Bibir Anak Merah Usai Makan Buah, Jangan Langsung Dibilang Alergi
JAKARTA, iNews.id - Area sekitar bibir anak mendadak kemerahan setelah makan buah kerap membuat orang tua panik. Kondisi tersebut sering kali langsung dianggap sebagai tanda alergi buah, padahal kemerahan di sekitar mulut belum tentu disebabkan oleh alergi makanan.
Dokter Spesialis Anak sekaligus influencer kesehatan, dr. Ardi Santoso, mengimbau orang tua tidak terburu-buru menyimpulkan anak mengalami alergi hanya karena muncul kemerahan setelah mengonsumsi buah.
“Stop! Jangan buru-buru bilang anak alergi buah hanya karena sekitar mulutnya merah setelah konsumsi buah. 'Dok, habis makan stroberi kok merah semua di sekitar bibirnya? Berarti alergi ya?' Belum tentu,” ujar dr Ardi, dikutip Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, orang tua perlu membedakan iritasi kulit akibat kontak langsung dengan makanan dan reaksi alergi makanan. Jika kemerahan hanya muncul di sekitar mulut dan tidak disertai gejala lain, kondisi tersebut kemungkinan besar merupakan iritasi kontak.
“Kalau hanya merah di sekitar mulut, tidak ada bentol di seluruh tubuh, tidak bengkak bibirnya, tidak muntah, tidak sesak napas, kemungkinan besar bukan karena alergi makanan, melainkan iritasi kontak pada kulit,” katanya.
Beberapa jenis buah memiliki sifat asam alami atau mengandung enzim tertentu yang dapat memicu iritasi pada kulit sensitif. Buah seperti kiwi, nanas, jeruk, stroberi hingga tomat dapat menyebabkan kemerahan ketika sari buah bersentuhan langsung dengan kulit di sekitar mulut.
Kondisi tersebut lebih mudah terjadi pada bayi dan balita, terutama yang memiliki kulit sensitif atau riwayat eksim. Kontak langsung dengan sari atau getah buah dapat membuat kulit di sekitar bibir mengalami kemerahan sementara.
“Justru pada bayi dan balita, penyebab tersering adalah iritasi kulit, bukan alergi makanan,” kata dr Ardi.
Cara Membedakan Iritasi dan Alergi Buah
Lantas, bagaimana cara orang tua membedakan iritasi kulit dengan alergi makanan? dr. Ardi menjelaskan, reaksi alergi umumnya tidak hanya ditandai dengan kemerahan di satu area, tetapi dapat menimbulkan sejumlah gejala pada bagian tubuh lainnya.
“Kalau bener alergi makanan, gejalanya biasanya bukan hanya merah di sekitar bibir. Yang perlu diwaspadai justru biduran di seluruh tubuh, bengkak di bibir dan di mata, muntah berulang, batuk atau mengi, bahkan sesak napas. Kalau muncul gejala tersebut, segera periksakan ke dokter,” ujarnya.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menghilangkan buah dari menu harian anak hanya karena muncul kemerahan di sekitar mulut. Buah merupakan sumber vitamin, mineral, serat dan antioksidan yang penting untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Pantangan atau diet eliminasi juga tidak sebaiknya dilakukan secara mandiri. Menghindari berbagai jenis makanan tanpa evaluasi dokter dapat membuat variasi makanan anak menjadi terbatas dan berpotensi mengurangi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
“Jadi, jangan buru-buru menghilangkan semua buah dari menu anak. Padahal buah itu merupakan sumber vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang penting untuk tumbuh kembangnya, kan? Diet eliminasi hanya dilakukan bila memang ada dugaan alergi yang dibuktikan melalui evaluasi dokter,” katanya.
Orang tua juga perlu memperhatikan pola munculnya gejala serta keluhan lain setelah anak mengonsumsi makanan tertentu. Jika muncul biduran di seluruh tubuh, pembengkakan pada bibir atau mata, muntah berulang, batuk, mengi hingga sesak napas, anak perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.
“Jangan sampai anak kehilangan banyak makanan bergizi hanya karena salah mengira iritasi sebagai alergi. Jangan semua dipantang, dianggap alergi,” ujar dr Ardi.
Editor: Dani M Dahwilani