horor.
Clarissa mengatakan Vision+ memang ingin menghadirkan genre horor dan misterius karena menurutnya genre tersebut memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia.
"Kita merasa bahwa ini cukup unik untuk kita kulik lagi sebagai serial," ujar Clarissa.
Dia berharap POTE tidak hanya menghibur penonton, tetapi juga membuat cerita mengenai Pote dan asal-usulnya semakin dikenal masyarakat.
"Harapannya supaya bisa menghibur terutama, karena kita melihat ini belum pernah diangkat sebelumnya," kata Clarissa.
Editor: Dani M Dahwilani