Punya Peran Penting Dalam Layanan Kesehatan, Pendidikan Apoteker Jadi Perhatian
JAKARTA, iNews.id - Peran apoteker memiliki posisi sangat vital dalam sistem layanan kesehatan. Tidak hanya meracik dan menyerahkan obat, apoteker juga bertanggung jawab memastikan penggunaan obat yang aman, dan tepat bagi pasien.
Mereka menjadi jembatan antara dokter dan pasien dalam pemahaman terapi, mulai dari dosis, aturan pakai, hingga potensi efek samping yang mungkin timbul.
Di tengah perkembangan dunia medis yang semakin kompleks, apoteker dituntut terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Mereka tidak hanya bekerja di apotek, tetapi juga di rumah sakit, industri farmasi, hingga lembaga penelitian.
Dalam praktiknya, apoteker kerap memberikan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan obat yang rasional, termasuk bahaya penyalahgunaan obat dan pentingnya mengikuti resep dokter. Tanggung jawab yang besar, profesi apoteker menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan sistem kesehatan yang berkualitas dan berkelanjutan.
Ini menjadi perhatian banyak piihak. Seperti yang dilakukan dua institusi pendidikan farmasi Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya dan Universitas Padjadjaran (Unpad) serta P&G Health melalui Program Studi Profesi Apoteker. Kolaborasi strategis ini bertujuan untuk memberdayakan generasi calon apoteker, alumni, dan tenaga kesehatan lainnya melalui pembelajaran yang lebih aplikatif, relevan, dan selaras dengan kebutuhan dunia nyata.
Kolaborasi jangka panjang ini dirancang untuk memperkuat peran apoteker sebagai salah satu garda terdepan dalam pelayanan kesehatan, membekali mahasiswa dan alumni muda dengan pemahaman mendalam mengenai penyakit yang umum ditemui di masyarakat, seperti anemia, rhinitis akut, dan neuropati perifer.
Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Noffrendi Roestam menyambut baik kolaborasi antara P&G Health Indonesia dengan institusi pendidikan farmasi. Dia menilai ini sebagai langkah positif memperkuat peran apoteker di Indonesia.
"Seiring dengan berkembangnya kebutuhan layanan kesehatan, apoteker tidak lagi hanya berperan sebagai penyedia obat, tetapi juga sebagai mitra kesehatan yang aktif dalam memberikan edukasi serta memastikan penggunaan obat yang tepat," ujarnya, dalam rangkaian memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Dia menyebutkan penguatan kompetensi melalui pembelajaran yang lebih aplikatif menjadi semakin penting. IAI berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
Brand Director Health Care P&G Indonesia, Caroline Herlina mengatakan apoteker memiliki peran penting dalam memastikan pasien mendapatkan pengetahuan pengobatan yang tepat sekaligus edukasi yang dibutuhkan. "Melalui kolaborasi ini, kami ingin menjembatani pembelajaran akademik dengan praktik nyata dan membagikan berbagai inovasi solusi kesehatan yang dimiliki oleh P&G Health Indonesia sehingga mahasiswa lebih siap menghadapi kebutuhan pasien sehari-hari,” ujarnya dalam keterangan pers dilansir Rabu (6/5/2026).
Caroline mengungkapkan kolaborasi ini berfokus pada tiga pilar utama, yaitu edukasi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat, dimulai dari tingkat Program Studi Profesi Apoteker untuk memastikan keselarasan dengan kebutuhan akademik sekaligus relevansi terhadap praktik di lapangan.
Sebagai bagian dari kerja sama ini, P&G Health bersama Unika Atma Jaya menghadirkan pendekatan pembelajaran yang komprehensif melalui modul e-learning, video edukasi, serta materi terstruktur dalam bentuk e-book dan buku cetak. Program e-learning ini menargetkan lebih dari 500 peserta hingga Juni 2026, sebagai upaya memperluas akses pembelajaran yang berkelanjutan. Partisipan tidak hanya terdiri dari mahasiswa, tetapi juga alumni yang tengah menjalani profesi apoteker.
Dari sisi akademisi, kolaborasi ini membawa perubahan signifikan dalam metode pembelajaran. “Kolaborasi ini menghadirkan pendekatan yang lebih aplikatif dalam pembelajaran kami. Melalui berbagai format seperti e-learning, video edukasi, serta modul terstruktur, mahasiswa dapat memahami bagaimana ilmu yang dipelajari dapat diterapkan langsung dalam situasi nyata bersama pasien,” ujar Dekan Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya, Dr dr Felicia Kurniawan M.Kes.
Universitas Padjadjaran (UNPAD) juga turut menjadi bagian dari kolaborasi P&G Health Indonesia dengan institusi akademik dalam meningkatkan kualitas pendidikan farmasi. Ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas guna mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Kolaborasi ini akan dijalankan melalui berbagai inisiatif pembelajaran, diawali dengan program e-learning yang berfokus pada penguatan kompetensi Patient Counseling & Rational Use of Oxymetazoline, khususnya dalam penanganan rhinitis akut. Program ini dirancang untuk menjangkau seluruh mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker dan menjadi langkah awal dari pengembangan kolaborasi yang lebih luas ke depannya, terutama di bidang edukasi, riset, serta pengabdian kepada masyarakat.
“Kami melihat kolaborasi ini sebagai langkah awal yang penting dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam aspek konseling pasien dan penggunaan obat yang rasional. Ke depan, kami berharap kerjasama ini dapat berkembang ke inisiatif yang lebih luas, termasuk riset dan edukasi masyarakat,” ujar Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof Auliya A Suwantika.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BPOM, Profesor Taruna Ikrar mengapresiasi kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem kesehatan di Indonesia.
“Untuk memperkuat ekosistem kesehatan berbasis riset, kolaborasi lintas sektor antara pelaku industri, pemerintah, dan akademisi merupakan kuncian utama. Setiap inovasi kesehatan dan inisiatif edukasi perlu memiliki dasar ilmiah yang kuat, relevan dengan kebutuhan masyarakat terkini, serta tetap mengedepankan aspek keamanan, mutu, manfaat, dan kepatuhan terhadap regulasi" ujarnya.
Melalui dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, program ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas dari sekadar pembelajaran akademik. Inisiatif ini turut mendorong perubahan perspektif terhadap peran apoteker, tidak hanya sebagai penyedia obat, tetapi juga sebagai mitra kesehatan yang aktif dalam memberikan edukasi dan membantu pasien mengambil keputusan tepat.
Editor: Dani M Dahwilani