Operasi Lutut Kini Dibantu Robot, Seberapa Besar Manfaatnya bagi Pasien?
JAKARTA, iNews.id – Teknologi robotik mulai dimanfaatkan untuk membantu dokter menangani operasilutut. Kehadiran teknologi ini bukan berarti robot mengambil alih pekerjaan dokter, melainkan memberikan data dan pengukuran yang dapat membantu dokter membuat perencanaan tindakan secara lebih presisi.
Salah satu teknologi yang digunakan untuk tujuan tersebut adalah ROSA Robotic Surgical Assistant. Sistem ini dirancang sebagai alat bantu dalam prosedur operasi lutut, terutama untuk membantu dokter memahami kondisi anatomi pasien dan menentukan tindakan yang sesuai.
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi RS Premier Bintaro dr Andito Wibisono, Sp.OT, Subsp. PL, menjelaskan bahwa setiap pasien memiliki karakteristik lutut yang berbeda. Karena itu, informasi yang lebih detail selama operasi dapat membantu dokter menyesuaikan tindakan.
"Teknologi robotik bukan untuk menggantikan peran dokter. Justru teknologi ini hadir sebagai assistant yang membantu dokter dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan dengan dukungan data serta perencanaan yang lebih detail," ujar dr Andito dalam acara pengenalan ROSA di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, belum lama ini.
Dalam operasi lutut, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah ketepatan penempatan implan, terutama pada prosedur penggantian sendi lutut.
Teknologi ROSA diklaim membantu dokter melakukan pengukuran dan memperoleh informasi selama prosedur. Data tersebut dapat digunakan untuk membantu merencanakan posisi implan sekaligus mengevaluasi keseimbangan sendi.
Hal ini menjadi penting karena bentuk dan kondisi lutut tidak sama pada setiap pasien. Pendekatan yang lebih personal memungkinkan dokter mempertimbangkan anatomi pasien ketika menentukan strategi operasi.
Dengan kata lain, manfaat utama teknologi tersebut bukan sekadar membuat operasi terlihat lebih canggih, tetapi membantu dokter mendapatkan informasi tambahan untuk mendukung keputusan medis.
Penggunaan teknologi robotik tidak otomatis menghilangkan seluruh risiko operasi. Faktor seperti kondisi kesehatan pasien, tingkat kerusakan lutut, metode operasi, kompetensi dokter, hingga perawatan setelah operasi tetap berpengaruh terhadap hasil tindakan.
Karena itu, ROSA ditempatkan sebagai robotic surgical assistant, bukan pengganti dokter.
Keputusan mengenai tindakan medis tetap berada pada dokter yang menangani pasien. Teknologi berfungsi memberikan data, pengukuran, dan panduan yang dapat membantu dokter selama proses operasi.
Pendekatan ini juga memungkinkan teknologi digunakan sebagai bagian dari pelayanan yang lebih terintegrasi, bukan berdiri sendiri.
Presisi selama operasi hanyalah salah satu bagian dari perjalanan pengobatan. Setelah tindakan, pasien tetap membutuhkan rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi dan pergerakan lutut.
Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Premier Bintaro dr Anita Ratnawati, Sp.KFR, Subsp. KR(K), mengatakan rehabilitasi sebaiknya sudah dipertimbangkan sejak sebelum operasi.
"Setiap pasien memiliki target aktivitas dan kondisi yang berbeda. Karena itu, rehabilitasi perlu dipersiapkan sejak awal agar program pemulihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing pasien," kata dr Anita.
Program pemulihan dapat disesuaikan dengan kondisi dan target aktivitas pasien. Artinya, keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan oleh seberapa presisi tindakan dilakukan di ruang operasi, tetapi juga bagaimana pasien menjalani proses pemulihan setelahnya.
Dengan kata lain, pemanfaatan robotik dalam operasi lutut memperlihatkan bagaimana teknologi medis mulai digunakan untuk memberikan informasi yang lebih terukur kepada tenaga kesehatan.
Namun, kecanggihan alat tetap harus diimbangi dengan kemampuan dokter dan penilaian klinis. Teknologi memberikan data, sementara dokter yang menentukan bagaimana data tersebut digunakan sesuai kondisi pasien.
Editor: Muhammad Sukardi