Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jadwal Imsak Tangerang Hari Ini 3 Maret 2026 Beserta Niat Puasa
Advertisement . Scroll to see content

Kapan Anak Bisa Belajar Berpuasa? Ini Kata Ahli Gizi

Selasa, 03 Maret 2026 - 07:12:00 WIB
Kapan Anak Bisa Belajar Berpuasa? Ini Kata Ahli Gizi
Kapan anak bisa belajar berpuasa menjadi pertanyaan banyak orang tua setiap memasuki bulan Ramadan. (Foto: AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kapan anak bisa belajar berpuasa menjadi pertanyaan banyak orang tua setiap memasuki Ramadan. Mengajarkan ibadah puasa sejak dini memang dianjurkan, namun harus dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan kesiapan fisik serta psikologis anak.

Ahli gizi Ihda Hanifatun Nisa menjelaskan, secara medis tidak ada batas usia baku bagi anak untuk mulai berpuasa. Namun, pendekatan fisiologis dan kebutuhan gizi tetap perlu menjadi pertimbangan utama agar tumbuh kembang anak tidak terganggu.

Menurutnya, anak dapat mulai belajar puasa secara bertahap pada rentang usia 4 hingga 7 tahun. Pada fase ini, durasi puasa sebaiknya dibatasi dan tidak dipaksakan hingga waktu berbuka penuh.

“Puasa penuh lebih aman dilakukan saat usia sekolah dasar akhir, sekitar 7–11 tahun, ketika cadangan energi, kemampuan regulasi gula darah, dan pemahaman anak sudah lebih matang,” ujar Ihda saat diwawancarai iNews Media Group pada Senin (2/3/2026).

Dia menerangkan, kesiapan anak menjalani puasa tidak hanya ditentukan oleh faktor usia. Status gizi yang baik, tidak memiliki penyakit kronis, mampu mengonsumsi sahur dengan cukup, serta kesiapan mental menjadi indikator penting lainnya.

Anak yang sudah mampu mengomunikasikan rasa haus, lapar, atau lemas dengan baik dinilai lebih siap menjalani puasa. Selain itu, anak yang tidak mudah sakit saat terjadi perubahan pola makan juga cenderung memiliki daya tahan tubuh yang lebih stabil.

Orang tua pun disarankan aktif memantau respons fisik dan perilaku anak selama berpuasa. Jika anak tetap aktif, tidak terlihat lemas berlebihan, mampu berkonsentrasi, dan warna urinnya tidak terlalu pekat, maka kondisi tersebut menandakan tubuhnya masih dalam batas aman.

Sebaliknya, bila anak tampak sangat pucat, gemetar, pusing, atau sulit fokus sebelum waktu berbuka, itu menjadi sinyal bahwa dia belum mampu menjalani puasa penuh. Dalam kondisi seperti ini, orang tua tidak perlu ragu untuk menghentikan puasa demi menjaga kesehatan anak.

Ihda juga menegaskan, secara agama, membatalkan puasa bagi anak yang belum baligh demi alasan kesehatan tidak dianggap berdosa.

“Justru sejalan dengan prinsip menjaga jiwa (hifz an-nafs),” katanya.

Dengan memahami kapan anak bisa belajar berpuasa dan memperhatikan kondisi kesehatannya, orang tua dapat membimbing anak menjalani ibadah Ramadan secara aman dan menyenangkan. Pendekatan bertahap dan penuh perhatian menjadi kunci agar nilai spiritual tetap tercapai tanpa mengorbankan kesehatan anak.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut