Mengenal External Counter Pulsation, Metode Terapi untuk Jantung
JAKARTA, iNews.id - Penyakit kini bisa dialami siapa saja, tidak memandang usia dan jenis kelamin. Termasuk mereka yang kena penyakit jantung. Lantas, bagaimana solusinya?
Penderita penyakit jantung umumnya sering mengalami nyeri dada akibat gangguan jantung, seperti angina hingga serangan jantung. Angina sendiri terjadi akibat adanya penyempitan arteri yang menyuplai darah ke otot jantung, sehingga aliran darah ke jantung menjadi terbatas.
Rasa nyeri yang diderita dari angina ini mirip seperti rasa terjepit, tertekan, berat, sesak, dan nyeri dada. Gejala lainnya, yakni kelelahan, kepala terasa ringan, tak mampu berolahraga, pusing, hingga gangguan pencernaan.
Banyak cara untuk mengobati kondisi angina, mulai dari konsumsi obat-obatan, terapi, menggunakan prosedur medis ring jantung, kateterisasi jantung, revaskularisasi, intervensi koroner perkutan, angioplasti, hingga operasi bypass.
Dari ragam pengobatan itu, terdapat terapi bernama External Counter Pulsation (ECP), metode terapi non-bedah untuk mengurangi gejala angina dengan meningkatkan aliran darah ke jantung.
Konsultan Kardiolog sekaligus Interventionist di Siloam Hospital Manado, Prof. Starry Rampengan dan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Prof. Budhi Setianto memaparkan bagaimana metode ECP bekerja melalui acara Breakfast Symposium SimakMed, Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association 2018 di Jakarta.
Keduanya menjelaskan metode terapi ini telah beberapa kali diteliti dan terbukti memberikan manfaat bagi pasien penderita penyakit jantung, terutama gangguan angina.
"Peralatannya sendiri sudah di-approve dan aman, hanya ada indikasinya yang harus dilakukan penelitian lagi," kata Prof. Budhi ditemui iNews.id di The Ritz-Carlton Hotel, Jakarta, Minggu (22/4/2018).
Langkah menerapkan terapi ini, yakni melalui alat yang menempel pada tubuh penderita. Pasien diminta berbaring sebuah alas dan dipasangi manset mirip pengukur tekanan darah yang dipasang di bagian betis, paha, dan pinggul. Efeknya, proses ini memperlancar peredaran darah ke otot jantung, sehingga meningkatkan aliran darah dan mengurangi gejala angina.
"Proses ECP ini berlangsung 35 sesi, satu jam per hari dan selama lima hari per minggu," kata Prof. Budhi.
Umumnya, proses seperti ini memakan waktu hingga tujuh minggu terapi. Sementara hasil yang didapat dari terapi ini adalah penurunan gejala angina, peningkatan kualitas hidup, energi, dan mengurangi pemakaian obat-obatan.
Anda bisa menggunakan metode ini jika mengalami nyeri dada kronis dan tentu saja melalui rekomendasi dokter yang telah mengetahui riwayat penyakit Anda. Sementara itu, untuk langkah pencegahan penyakit jantung dan gangguan angina dapat dilakukan melalui exercise.
"Dengan olahraga lari cukup merangsang daripada vaskuler. Pencegahan tidak hanya olahraga, tetapi juga seimbang gizi, enyahkan rokok, kelola stres, ukur lingkar pinggang, dan berat badan," ucapnya.
Editor: Tuty Ocktaviany