Jantung Berdebar dan Sesak Napas setelah Makan Banyak? Ternyata Ini Alasannya
JAKARTA, iNews.id – Tidak sedikit orang merasa jantung berdebar kencang atau napas menjadi pendek setelah menyantap makanan dalam porsi besar. Apa penyebabnya?
Kondisi yang demikian sering kali memicu kekhawatiran karena dianggap sebagai tanda penyakit jantung. Padahal, dalam banyak kasus, keluhan tersebut merupakan respons normal tubuh terhadap proses pencernaan.
Dokter sekaligus edukator kesehatan dr Cecep Hermawan menjelaskan, saat seseorang makan dalam jumlah besar sekaligus, tubuh membutuhkan kerja ekstra untuk mencerna makanan yang masuk ke saluran pencernaan. Kondisi ini membuat aliran darah lebih banyak dialihkan ke area perut dan usus.
Menurutnya, peningkatan kebutuhan aliran darah ke sistem pencernaan membuat jantung harus bekerja lebih keras agar pasokan darah ke organ-organ lain tetap terpenuhi. Akibatnya, sebagian orang dapat merasakan sensasi jantung berdebar atau berdetak lebih cepat setelah makan.
“Waktu makan porsi besar, usus butuh tambahan aliran darah yang lumayan banyak buat proses pencernaan. Nah, jantung pun ikut kerja lebih keras buat mastiin sisa tubuh tetap terpasok. Makanya muncul sensasi deg-degan,” ujar dr Cecep, dikutip Minggu (14/6/2026).
Selain jantung berdebar, keluhan lain yang kerap muncul setelah makan berlebihan adalah napas terasa pendek atau sesak. Kondisi ini berkaitan dengan membesarnya lambung akibat terisi makanan dalam jumlah banyak.
Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai gastric distension, yakni ketika lambung mengembang karena beban makanan yang berlebih. Letak lambung yang berada tepat di bawah diafragma membuat ruang gerak paru-paru menjadi lebih terbatas saat lambung membesar.
Akibatnya, paru-paru tidak dapat mengembang secara maksimal sehingga seseorang bisa merasa lebih sulit bernapas. Tak hanya itu, lambung yang terlalu penuh juga dapat memberikan tekanan pada saraf vagus, yaitu saraf yang memiliki hubungan langsung dengan berbagai organ penting, termasuk jantung.
“Napas pendeknya juga ada sebabnya. Lambung yang penuh mengembang, istilah medisnya gastric distension. Letaknya persis di bawah otot pernapasan kita. Jadi ruang paru-paru makin sempit. Ditambah lagi bisa ikut menekan saraf vagus, saraf yang punya jalur langsung ke jantung,” jelasnya.
Untuk mengurangi keluhan tersebut, dr. Cecep menyarankan masyarakat agar tidak langsung berbaring setelah makan kenyang. Posisi rebahan dapat meningkatkan tekanan pada rongga dada sekaligus memperbesar risiko naiknya asam lambung ke kerongkongan.
Sebagai langkah sederhana, ia menyarankan untuk duduk santai, melonggarkan pakaian yang ketat, serta memberi waktu bagi tubuh untuk menyelesaikan proses pencernaan sebelum beristirahat.
“Kalau mengalami kondisi ini, coba duduk santai, longgarkan pakaian ketat dan jangan langsung rebahan,” katanya.
Meski umumnya jantung berdebar setelah makan dalam porsi besar merupakan respons fisiologis yang normal, masyarakat tetap perlu waspada terhadap gejala yang mengarah pada gangguan jantung serius.
Jika keluhan berdebar disertai nyeri dada hebat seperti diremas, rasa sakit menjalar ke punggung, lengan atau rahang, serta muncul meski hanya makan sedikit, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele dan memerlukan pemeriksaan medis segera.
“Kalau deg-degannya disertai nyeri dada kayak diremas, menembus ke punggung, apalagi walau cuma makan sedikit, segera ke IGD. Bisa jadi tanda otot jantung kurang oksigen,” pungkas dr. Cecep.
Dengan memahami penyebabnya, masyarakat diharapkan tidak panik saat mengalami jantung berdebar setelah makan banyak. Namun, mengenali tanda-tanda bahaya tetap penting agar kondisi yang lebih serius dapat ditangani sedini mungkin.
Editor: Muhammad Sukardi