Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Selamat! Anak Pertama Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon Lahir Sehat
Advertisement . Scroll to see content

Pernah Caesar Apa Bisa Melahirkan Normal? Dokter Ungkap Risiko Harus Dihadapi

Senin, 03 Agustus 2026 - 23:30:00 WIB
Pernah Caesar Apa Bisa Melahirkan Normal? Dokter Ungkap Risiko Harus Dihadapi
Bagi yang pernah operasi caesar, rencana persalinan normal harus melalui pertimbangan medis ketat. (Foto: Ilustrasi/AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Melahirkan secara normal menjadi impian bagi banyak wanita. Namun, bagi ibu yang memiliki riwayat operasi caesar, rencana persalinan normal atau Vaginal Birth After Cesarean (VBAC) harus melalui pertimbangan medis yang ketat.

Selama ini, sebagian masyarakat mengira larangan melahirkan normal setelah caesar berkaitan dengan bekas luka operasi di bagian luar perut. Padahal, bagian yang paling menjadi perhatian dokter adalah kondisi bekas sayatan pada dinding rahim.

Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, menjelaskan bahwa risiko utama pada ibu yang ingin menjalani VBAC bukan berasal dari luka jahitan kulit, melainkan bekas luka operasi pada rahim.

"Saat menjalani persalinan caesar, dokter tidak hanya membedah bagian kulit perut, tetapi juga membuat sayatan pada dinding rahim untuk mengeluarkan bayi. Luka di rahim inilah yang patut diwaspadai," ujar dr. Aditya dalam unggahan edukasi di akun Instagram pribadinya, dikutip Jumat (31/7/2026).

Dia mengatakan, saat proses persalinan normal berikutnya berlangsung, rahim akan mengalami kontraksi kuat untuk membantu bayi keluar. Tekanan tersebut dapat memberikan beban besar pada area bekas sayatan lama.

Jika kondisi rahim tidak mendukung, tekanan kontraksi berisiko menyebabkan robekan pada dinding rahim atau ruptur uteri. Kondisi ini merupakan salah satu komplikasi serius yang harus diantisipasi dalam proses VBAC.

Meski demikian, dr Aditya menyebut ibu yang pernah menjalani operasi caesar tetap memiliki peluang untuk melahirkan normal. Keputusan tersebut bergantung pada berbagai faktor, terutama jenis sayatan rahim pada operasi sebelumnya.

"Jika dulu sayatannya bertipe low transverse, yaitu sayatan melintang di bagian bawah rahim, biasanya risikonya paling rendah. Pada banyak kasus, kondisi ini masih bisa dipertimbangkan untuk melahirkan secara normal," jelas dia.

Sebaliknya, risiko lebih tinggi dapat terjadi pada ibu dengan riwayat sayatan vertikal di bagian atas rahim atau classical incision. Area tersebut memiliki kontraksi yang lebih kuat saat persalinan sehingga meningkatkan risiko robekan rahim.

Apabila ruptur uteri terjadi, kondisi tersebut dapat menjadi keadaan darurat medis yang membahayakan ibu dan bayi. Ibu dapat mengalami perdarahan hebat hingga syok dan membutuhkan tindakan operasi segera.

"Ibu bisa mengalami pendarahan hebat hingga syok. Dalam kondisi tertentu, harus dilakukan operasi darurat bahkan pengangkatan rahim untuk menyelamatkan nyawa sang ibu," kata dr Aditya.

Karena itu, sebelum memutuskan menjalani VBAC, dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh. Pemeriksaan meliputi jenis sayatan pada operasi caesar sebelumnya, jarak kehamilan, jumlah riwayat persalinan caesar, hingga riwayat operasi rahim lainnya.

"Bukan berarti pernah caesar lalu otomatis tidak boleh melahirkan normal. Namun, dokter harus memastikan bekas luka di rahim cukup aman untuk menghadapi tekanan kontraksi saat persalinan berlangsung," katanya.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut