Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Sering Kram Otot Punggung? Redakan dengan Cara Ini
Advertisement . Scroll to see content

Otot Kram Awas Jangan Dipijat, Ini Harus Dilakukan agar Nyeri Cepat Reda

Jumat, 17 Juli 2026 - 16:34:00 WIB
Otot Kram Awas Jangan Dipijat, Ini Harus Dilakukan agar Nyeri Cepat Reda
Masyarakat agar tidak memijat otot yang sedang kram, langkah lebih tepat adalah meluruskan atau meregangkan bagian tubuh yang mengalami kram. (Foto: Ilustrasi/AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Banyak orang spontan memijat bagian tubuh yang mengalami kram otot. Padahal, kebiasaan tersebut justru tidak dianjurkan karena berpotensi memperparah kondisi hingga memicu cedera.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr Muhammad Fajri Adda’i, menjelaskan kram otot terjadi akibat kontraksi involunter, yakni kontraksi yang muncul tanpa perintah dari tubuh. Penjelasan itu dia sampaikan melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, dikutip Jumat (17/7/2026).

“Jadi, dia berkontraksi sendiri gitu. Gak kita suruh, dia kontraksi involunter namanya," kata dr. Fajri.

Dia menjelaskan, kram umumnya dipicu oleh kelelahan otot akibat aktivitas berlebihan (overuse). Saat kondisi tersebut terjadi, sistem pengendali kontraksi otot di tubuh tidak lagi bekerja secara optimal.

Menurut dr Fajri, secara normal kontraksi otot dipicu oleh muscle spindle yang berfungsi layaknya pedal gas. Sementara itu, tubuh memiliki mekanisme penghambat berupa organ tendon Golgi yang bertugas sebagai rem agar kontraksi tidak berlebihan.

“Nah, kalau sudah kecapean, overstimulasi, jadi organ tendon golginya ini nggak bekerja nih inhibisinya, nggak ngerem. Jadi, mau gas terus. Makanya lengkung refleksnya jadi overstimulasi. Jadi, kedut-kedut terus padahal nggak ada itu stimulasinya," katanya.

Sebab itu, dia mengingatkan masyarakat agar tidak memijat otot yang sedang kram. Langkah yang lebih tepat adalah meluruskan atau meregangkan bagian tubuh yang mengalami kram agar mekanisme penghambatan otot kembali bekerja.

“Nah, makanya pengobatannya adalah kalau orang kram itu bukan dipijit-pijit, nggak boleh, malah bahaya. Dilempengin kakinya nih, dilurusin. Kalau dilurusin, itu stimulasi dari organ tendon golgi tadi itu menjadi meningkat. Sehingga, direm terus kan. Sehingga, kedutannya berkurang, sehingganya nyerinya kramnya berkurang. Itu tuh makanya kalau orang kram kan dilempengin kakinya tuh," ujarnya.

Selain meregangkan otot, dr. Fajri juga membagikan lima langkah yang perlu dilakukan saat mengalami kram. Pertama, hentikan aktivitas fisik yang sedang dilakukan. Kedua, luruskan atau regangkan otot yang mengalami kram. Ketiga, minum air putih dan penuhi kebutuhan elektrolit setelah kram mulai mereda.

Selanjutnya, berikan waktu bagi tubuh untuk beristirahat sebelum kembali beraktivitas. Terakhir, pastikan kebutuhan natrium, kalium, serta mineral penting lainnya tercukupi agar fungsi otot tetap optimal.

Untuk mencegah kram otot berulang, dr. Fajri mengimbau masyarakat mengenali batas kemampuan tubuh dan tidak memaksakan diri berolahraga secara berlebihan. Dia juga menekankan pentingnya mengatur waktu latihan dan hari istirahat (rest day) secara seimbang.

Selain itu, faktor cuaca panas, kelembapan udara, serta kecukupan cairan tubuh juga perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap hilangnya cairan dan elektrolit melalui keringat.

“Terus, cukupi hidrasi, pikirkan aspek panas, kelembaban udara supaya panas keluar, dan cukupi kebutuhan natrium, kalium, klorida, dan lain sebagainya. Itu yang penting. Jadi, pencegah lebih baik dibanding kena masalah," katanya.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut