7 Tips Berhenti Merokok agar Tak Gagal Lagi, Dokter: Tak Cukup Modal Niat
JAKARTA, iNews.id - Berhenti merokok menjadi tantangan besar bagi banyak orang. Meski sudah memiliki niat kuat, tidak sedikit yang akhirnya kembali merokok karena tidak mampu menahan keinginan atau craving.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Mario Johan, menjelaskan kegagalan berhenti merokok bukan selalu disebabkan lemahnya tekad. Menurut dia, otak telah membentuk pola kebiasaan yang membuat seseorang secara otomatis ingin merokok saat berada dalam situasi tertentu, seperti setelah makan, minum kopi, atau ketika stres.
"Ini ya guys, kalau lu berkali-kali gagal berhenti merokok itu bukan selalu karena lu lemah. Masalahnya otak kamu itu udah bikin pola. Habis makan, merokok, lagi stres merokok, minum kopi merokok. Jadi pas stop, itu muncul yang namanya craving secara otomatis," kata dr. Mario, dikutip Minggu (2/8/2026).
Agar peluang berhasil berhenti merokok lebih besar, berikut beberapa tips yang dibagikan dr Mario.
1. Pahami bahwa craving adalah hal yang normal
Keinginan merokok setelah berhenti merupakan respons alami akibat pola yang sudah terbentuk di otak. Memahami hal ini dapat membantu seseorang tidak langsung menyerah ketika keinginan merokok muncul.
2. Jangan hanya mengandalkan niat
Menurut dr Mario, berhenti merokok membutuhkan strategi yang tepat. Mengandalkan tekad semata sering kali tidak cukup untuk melawan ketergantungan nikotin.
3. Gunakan Nicotine Replacement Therapy (NRT)
Terapi pengganti nikotin atau Nicotine Replacement Therapy (NRT) menjadi salah satu metode medis yang direkomendasikan untuk membantu mengurangi gejala putus nikotin (withdrawal).
"Ini by data ya, salah satu lini pertama yang bisa dipakai itu namanya ini: NRT atau Nicotine Replacement Therapy. Ini tuh salah satu contoh untuk kontrol ketergantungan sama nikotin dan bantu kurangin tanda-tanda withdrawal," ujarnya.
4. Konsultasikan dengan tenaga medis
Dr. Mario mengatakan peluang keberhasilan berhenti merokok dapat meningkat hingga lima kali lipat jika penggunaan NRT dibarengi konsultasi dengan dokter.
"Nah, kalau NRT plus niat plus konsultasi, itu bisa sampai lima kali lebih tinggi. Jadi idealnya itu jangan jalan sendiri. Bisa mulai dari konsul ke dokter dulu, kayak spesialis paru, penyakit dalam, bisa juga ke kedokteran jiwa, atau cari yang namanya klinik UBM, Usaha Berhenti Merokok. Di puskesmas itu setahu gue ada juga," katanya.
5. Kenali pemicu keinginan merokok
Setiap orang memiliki pemicu berbeda, seperti setelah makan, saat minum kopi, atau ketika mengalami stres. Mengenali pemicu dapat membantu menyusun strategi untuk menghindarinya.
6. Gunakan NRT sesuai petunjuk
NRT dalam bentuk permen karet nikotin tidak dikonsumsi seperti permen biasa. Produk tersebut perlu dikunyah perlahan, didiamkan sejenak di dalam mulut, lalu dikunyah kembali agar nikotin dapat terserap secara optimal.
7. Bangun sistem pendukung
Selain niat, dukungan keluarga, teman, dan tenaga kesehatan sangat penting agar proses berhenti merokok tidak dijalani sendirian. Dengan strategi yang tepat dan pendampingan medis, peluang untuk lepas dari ketergantungan nikotin menjadi lebih besar.
Di akhir penjelasannya, dr. Mario menegaskan bahwa berhenti merokok membutuhkan sistem yang terencana, bukan sekadar kemauan sesaat.
"Berhenti merokok itu memang susah, tapi jangan cuma modal niat. Harus pakai yang namanya sistem," ujarnya.
Editor: Dani M Dahwilani