Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Menkes Dorong Puskesmas di Sampang Cari Penderita Kusta, Beri Hadiah Rp100 Juta!
Advertisement . Scroll to see content

Kaget! Indonesia Masuk 3 Besar Negara dengan Kasus Kusta Terbanyak di Dunia

Kamis, 15 Januari 2026 - 20:24:00 WIB
Kaget! Indonesia Masuk 3 Besar Negara dengan Kasus Kusta Terbanyak di Dunia
Indonesia masuk 3 besar negara terbanyak kasus kusta. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Upaya eliminasi kusta di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Mulai dari keterlambatan deteksi dini hingga kuatnya stigma dan diskriminasi, membuat penyakit ini belum sepenuhnya tertangani secara optimal. 

Fakta mengejutkan pun terungkap bahwa Indonesia masih masuk tiga besar negara dengan jumlah penderita kusta terbanyak di dunia. Ini bukan pencapaian yang patut dibanggakan, tapi harus menjadi perhatian bersama. 

Hal tersebut disampaikan langsung oleh WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, dalam kegiatan Media Briefing bertajuk 'Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia' yang diselenggarakan The Habibie Center di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta Selatan.

“Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian serius karena masih termasuk tiga besar negara dengan jumlah penderita kusta terbanyak di dunia,” ujar Sasakawa, Kamis (15/1/2026).

Menurut Sasakawa, tingginya kasus kusta di Indonesia tidak hanya disebabkan faktor medis, tetapi juga rendahnya edukasi masyarakat. Banyak orang masih menganggap kusta sebagai penyakit kutukan dan sangat menular, padahal secara ilmiah penyakit ini dapat disembuhkan dan tidak mudah menular.

“Masalah terbesar bukan hanya medis, tapi stigma akibat miskomunikasi yang harus segera diatasi,” tegasnya.

Menkes Budi Gunadi Sadikit bersama beberapa stakeholder berupaya mengeliminasi kusta. (Foto: Istimewa)
Menkes Budi Gunadi Sadikit bersama beberapa stakeholder berupaya mengeliminasi kusta. (Foto: Istimewa)

Sasakawa menekankan bahwa melalui Sasakawa Health Foundation (SHF), penanganan kusta harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup pengobatan medis sekaligus penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap penderita maupun mereka yang telah sembuh.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui masih maraknya disinformasi di masyarakat terkait kusta. Ia menegaskan bahwa secara ilmiah, penderita kusta yang telah mendapatkan pengobatan antibiotik berhenti menularkan penyakit dalam waktu kurang dari satu minggu.

“Kalau ada yang mengisolasi atau membuang saudaranya karena lepra, itu disinformasi. Tidak ada scientific evidence-nya,” tegas Menkes Budi.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, terutama dalam edukasi publik, agar masyarakat memahami fakta medis tentang kusta dan tidak lagi melakukan diskriminasi.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Ilham Akbar Habibie, menilai eliminasi kusta tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan kesehatan, tetapi juga memerlukan pendekatan sosial dan keagamaan. Ia menyoroti masih kuatnya kepercayaan kusta sebagai kutukan yang mengakar dalam budaya masyarakat.

“Meski sudah sembuh, banyak yang masih menyembunyikan riwayat kusta karena takut dikucilkan,” ujar Ilham.

Ilham menjelaskan bahwa pemerintah telah memasukkan skrining kusta dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai langkah deteksi dini untuk mencegah kecacatan. Namun, menurutnya, kebijakan medis harus dibarengi dengan pendekatan budaya dan agama agar lebih diterima masyarakat.

Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori, menambahkan bahwa hasil riset awal di empat wilayah yaitu Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata, menunjukkan persoalan kusta di Indonesia memiliki dua sisi besar yaitu aspek medis dan aspek sosial.

“Di beberapa daerah, kusta masih dianggap sebagai santet atau ilmu hitam. Banyak orang bergaul dengan penderita kusta tapi tidak tahu itu kusta,” ungkap Ansori.

Ia juga menyoroti keterbatasan dana dan ketersediaan obat sebagai tantangan lain, sementara jumlah pasien yang membutuhkan penanganan masih tinggi. Akibat stigma, banyak penderita dan penyintas kusta mengalami kesulitan bekerja, dikucilkan, hingga takut kembali bersosialisasi meski telah sembuh secara medis.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut