Cara Melindungi Si Kecil dari Paparan Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau, AyBun Wajib Tahu!
JAKARTA, iNews.id - Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai beterbangan ke sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Banten, DKI Jakarta hingga Jawa Barat. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama orang tua yang memiliki anak.
Menjadi catatan bersama, anak-anak adalah kelompok rentan jika terpapar abu vulkanik, karena abu vulkanik dapat memberikan dampak terhadap kesehatan fisik maupun psikologis.
Dokter Spesialis Anak Dr. dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K), melalui paparan yang diunggah Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengingatkan bahwa abu vulkanik tidak dapat disamakan dengan debu biasa yang berasal dari lingkungan perkotaan.
Partikel abu vulkanik mengandung silika dan material kristalin yang dapat mengiritasi saluran pernapasan. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang lebih rentan karena sistem pernapasan mereka masih berkembang.
Dampaknya pun tidak sebatas batuk ringan. Pada anak yang memiliki riwayat asma, paparan partikel abu vulkanik dapat meningkatkan risiko kekambuhan dan memperburuk gejala sesak napas.
Dalam paparan yang berlangsung dalam jangka panjang, partikel silika juga dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru. Salah satunya adalah pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis, yaitu kondisi peradangan paru yang berkaitan dengan paparan dan penumpukan partikel silika.
Orang tua dianjurkan meminimalkan paparan abu vulkanik dengan membatasi aktivitas anak di luar ruangan. Untuk sementara, aktivitas bermain sebaiknya dipindahkan ke dalam rumah hingga kondisi udara dinyatakan aman.
Pintu dan jendela rumah perlu ditutup rapat untuk mencegah abu masuk. Jika terdapat celah yang memungkinkan abu masuk, celah tersebut dapat ditutup sementara menggunakan lakban atau bahan penutup lainnya.
Kebersihan rumah juga perlu diperhatikan. Lantai sebaiknya dibersihkan menggunakan kain pel atau metode basah. Hindari menyapu lantai dalam kondisi kering karena aktivitas tersebut justru dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan terhirup.
Dokter Yogi juga menyarankan agar air minum dan tandon penyimpanan air juga harus ditutup rapat. Sementara itu, buah, sayur, dan bahan makanan lainnya perlu dicuci secara menyeluruh sebelum dikonsumsi untuk menghilangkan abu yang mungkin menempel.
Apabila anak terpaksa harus berada di luar rumah, perlindungan pernapasan perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi anak.
Anak usia lebih besar dapat menggunakan masker N95 atau KN95 yang terpasang rapat dan menutupi hidung serta mulut. Namun, masker N95 tidak direkomendasikan untuk bayi dan balita karena dapat membuat mereka kesulitan bernapas.
Untuk bayi dan balita, pilihan perlindungan yang lebih aman adalah mengurangi paparan dengan tetap berada di dalam ruangan.
Jika masker standar sulit diperoleh, masker bedah berlapis atau kain lembap dapat digunakan sebagai alternatif darurat. Namun, perlindungan tersebut tidak setara dengan masker respirator seperti N95 atau KN95.
Bagi anak yang memiliki asma, orang tua juga perlu memastikan obat pelega napas yang telah diresepkan dokter tersedia dan dapat digunakan sesuai petunjuk medis.
Editor: Muhammad Sukardi