Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jangan Sepelekan Kebiasaan Scroll Media Sosial, Otak Bisa Overstimulasi
Advertisement . Scroll to see content

Detoks Media Sosial 1-2 Minggu, Ini Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:32:00 WIB
Detoks Media Sosial 1-2 Minggu, Ini Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Detoks media sosial selama 1-2 minggu disebut dapat membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan sekaligus memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Detoks media sosial selama 1-2 minggu disebut dapat membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan sekaligus memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan. Jeda dari aktivitas di dunia maya juga memberikan kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat dari paparan informasi dan notifikasi yang terus-menerus.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, menjelaskan detoks media sosial dapat menjadi pilihan bagi orang yang mulai merasa lelah setiap kali membuka aplikasi media sosial. Menurut dia, penggunaan media sosial secara berlebihan dapat membuat seseorang mengalami overstimulasi.

“Bagi kalian yang sedang merasa lelah setiap melihat media sosial, detoks media sosial bisa menurunkan gejala depresi, kecemasan, dan perbaikan kualitas hidup secara keseluruhan,” ujar dr Adam, dikutip Senin (10/8/2026).

Paparan berbagai informasi, visual, suara, dan notifikasi secara terus-menerus dapat membuat otak menerima banyak rangsangan dalam waktu bersamaan. Kondisi ini dapat berujung pada kecemasan dan kelelahan mental, terutama ketika seseorang sulit membatasi waktu menggunakan media sosial.

“Media sosial memang bisa memicu overstimulasi yang berujung pada kecemasan dan kelelahan mental. Durasi detoks yang optimal bervariasi antar penelitian, namun sebagian menyebutkan durasi satu sampai dua minggu,” katanya.

Selain mengurangi paparan informasi, detoks media sosial juga bertujuan memutus sejumlah kebiasaan yang dapat memengaruhi kondisi psikologis. Salah satunya adalah kebiasaan mengecek notifikasi berulang kali.

“Tujuan detoks media sosial adalah mengurangi melihat notifikasi terus menerus, menurunkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan menurunkan fomo (fear of missing out),” ucapnya.

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial dapat membuat seseorang merasa kehidupannya tidak sebaik orang lain. Ditambah dorongan untuk selalu mengetahui informasi terbaru, kondisi tersebut dapat membuat seseorang sulit benar-benar beristirahat dari media sosial.

Detoks media sosial tidak harus dilakukan dengan menghapus seluruh aplikasi. Seseorang dapat memulainya dengan mematikan notifikasi, membatasi waktu penggunaan aplikasi, atau menentukan periode tertentu tanpa membuka media sosial.

Agar manfaat detoks lebih optimal, waktu yang biasanya digunakan untuk scrolling dapat dialihkan ke aktivitas di dunia nyata. Kegiatan tersebut dapat membantu seseorang mendapatkan pengalaman tanpa paparan layar dan notifikasi.

“Untuk manfaat yang lebih optimal, bisa dikombinasikan dengan meningkatkan aktivitas offline seperti olahraga, interaksi tatap muka, dan istirahat,” katanya.

Mengambil jeda selama 1-2 minggu, seseorang dapat mengevaluasi kembali kebiasaan menggunakan media sosial. Langkah ini juga dapat menjadi kesempatan untuk membangun pola penggunaan media sosial yang lebih sehat tanpa harus sepenuhnya meninggalkan dunia digital.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut