Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Super Flu Subclade K Rentan Menyerang Anak-Anak, Waspada Jadi Penyakit Serius!
Advertisement . Scroll to see content

Dibahas di Debat Cawapres, Ini Fakta Menarik tentang Stunting

Senin, 18 Maret 2019 - 20:51:00 WIB
Dibahas di Debat Cawapres, Ini Fakta Menarik tentang Stunting
Debat Cawapres berlangsung sukses antara Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno. (Foto: Antara)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Debat calon wakil presiden (cawapres) antara Ma'ruf Amin dari nomor urut 01 dan Sandiaga Uno di nomor urut 02, membahas tentang isu kesehatan, Minggu 17 Maret 2019. Isu yang menjadi highlight di debat adalah stunting.

Stunting merupakan salah satu masalah gizi pada anak yang dapat menyebabkan pertumbuhan fisik dan kognitif anak terganggu. Ini disebabkan oleh kekurangan asupan gizi sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun.

Di Indonesia, angka anak yang stunting menurut riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 mencapai 30,8 persen. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan data tahun 2013 yang persentasenya mencapai 37,2 persen.

Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas batas yang ditoleransi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 20 persen. Berikut deretan fakta-fakta seputar stunting, seperti dirangkum iNews.id, Senin (18/3/2019).

Kurang Gizi pada Ibu Jadi Penyebab

Anak yang lahir stunting tidak lepas dari peran ibu dan asupan gizi yang dikonsumsi sang ibu selama kehamilan. Ibu yang kurang asupan gizi saat hamil dan mengalami anemia di masa kehamilan, cenderung mungkin melahirkan bayi stunting. Masalah stunting ini pun tentunya terkait dengan fakta yang menunjukkan bahwa 70-80 persen ibu hamil belum tercukupi konsumsi energi dan protein.

Gejala Bayi Stunting

Dokter Anak Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik pada Anak Dr dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) mengatakan, gejala bayi stunting bisa diketahui saat lahir. Dia menjelaskan, setelah bayi lahir harus diukur tinggi/panjang tubuh dan berat badannya. Selain itu, dilakukan juga pengukuran lingkar kepala untuk mengetahui pertumbuhan otak yang berhubungan dengan kemampuan kognitif anak.

Bisa Dicegah Sebelum Anak Berumur Dua Tahun

Dr Damayanti mengatakan, pencegahan stunting bisa dilakukan di masa-masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak. "Waktu terbaik untuk pencegahan stunting adalah dimulai dari awal kehamilan hingga dua tahun kehidupan anak," kata Dr Damayanti di Jakarta, belum lama ini. Di antaranya dengan memperhatikan asupan gizi sang anak, seperti pemenuhan ASI hingga MPASI yang bernutrisi.

MPASI yang bernutrisi tersebut mengandung asam amino esensial dan vitamin yang cukup. Terutama protein hewani, seperti susu, telur, ikan, ayam, dan daging.

Memperbaiki Stunting

Ketika anak sudah mengalami stunting, para orangtua harus memastikan sejumlah hal penting. Mulai dari asupan makanan bergizi yang harus diperbaiki, merangsang hormon pertumbuhan anak dengan mengajak anak aktif dan tidur cukup (tidur pada pukul 20.00), melakukan pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin, dan konsultasi ke dokter spesialis anak ketika si buah hati mengalami penurunan berat badan atau gagal tumbuh.

Editor: Tuty Ocktaviany

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut