Polusi Udara Tidak Hanya Ganggu Pernapasan, Ini Bahayanya!
JAKARTA, iNews.id - Polusi udara selama ini kerap dikaitkan dengan gangguan pernapasan. Padahal, dampak paparan polutan ternyata tidak berhenti di paru-paru.
Dalam kondisi tertentu, polusi udara juga dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara lebih luas, termasuk meningkatkan risiko gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Seperti apa penjelasan selengkapnya?
Salah satu polutan yang perlu diwaspadai adalah particulate matter (PM)2.5, yakni partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Menurut Praktisi Kesehatan Masyarakat dr Ngabila Salama, paparan polusi dalam jangka pendek dapat memicu berbagai keluhan, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan, batuk, hingga sesak napas.
"Bagi orang yang memiliki asma atau infeksi saluran pernapasan, kualitas udara yang buruk juga dapat memperburuk kondisi," kata dr Ngabila pada iNews.id, Jumat (21/8/2026).
Namun, persoalannya tidak hanya soal napas.
Dokter Ngabila menegaskan, paparan polusi udara dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung dan stroke, serta gangguan pada fungsi paru.
Artinya, seseorang yang terlihat sehat dan tidak memiliki keluhan pernapasan sekalipun tetap perlu memperhatikan kualitas udara, terutama jika sehari-hari banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.
Disampaikan dr Ngabila, risiko tersebut dapat semakin perlu diperhatikan ketika polusi udara terjadi bersamaan dengan cuaca panas dan kering.
Dalam kondisi seperti ini, tubuh menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni paparan panas dan polutan di udara. Konsentrasi polutan juga dapat lebih mudah meningkat ketika kondisi atmosfer mendukung penumpukan polusi.
"Masyarakat diimbau agar tidak perlu menunggu sampai muncul keluhan seperti batuk atau sesak untuk mulai mengurangi paparan," katanya.
Perhatian ekstra perlu diberikan kepada kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi dan panas, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru atau jantung.
Bukan berarti kelompok tersebut harus sepenuhnya menghindari aktivitas di luar. Namun, durasi dan intensitas paparan sebaiknya lebih dibatasi, terutama ketika kualitas udara sedang buruk dan suhu meningkat.
Masyarakat juga perlu mengenali tanda bahaya. Jika setelah beraktivitas muncul sesak berat, nyeri dada, pusing hebat, tubuh terasa sangat lemas, atau penurunan kesadaran, segera hentikan aktivitas dan cari pertolongan medis.
Editor: Muhammad Sukardi