Apa Itu Stevia dan Benarkah Lebih Sehat dari Gula Putih?
JAKARTA, iNews.id – Stevia belakangan semakin populer sebagai alternatif pengganti gula putih. Pemanis yang berasal dari tanaman ini banyak dipilih masyarakat, terutama mereka yang ingin mengurangi asupan gula, menjaga berat badan, hingga mengontrol konsumsi kalori harian.
Popularitas stevia kembali menjadi perhatian setelah muncul polemik produk pemanis stevia lokal yang diduga mengandung bahan pemanis buatan. Persoalan tersebut membuat masyarakat mulai mempertanyakan apa sebenarnya stevia dan bagaimana membedakannya dengan jenis pemanis lainnya.
Stevia merupakan tanaman bernama ilmiah Stevia rebaudiana Bertoni yang berasal dari Amerika Selatan. Bagian daunnya mengandung senyawa alami bernama glikosida steviol yang memberikan rasa manis.
Mengutip informasi Kementerian Kesehatan melalui Direktori Informasi Kimia Indonesia, glikosida steviol memiliki tingkat kemanisan sekitar 100 hingga 300 kali dibandingkan sukrosa atau gula pasir. Karena tingkat kemanisannya tinggi, penggunaan stevia dalam jumlah kecil sudah dapat memberikan rasa manis pada makanan maupun minuman.
Berbeda dengan gula putih yang mengandung kalori, ekstrak glikosida steviol yang telah dimurnikan memberikan rasa manis tanpa kontribusi kalori yang berarti. Inilah salah satu alasan stevia banyak digunakan sebagai alternatif pemanis dalam produk rendah kalori.
Selain itu, stevia tidak memberikan tambahan gula seperti sukrosa. Karakteristik tersebut membuatnya menarik bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi gula dalam kehidupan sehari-hari.
Stevia memang memiliki keunggulan dari sisi kandungan kalori. Namun, bukan berarti penggunaannya dapat menggantikan seluruh prinsip pola makan sehat. Kualitas makanan secara keseluruhan, jumlah asupan, dan kebiasaan mengonsumsi makanan manis tetap perlu diperhatikan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan pemanis non-gula sebagai strategi utama untuk menurunkan berat badan atau mencegah penyakit tidak menular.
Dalam pedoman yang diterbitkan pada 15 Mei 2023, WHO merekomendasikan agar pemanis non-gula tidak digunakan sebagai cara utama mengontrol berat badan. Rekomendasi tersebut mencakup pemanis sintetis maupun pemanis alami tanpa gula, termasuk stevia dan turunannya.
WHO menjelaskan, hasil tinjauan bukti ilmiah belum menunjukkan manfaat jangka panjang penggunaan pemanis non-gula dalam mengurangi lemak tubuh. Meski demikian, rekomendasi tersebut bersifat kondisional dan bukan penilaian bahwa seluruh pemanis non-gula beracun atau berbahaya.
Hal lain yang perlu diketahui, tidak semua produk berlabel stevia otomatis hanya mengandung ekstrak tanaman stevia. Produk pemanis komersial dapat menggunakan campuran beberapa bahan untuk menghasilkan tekstur, volume, dan tingkat kemanisan tertentu.
Karena itu, konsumen perlu membaca daftar komposisi pada kemasan sebelum membeli. Perhatikan apakah produk menggunakan glikosida steviol sebagai pemanis utama atau dikombinasikan dengan bahan lain.
Dalam pengolahan pangan, glikosida steviol yang digunakan sebagai pemanis juga memiliki standar kemurnian dan ketentuan penggunaan. Kementerian Kesehatan mencatat glikosida steviol yang berasal dari ekstrak daun Stevia rebaudiana Bertoni sebagai bahan tambahan pangan dengan kode INS 960a.
Dengan demikian, stevia memang dapat menjadi pilihan untuk mengurangi asupan gula dan kalori. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada jenis produk, komposisi, jumlah konsumsi, serta pola makan secara keseluruhan.
Editor: Muhammad Sukardi