Fakta-Fakta Kram Otot, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
JAKARTA, iNews.id – Kram otot merupakan kondisi yang cukup sering dialami masyarakat, terutama saat atau setelah melakukan aktivitas fisik. Meski umumnya hanya berlangsung beberapa menit, kram dapat menimbulkan nyeri hebat dan mengganggu aktivitas jika tidak ditangani dengan tepat.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Muhammad Fajri Adda'i, menjelaskan bahwa kram otot bukan sekadar disebabkan oleh kurang minum. Kondisi ini terjadi akibat kontraksi involunter atau kontraksi otot yang berlangsung tanpa perintah dari tubuh.
“Jadi, dia berkontraksi sendiri gitu. Gak kita suruh, dia kontraksi involunter namanya," kata dr. Fajri dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, dikutip Jumat (17/7/2026).
Berikut fakta-fakta kram otot yang perlu diketahui.
1. Kram Dipicu Otot yang Terlalu Lelah
Menurut dr Fajri, penyebab utama kram adalah penggunaan otot secara berlebihan (overuse). Saat otot terlalu lelah, refleks di tulang belakang mengalami overstimulasi sehingga otot terus berkontraksi tanpa kendali.
Dalam kondisi normal, tubuh memiliki mekanisme yang mengatur kontraksi otot melalui muscle spindle sebagai pemicu kontraksi dan organ tendon Golgi sebagai penghambat. Namun, saat tubuh kelelahan, mekanisme penghambat tersebut tidak bekerja optimal.
“Nah, kalau sudah kecapean, overstimulasi, jadi organ tendon golginya ini nggak bekerja nih inhibisinya, nggak ngerem. Jadi, mau gas terus. Makanya lengkung refleksnya jadi overstimulasi. Jadi, kedut-kedut terus padahal nggak ada itu stimulasinya," katanya.
2. Jangan Memijat Otot yang Sedang Kram
Kebiasaan memijat area yang mengalami kram ternyata tidak dianjurkan. Menurut dr. Fajri, tindakan tersebut justru berpotensi memperparah kondisi dan meningkatkan risiko cedera.
Sebagai gantinya, otot yang kram sebaiknya diluruskan atau diregangkan agar organ tendon Golgi kembali bekerja menghambat kontraksi berlebihan.
“Nah, makanya pengobatannya adalah kalau orang kram itu bukan dipijit-pijit, nggak boleh, malah bahaya. Dilempengin kakinya nih, dilurusin. Kalau dilurusin, itu stimulasi dari organ tendon golgi tadi itu menjadi meningkat. Sehingga, direm terus kan. Sehingga, kedutannya berkurang, sehingganya nyerinya kramnya berkurang. Itu tuh makanya kalau orang kram kan dilempengin kakinya tuh," ujarnya.
3. Hidrasi dan Elektrolit Tetap Penting
Selain kelelahan otot, kehilangan cairan dan elektrolit akibat cuaca panas atau aktivitas berat juga dapat meningkatkan risiko kram. Karena itu, tubuh perlu mendapatkan asupan cairan yang cukup serta elektrolit seperti natrium, kalium, dan klorida.
4. Jangan Langsung Melanjutkan Aktivitas
Setelah kram mereda, tubuh sebaiknya diberi waktu untuk beristirahat. Memaksakan diri kembali berolahraga atau melakukan aktivitas berat sebelum otot pulih dapat meningkatkan risiko kram berulang.
5. Pencegahan Lebih Baik daripada Mengobati
Untuk mencegah kram otot, dr. Fajri menyarankan agar masyarakat mengenali batas kemampuan fisik, tidak memaksakan olahraga berlebihan, serta menerapkan jadwal latihan dan rest day yang seimbang. Faktor cuaca panas dan kelembapan udara juga perlu diperhatikan karena dapat mempercepat hilangnya cairan tubuh.
“Terus, cukupi hidrasi, pikirkan aspek panas, kelembaban udara supaya panas keluar, dan cukupi kebutuhan natrium, kalium, klorida, dan lain sebagainya. Itu yang penting. Jadi, pencegah lebih baik dibanding kena masalah," katanya.
Editor: Dani M Dahwilani