Diet Ekstrem hingga Bikin GERD Kambuh, Dokter Ungkap Bahaya Pangkas Kalori Berlebih
JAKARTA, iNews.id - Keinginan mendapatkan berat badan ideal membuat sebagian orang memilih menjalani diet ketat tanpa memperhitungkan kebutuhan nutrisi tubuh. Namun, pola makan ekstrem justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan, salah satunya memicu kambuhnya Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) hingga harus mendapat penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Gia Pratama membagikan pengalaman saat menangani pasien yang mengalami GERD parah akibat menjalani diet ekstrem yang tengah menjadi tren. Pasien tersebut diketahui memangkas asupan kalori secara drastis demi menurunkan berat badan dalam waktu singkat.
“Teman-teman, aku pernah menangani pasien yang datang dengan GERD yang sudah parah. Awalnya dia pikir cuma asam lambung biasa, tapi setelah aku periksa dan ngobrol lebih lanjut, ternyata penyebabnya justru dari cara dietnya,” kata dr. Gia, dikutip Sabtu (1/8/2026).
Dia mengungkapkan, pasien tersebut mengurangi porsi makan harian hingga jauh di bawah kebutuhan normal tubuh. Kondisi itu menyebabkan lambung terlalu lama dalam keadaan kosong sehingga memicu peningkatan asam lambung.
“Dia lagi kejar target kurus dan ikut diet yang lagi viral. Makannya cuma sehari 300 kalori, padahal rata-rata masih butuh kira-kira 1.200 sampai 1.500 kalori tergantung usia dan aktivitasnya. Akibatnya lambung kosong terlalu lama, asam lambung meningkat, badan lemas, dan akhirnya GERD-nya kambuh sampai harus ke IGD,” ujarnya.
Menurut dr Gia, kasus tersebut menjadi pengingat bahwa diet bukan berarti mengurangi makanan secara berlebihan atau menahan lapar dalam waktu lama. Diet yang tepat harus disesuaikan dengan kondisi tubuh, aktivitas, serta kebutuhan nutrisi setiap individu.
“Makanya memang aku selalu bilang, untuk diet itu bukan makan sesedikit mungkin. Diet itu adalah disesuaikan kebutuhan unik tubuh kita. Karena setiap orang punya kondisi kesehatan, aktivitas, dan kebutuhan nutrisi yang berbeda,” katanya.
Dia menjelaskan, pola diet yang baik seharusnya berorientasi pada kesehatan jangka panjang, bukan hanya mengejar penurunan angka berat badan secara cepat. Asupan nutrisi yang cukup tetap diperlukan agar fungsi tubuh berjalan optimal.
“Tujuannya memang bukan cuma nurunin berat badan, tapi tubuhnya tetap optimal sehatnya, terus dietnya bisa dijalani dengan konsisten,” kata dr. Gia.
Dia mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati mengikuti tren diet yang beredar di media sosial. Menurutnya, setiap program penurunan berat badan perlu dilakukan secara seimbang agar tidak menimbulkan masalah kesehatan baru.
Diet yang terlalu ekstrem tidak hanya berisiko menyebabkan gangguan pencernaan seperti GERD, tetapi juga dapat membuat tubuh kekurangan energi dan mengalami gangguan metabolisme. Oleh karena itu, penurunan berat badan sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan pola makan yang sesuai kebutuhan tubuh.
Editor: Dani M Dahwilani