Meski Bayar Sendiri Vaksin DBD Makin Diminati, Ini Faktanya!
JAKARTA, iNews.id – Minat masyarakat terhadap vaksin demam berdarah dengue (DBD) terus meningkat, meski layanan ini umumnya masih harus dibayar secara mandiri. Tren ini menunjukkan kesadaran publik terhadap pentingnya pencegahan penyakit semakin tinggi.
Lonjakan tersebut terlihat dari data layanan kesehatan digital yang mencatat akses vaksinasi DBD meningkat hampir dua kali lipat pada kuartal I 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Seperti apa faktanya?
CEO & Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, mengatakan peningkatan ini tidak lepas dari kemudahan akses informasi dan layanan kesehatan yang kini semakin luas.
"Sebagai ekosistem kesehatan digital dengan lebih dari 20 juta pengguna aktif, kami berkomitmen mempermudah akses layanan tepercaya, termasuk solusi terintegrasi DBD mulai dari edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (6/5/2026).
Kasus DBD Naik 3 Kali Lipat, Biaya Pengobatan Tembus Rp3 Triliun!
Menurut dia, tingginya minat masyarakat juga dipicu meningkatnya kesadaran akan risiko DBD yang tidak lagi bisa dianggap remeh. Penyakit ini kini dapat terjadi sepanjang tahun dan menyerang berbagai kelompok usia, baik anak-anak maupun dewasa.
Selain itu, belum adanya obat spesifik untuk menyembuhkan dengue membuat langkah pencegahan menjadi sangat penting. Penanganan medis selama ini masih berfokus pada pengelolaan gejala.
Kasus DBD Masih Tinggi, Indonesia Catat Lebih dari 1 Juta Kasus
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menegaskan bahwa pencegahan merupakan kunci utama dalam menekan dampak penyakit ini.
"Dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa. Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting, termasuk melalui peningkatan pemahaman masyarakat," katanya.
Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), menjelaskan bahwa imunisasi dengue kini telah direkomendasikan untuk kelompok usia tertentu.
Di sisi lain, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, menambahkan bahwa kelompok dewasa juga perlu mempertimbangkan langkah pencegahan, terutama bagi yang memiliki risiko lebih tinggi.
Dia menekankan, konsultasi dengan tenaga kesehatan penting dilakukan agar masyarakat mendapatkan informasi yang tepat terkait kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Meski vaksinasi menjadi salah satu langkah perlindungan tambahan, para ahli mengingatkan bahwa upaya pencegahan dasar tetap tidak boleh diabaikan. Pengendalian lingkungan melalui 3M Plus masih menjadi fondasi utama dalam menekan penyebaran DBD.
Editor: Muhammad Sukardi