Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Campak Lebih Agresif daripada Covid-19? Ini Faktanya!
Advertisement . Scroll to see content

Perlindungan Diri Jadi Pertahanan Tenaga Kesehatan di Tengah Pandemi Covid-19

Jumat, 09 Oktober 2020 - 22:40:00 WIB
Perlindungan Diri Jadi Pertahanan Tenaga Kesehatan di Tengah Pandemi Covid-19
Layanan screening rapid test Covid-19 khusus untuk calon penumpang KA di Stasiun Tegal. (Foto: Sindonews/Ahmad Antoni)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Pandemi Covid-19 masih berlangsung hingga kini. Tenaga kesehatan (nakes) yang menangani pasien Covid-19 pun dibutuhkan manajemen fasilitas, personel, dan tata cara komunikasi guna memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat 2 Semarang Kombes Pol. Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, Sp.F mengatakan, lingkungan rumah sakit bagi tenaga kesehatan menjaga fasilitas yang baik dengan alat perlindungan diri (APD) lengkap.

Dalam talkshow bertema “Bagaimana Tenaga Kesehatan Menjaga Diri dari Covid-19” di Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Graha BNPB Jakarta pada Rabu (7/10/2020), dia menjelaskan untuk memakai sarung tangan sekali pakai, jubah lengan panjang bersih, dan gunakan masker medis.

“Gunakan masker N95. Periksa kerapatannya dan kacamata benar-benar menutup semua dua bola mata, sehingga tidak ada bersin atau batuk cairan yang masuk ke rongga mata yang terinfeksi,” ujar Kombes Pol. Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, Sp.F, dalam siaran pers yang diterima pada Jumat (9/10/2020).

Mantan Kepala Instalasi Forensik RS Polri Soekamto Jakarta ini menegaskan, saat virus ini pertama kali menyebar di Wuhan, China, pihaknya sudah menyiapkan seluruh alat prasarana dan tenaga medis yang bertugas menangani virus tersebut. Para petugas itu menjalani pelatihan cara mencuci tangan, memakai masker, menggunakan pelindung mata, dan pelindung wajah.

“Sampai pakai sepatu atau apron untuk petugas pemeriksaan jenazah pun dilatih. Alhamdulilah teman-teman di RS Soekamto yang mengurus pasien Covid sehat-sehat,” katanya.

Hastry mengatakan, penanganan pasien Covid-19 di UGD berbeda antara pasien positif ringan dan sedang, serta tanpa gejala (OTG). Setelah dipisahkan, para pasien itu dipantau kegiatannya khawatir terjadi perubahan mengalami gejala.

“Di rumah sakit itu termonitor dari aktivitas dan kegiatan dia. Minum vitamin, tidur cukup, dan olahraga. Kalau ada comorbid tidak tertangani dengan baik, segera kami rujuk ke rumah sakit yang fasilitas kesehatannya lebih lengkap,” kata Hastry.

Perawat RS Pusat Pertamina Jakarta Triandi Mirsal AMK mengatakan, awal-awal dirinya sempat cemas dan takut karena khawatir tertular Covid-19. Namun, berkat dukungan dari keluarga, masyarakat, dan rumah sakit tempatnya bertugas, dirinya tetap menjalankan tugas tersebut dengan nyaman.

“Kami gunakan APD lengkap dan menjaga protokol kesehatan supaya terhindar dari virus corona,” ujar Triandi Mirsal.

Triandi menceritakan dirinya bertugas di IGD RS Pertamina yang berdampingan dengan ruang ICU yang mengurusi bukan hanya orang tanpa gejala (OTG), tapi pasien kritis. Ada satu pasien yang terserang Covid-19 dan sesak berat dan ditangani medis dengan alat bantu kesehatan. Akhirnya, pasien ini sembuh dan bisa berkumpul dengan keluarga.

“Covid-19 bukan hanya penyakit fisik, tapi juga masalah psikologis,” ucap Triandi yang bolak-balik Pamulang-kawasan Blok M dari rumah ke rumah sakit tempat dia bekerja.

Editor: Tuty Ocktaviany

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut