Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : 5 Fakta Mengapa Banyak Orang Gagal Berhenti Merokok, Nomor 3 karena Zat Ini
Advertisement . Scroll to see content

Nikotin Bikin Ketergantungan, Benarkah Jadi Penyebab Utama Kanker? Begini Kata Ahli

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:55:00 WIB
Nikotin Bikin Ketergantungan, Benarkah Jadi Penyebab Utama Kanker? Begini Kata Ahli
Bikin ketergantungan, Nikotin kerap dianggap sebagai penyebab utama kanker akibat kebiasaan merokok. (Foto: Ilustrasi/AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Nikotin kerap dianggap sebagai penyebab utama kanker akibat kebiasaan merokok. Namun, berbagai bukti ilmiah menunjukkan nikotin bukan penyebab utama kanker akibat rokok dan tidak diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik oleh International Agency for Research on Cancer (IARC).

Peneliti Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor (IPB) Mohammad Khotib menjelaskan nikotin merupakan senyawa alkaloid alami yang terdapat pada tembakau dan beberapa tanaman dari keluarga Solanaceae atau suku terung-terungan.

Menurut Khotib, nikotin memang memiliki sifat yang dapat menimbulkan ketergantungan karena memengaruhi sistem saraf pusat. Namun, mekanisme ketergantungan tersebut berbeda dengan proses kerusakan atau mutasi sel yang dapat memicu kanker.

"Nikotin dapat menyebabkan ketergantungan karena memicu pelepasan dopamin pada sistem penghargaan di otak, yang menimbulkan rasa nyaman dan mendorong seseorang untuk terus merokok. Inilah yang membuat kebiasaan merokok sulit dihentikan. Meski demikian, mekanisme ketergantungan akibat nikotin berbeda dengan proses kerusakan atau mutasi sel yang dapat memicu kanker," ujar Khotib, dalam keterang tertulis Senin (31/8/2026).

Khotib menjelaskan sebagian besar risiko kanker pada perokok berkaitan dengan paparan senyawa berbahaya yang terbentuk ketika tembakau dibakar. Proses tersebut menghasilkan ribuan senyawa kimia, termasuk sejumlah zat yang diketahui bersifat karsinogenik.

Saat rokok dibakar, suhu pada ujung rokok dapat mencapai sekitar 900 derajat Celsius. Kondisi tersebut memicu berbagai reaksi kimia yang menghasilkan lebih dari 7.000 senyawa, termasuk sekitar 70 zat yang diketahui bersifat karsinogenik.

Beberapa senyawa berbahaya yang terbentuk dalam proses pembakaran di antaranya tobacco-specific nitrosamines (TSNAs), benzena, 1,3-butadiena, benzo[a]pyrene, formaldehida, tar, karbon monoksida, serta berbagai zat toksik lainnya. Senyawa-senyawa tersebut dapat menyebabkan kerusakan DNA dan telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit akibat merokok.

Khotib mengatakan masyarakat perlu memahami perbedaan antara nikotin sebagai zat yang menyebabkan ketergantungan dengan senyawa toksik dan karsinogen yang terbentuk dari pembakaran tembakau.

"Pemahaman yang tepat membantu masyarakat membedakan antara adiksi yang dipicu oleh nikotin, sedangkan kerusakan jaringan serta kanker dipicu oleh paparan senyawa toksik dan karsinogen hasil pembakaran tembakau," kata Khotib.

Meski bukan diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik, Khotib menekankan nikotin bukan zat yang bebas risiko. Nikotin dapat menyebabkan ketergantungan, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, serta berpotensi memengaruhi perkembangan otak pada remaja dan janin. Sebab itu, produk yang mengandung nikotin tidak diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, maupun kelompok rentan.

Pemahaman mengenai karakteristik dan profil risiko berbagai produk berbasis nikotin juga dinilai perlu diperkuat melalui penelitian. Kajian dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia dapat membantu memperkaya bukti ilmiah sekaligus memberikan gambaran yang lebih relevan dengan kondisi dan pola penggunaan di dalam negeri.

Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo mengatakan perbedaan karakteristik setiap produk perlu dilihat berdasarkan bukti ilmiah. Dia menilai produk berbasis nikotin tidak tepat jika seluruhnya digeneralisasi memiliki karakteristik dan profil risiko yang sama.

"Produk tembakau alternatif memiliki karakteristik yang berbeda dari rokok, maka menyamakannya justru tidak proporsional. Jadi perbedaan yang dilihat itu ada atau tidaknya proses pembakaran, misalnya. Kemudian jenis emisi atau aerosol yang dihasilkan, kandungan produk, pola konsumsi, potensi paparan terhadap orang lain, kemudian pola konsumsi di masyarakat. Ini semua basisnya sains," ujarnya.

Menurut Ariyo, semakin banyak data dan kajian ilmiah yang tersedia akan membantu membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai karakteristik, profil paparan, dan risiko produk tembakau alternatif. "Kebijakan harus bertumpu pada data, kajian ilmiah, dan evaluasi berkala," katanya.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut