Pernah Operasi Usus Buntu atau Caesar? Waspadai Risiko Perlengketan Usus
JAKARTA, iNews.id - Operasiusus buntu atau operasi caesar merupakan prosedur medis yang cukup umum dilakukan. Namun, setelah operasi di area perut, tubuh dapat membentuk jaringan parut yang dalam kondisi tertentu menyebabkan perlengketan antarorgan.
Kondisi ini dikenal sebagai adhesi dan bisa menimbulkan gangguan kesehatan apabila melibatkan bagian usus atau organ di sekitarnya.
Perlengketan usus terjadi ketika jaringan parut membuat bagian usus menempel pada jaringan atau organ lain di rongga perut. Selain akibat operasi sebelumnya, kondisi ini juga dapat dipicu oleh peradangan maupun infeksi di rongga perut.
Meski tidak selalu menimbulkan keluhan, perlengketan usus tetap perlu diwaspadai apabila disertai gejala yang mengganggu. Pada kasus tertentu, kondisi ini bahkan dapat menyebabkan sumbatan usus sehingga membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Dokter Spesialis Bedah Digestif Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Eko Priatno, Sp.B-KBD, menjelaskan bahwa tidak semua perlengketan usus membutuhkan tindakan operasi. Penanganan harus mempertimbangkan kondisi pasien, gejala yang muncul, serta kemungkinan gangguan pada organ yang terlibat.
“Perlengketan merupakan salah satu kondisi yang dapat ditemukan setelah operasi di area perut. Tidak semua pasien mengalami gangguan, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing," kata dr Eko dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).
"Pada kasus yang lebih kompleks, kolaborasi antar dokter spesialis menjadi penting untuk memastikan setiap organ yang terlibat mendapatkan penanganan yang tepat,” tambahnya.
Pada sebagian orang, perlengketan usus tidak menimbulkan gejala dan baru diketahui ketika dilakukan pemeriksaan karena alasan lain. Namun, apabila perlengketan mengganggu pergerakan usus, sejumlah keluhan dapat muncul.
Gejala yang perlu diperhatikan antara lain nyeri perut berulang, perut terasa kembung, hingga gangguan buang air besar. Jika perlengketan menyebabkan sumbatan usus, keluhannya dapat berkembang menjadi lebih serius.
Nyeri perut hebat atau terus-menerus, muntah berulang, perut membuncit, serta tidak bisa buang angin maupun buang air besar merupakan tanda yang perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis. Gejala tersebut dapat mengindikasikan sumbatan usus yang membutuhkan penanganan segera.
Karena itu, orang yang pernah menjalani operasi di area perut perlu memperhatikan keluhan yang muncul. Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami perlengketan usus sehingga pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Penanganan perlengketan usus dapat menjadi lebih kompleks apabila jaringan parut berada dekat atau melibatkan organ lain, termasuk saluran kemih. Salah satu bagian yang perlu diperhatikan adalah ureter, yaitu saluran yang membawa urine dari ginjal menuju kandung kemih.
Ketika perlengketan melibatkan area tersebut, dokter perlu mempertimbangkan kondisi usus sekaligus fungsi saluran kemih agar tindakan yang dilakukan tidak menimbulkan gangguan pada organ lain.
Dokter Spesialis Urologi Konsultan Trauma dan Rekonstruksi Urogenital, dr. Donny Eka Putra, Sp.U.(K), Subsp. Trauma and Reconstructive Urology, mengatakan bahwa kasus kompleks membutuhkan perencanaan yang mempertimbangkan hubungan antarorgan.
“Pada kasus perlengketan yang kompleks, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada satu organ. Kami perlu memahami hubungan antar organ yang terlibat agar tindakan dapat direncanakan secara menyeluruh, termasuk menjaga fungsi saluran kemih dan melakukan rekonstruksi jika diperlukan,” ungkap dr. Donny.
Dalam penanganan tersebut, dokter bedah digestif bertugas menangani gangguan pada usus, termasuk melepaskan jaringan yang melekat apabila diperlukan. Sementara itu, dokter urologi rekonstruksi mengevaluasi keterlibatan saluran kemih dan melakukan perbaikan atau rekonstruksi sesuai indikasi medis.
Kolaborasi antardokter spesialis menjadi penting terutama ketika perlengketan tidak hanya memengaruhi satu organ. Dengan evaluasi menyeluruh, rencana penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi pasien dan risiko yang mungkin terjadi.
Untuk menentukan penanganan yang tepat, dokter akan mengevaluasi riwayat operasi, menanyakan gejala yang dialami pasien, serta melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang, seperti CT scan, dapat dilakukan sesuai kebutuhan untuk menilai kondisi organ dan mencari kemungkinan komplikasi.
Namun, perlengketan tidak selalu terlihat secara langsung melalui pemeriksaan pencitraan. Oleh karena itu, dokter perlu menggabungkan hasil pemeriksaan dengan riwayat kesehatan dan keluhan pasien sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Tidak semua pasien dengan perlengketan usus harus menjalani operasi. Apabila tidak ditemukan gangguan yang memerlukan tindakan, dokter dapat mempertimbangkan pendekatan nonoperatif sesuai kondisi pasien.
Sebaliknya, jika perlengketan menimbulkan komplikasi atau gangguan yang membutuhkan intervensi, tindakan operasi dapat dipertimbangkan setelah dokter menilai manfaat dan risikonya.
Keputusan tersebut penting karena operasi untuk melepaskan perlengketan juga memiliki risiko, termasuk terbentuknya perlengketan baru. Dengan demikian, tindakan perlu dilakukan berdasarkan indikasi medis, bukan semata-mata karena perlengketan ditemukan.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menekankan pentingnya pendekatan yang mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh, terutama pada kasus yang membutuhkan keterlibatan beberapa spesialisasi.
“Bagi kami, pelayanan kesehatan bukan hanya tentang menangani suatu penyakit, tetapi juga memahami kondisi pasien secara menyeluruh. Melalui kolaborasi dokter dari berbagai spesialisasi dan dukungan fasilitas medis yang terintegrasi, kami ingin memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat, sekaligus memberikan rasa aman dan ketenangan bagi keluarga dalam setiap proses perawatan,” ujar dr. Margareth.
Pada akhirnya, riwayat operasi usus buntu, caesar, atau operasi perut lainnya tidak berarti seseorang pasti akan mengalami perlengketan yang menimbulkan masalah. Namun, nyeri perut berulang dan gangguan pencernaan setelah operasi sebaiknya tidak diabaikan, terlebih jika disertai muntah atau kesulitan buang angin dan buang air besar.
Pemeriksaan medis dapat membantu mengidentifikasi penyebab keluhan sekaligus menentukan apakah pasien membutuhkan pemantauan, penanganan nonoperatif, atau tindakan lebih lanjut.
Editor: Muhammad Sukardi