Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Diduga Epilepsi Kambuh, Pemuda Berbah Sleman Ditemukan Tewas di Sungai Mruwe
Advertisement . Scroll to see content

Apa Benar Epilepsi Menular? Ini Penjelasan Dokter

Rabu, 21 Januari 2026 - 13:49:00 WIB
Apa Benar Epilepsi Menular? Ini Penjelasan Dokter
Ilustrasi epilepsi. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Penyakit epilepsi masih kerap disalahpahami masyarakat. Beberapa orang menganggap penyakit ini menular, seperti flu dan batuk. Apakah benar epilepsi menular? 

Epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf yang dapat dikontrol dengan penanganan yang tepat. Secara lebih jauh, epilepsi dapat terjadi akibat adanya gangguan aktivitas listrik di otak. 

"Otak manusia bekerja menggunakan sinyal listrik. Nah, pada penderita epilepsi, terjadi lonjakan sinyal listrik yang tidak normal dan berulang, sehingga memicu kejang atau bahkan gangguan kesadaran," ungkap Dokter Spesialis Bedah Saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong dr Wienorman Gunawan, Sp.BS, dalam keterangan resminya, Rabu (21/1/2026). 

Menjadi pertanyaan sejarang, apakah epilepsi menular? 

Epilepsi Tidak Menular! 

Dokter Wienorman menegaskan bahwa epilepsi bukan penyakit menular. Epilepsi bukan penyakit yang disebabkan oleh infeksi yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. 

"Epilepsi juga bukan gangguan kejiwaan. Ini adalah kondisi medis yang berhubungan langsung dengan fungsi otak," terang dr Wienorman. 

"Sederhananya, epilepsi bukan soal mistis, tapi soal navigasi listrik di kepala manusia," tambahnya. 

Seseorang bisa mengalami epilepsi, karena berbagai faktor. Bisa karena riwayat cedera kepala, gangguan bawaan, infeksi otak, stroke, tumor otak, atau gangguan struktur otak lainnya. 

Namun, kata dr Wienorman, pada sebagian pasien, epilepsi tidak selalu dapat ditemukan secara pasti penyebabnya. 

Gejala Epilepsi

Tidak semua epilepsi ditandai dengan kejang hebat. Pada beberapa orang, epilepsi dapat muncul sebagai tatapan kosong tiba-tiba, melamun sesaat, gerakan kecil berulang, atau juga kehilangan kesadaran singkat. 

"Karena gejalanya beragam, epilepsi sering kali tidak disadari sejak awal. Jika muncul episode 'blank' yang sering atau kejang tanpa demam, jangan abaikan itu. Itu adalah cara otak memberi sinyal bahwa ada yang perlu diperiksa," ujar dr Wienorman.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut