Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Setengah Juta Kasus Kanker Tiroid Dunia Ada di Asia, Wamenkes Ingatkan Bahaya Benjolan di Leher
Advertisement . Scroll to see content

Benjolan Tiroid pada Pria Lebih Berisiko Jadi Kanker, Cek Faktanya

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:20:00 WIB
Benjolan Tiroid pada Pria Lebih Berisiko Jadi Kanker, Cek Faktanya
Laki-laki memiliki risiko keganasan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan apabila ditemukan benjolan pada area tiroid. (Foto:
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan laki-laki memiliki risiko keganasan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan apabila ditemukan benjolan pada area tiroid.

Pernyataan tersebut disampaikan Dante dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya. Dia menjelaskan, meski secara statistik jumlah kasus kanker tiroid lebih banyak ditemukan pada perempuan, laki-laki yang memiliki benjolan tiroid justru berpotensi lebih besar mengalami keganasan.

"Kalau laki-laki ada benjolan, laki-laki lebih banyak terkena kanker dibandingkan dengan populasi wanita. Dari 820.000 angka keganasan kanker tiroid yang ada di seluruh dunia, setengah jutanya ada di populasi Asia," kata Dante, dikutip Rabu (17/6/2026).

Dante menjelaskan, prevalensi nodul atau benjolan tiroid sebenarnya cukup tinggi di masyarakat. Berdasarkan data yang dia paparkan, sekitar 60 persen populasi berpotensi memiliki nodul tiroid apabila dilakukan pemeriksaan menggunakan ultrasonografi (USG).

"60% dari populasi kalau di-USG ada nodul tiroid. Jadi kalau di sini, sekarang ini ada 200 orang, 60% dari 200 orang itu di antara kita, itu ada nodul tiroidnya," ujarnya.

Meski angka temuan nodul tiroid tergolong tinggi, masyarakat diminta tidak panik. Sebab, hanya sebagian kecil dari nodul tersebut yang berkembang menjadi kanker.

Menurut Dante, dari seluruh kasus nodul tiroid yang ditemukan, hanya sekitar 1 hingga 5 persen yang mengalami keganasan. Artinya, mayoritas benjolan tiroid bersifat jinak dan tidak berkembang menjadi kanker.

Lebih lanjut, Dante menegaskan pemerintah tidak merekomendasikan skrining kanker tiroid secara massal pada masyarakat yang tidak memiliki gejala. Kebijakan tersebut diterapkan untuk menghindari risiko overdiagnosis dan tindakan medis yang tidak diperlukan.

Dia menjelaskan, skrining yang dilakukan tanpa indikasi dapat memicu overtreatment, meningkatkan risiko komplikasi akibat tindakan medis, hingga membebani sistem layanan kesehatan dengan biaya yang lebih besar.

"Kanker tiroid hanya didiagnosis pada dua populasi, yakni populasi yang mempunyai risiko tinggi dan populasi yang mempunyai simptom," katanya.

Karena itu, pemeriksaan kanker tiroid lebih difokuskan pada kelompok yang memiliki faktor risiko tertentu atau mereka yang sudah menunjukkan gejala klinis. Langkah tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan melakukan skrining secara luas pada populasi tanpa keluhan.

Dante juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada apabila menemukan benjolan di area leher, terutama pada laki-laki. Konsultasi dengan tenaga medis diperlukan untuk memastikan kondisi tersebut dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.

Meski kanker tiroid lebih sering ditemukan pada perempuan secara jumlah kasus, pemahaman mengenai faktor risiko tetap penting. Laki-laki yang mengalami benjolan tiroid diketahui memiliki kemungkinan keganasan yang lebih tinggi sehingga membutuhkan perhatian dan evaluasi medis yang tepat sejak dini.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut