Ria Ricis Diare Parah hingga Dilarikan ke IGD, Kenali Penyebab dan Risikonya
JAKARTA, iNews.id - Kondisi kesehatan artis Ria Ricis mendadak menurun hingga harus mendapatkan penanganan medis di instalasi gawat darurat (IGD) setelah mengalami diare lebih dari enam kali dalam satu pagi.
Pengalaman Ria Ricis tersebut menjadi pengingat bahwa diare yang terjadi berulang kali tidak boleh dianggap sepele, karena dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan.
Ricis menceritakan pengalamannya melalui tayangan YouTube. Dia mengaku tetap menjalani pekerjaan setelah mendapatkan penanganan medis, meski kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
"Jadi, ternyata tadi pagi diare lebih dari enam kali, kita dilarikan ke IGD," kata Ria Ricis, dikutip Senin (19/10/2026).
Dia juga mengungkapkan kembali bekerja pada siang hari dan menghadiri sebuah acara pada sore harinya.
"Terus siangnya langsung kerja lagi, sorenya langsung di acara," tuturnya.
Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai penyebab diare yang dialami Ricis. Namun, kejadian tersebut dapat menjadi pengingat untuk mengenali penyebab diare, risiko komplikasi, serta tanda-tanda yang mengharuskan seseorang segera mendapatkan pertolongan medis.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diare adalah kondisi ketika seseorang buang air besar dengan tinja encer atau cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari, atau lebih sering daripada kebiasaan normalnya.
Diare dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu penyebab yang umum adalah infeksi saluran pencernaan akibat virus, bakteri, atau parasit. Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke tubuh melalui makanan dan air yang terkontaminasi maupun penularan akibat kebersihan tangan yang kurang terjaga.
Selain infeksi, diare juga dapat dipicu oleh beberapa kondisi berikut:
1. Makanan atau minuman yang terkontaminasi. Makanan yang diolah atau disimpan secara tidak higienis dapat menjadi media penularan mikroorganisme penyebab infeksi pencernaan.
2. Intoleransi makanan. Sebagian orang mengalami diare setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu yang sulit dicerna tubuh, misalnya produk susu pada orang dengan intoleransi laktosa.
3. Efek samping obat. Beberapa jenis obat, termasuk antibiotik, dapat menyebabkan diare pada sebagian orang.
4. Gangguan pada sistem pencernaan. Kondisi tertentu, seperti sindrom iritasi usus atau penyakit radang usus, juga dapat menimbulkan diare berulang.
Penyebab diare tidak selalu sama pada setiap orang. Karena itu, riwayat makanan, obat yang dikonsumsi, gejala penyerta, serta pemeriksaan medis dapat membantu menentukan penyebab yang tepat.
Risiko utama diare adalah dehidrasi, yaitu kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk. Saat diare, tubuh mengeluarkan air dan elektrolit melalui tinja. Jika kehilangan tersebut tidak segera digantikan, keseimbangan cairan tubuh dapat terganggu.
Berikut sejumlah risiko yang perlu diwaspadai.
1. Dehidrasi
Diare yang berlangsung berulang kali dapat menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah besar. Gejalanya meliputi rasa haus berlebihan, mulut kering, pusing, tubuh lemas, dan frekuensi buang air kecil yang berkurang.
2. Gangguan keseimbangan elektrolit
Selain air, tubuh juga kehilangan elektrolit, seperti natrium dan kalium. Elektrolit berperan penting dalam menjaga fungsi saraf, otot, serta keseimbangan cairan. Kehilangan elektrolit yang signifikan dapat menimbulkan komplikasi serius.
3. Penurunan kondisi fisik
Kekurangan cairan dan asupan makanan selama mengalami diare dapat membuat tubuh terasa lemah, sulit berkonsentrasi, dan tidak bertenaga. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
4. Komplikasi akibat penyakit yang mendasari
Pada sebagian kasus, diare disebabkan oleh infeksi yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan khusus. Diare yang disertai darah, demam tinggi, atau nyeri perut berat perlu mendapat perhatian medis karena dapat mengindikasikan kondisi yang lebih serius.
Tidak semua kasus diare membutuhkan perawatan di rumah sakit. Namun, ada sejumlah tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.
Segera cari pertolongan medis jika diare disertai kondisi berikut:
- Tubuh sangat lemas, pusing berat, atau mengalami penurunan kesadaran.
- Tidak mampu minum atau terus-menerus muntah sehingga cairan sulit masuk.
- Buang air kecil sangat sedikit atau tidak seperti biasanya.
- Tinja mengandung darah atau berwarna hitam seperti aspal.
- Nyeri perut hebat atau demam tinggi.
- Gejala dehidrasi yang semakin berat.
Dehidrasi berat dapat membutuhkan pemberian cairan melalui infus dan pemantauan tenaga medis. Anak kecil, lansia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu juga perlu mendapatkan perhatian lebih karena lebih rentan mengalami komplikasi.
Saat mengalami diare, langkah awal yang penting adalah mengganti cairan tubuh yang hilang. Kementerian Kesehatan dan WHO merekomendasikan penggunaan oralit untuk membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare.
Berikut langkah yang dapat dilakukan:
1. Minum oralit sesuai petunjuk. Larutkan oralit dengan jumlah air bersih sesuai petunjuk pada kemasan. Jangan mengubah takaran karena dapat memengaruhi konsentrasi larutan.
2. Penuhi kebutuhan cairan. Minum sedikit demi sedikit tetapi sering, terutama setelah buang air besar cair. Jika tidak mampu mempertahankan asupan cairan atau kondisi memburuk, segera cari pertolongan medis.
3. Tetap makan sesuai kemampuan. Konsumsi makanan yang mudah ditoleransi tubuh dan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi. Hindari makanan atau minuman yang diketahui memperburuk gejala.
4. Jaga kebersihan. Cuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet dan sebelum menyiapkan atau menyantap makanan. Pastikan makanan matang sempurna serta air minum aman dikonsumsi.
5. Jangan sembarangan mengonsumsi obat. Antibiotik tidak diperlukan untuk semua kasus diare. Penggunaannya harus berdasarkan penilaian tenaga medis, terutama jika dicurigai terdapat infeksi tertentu.
Pengalaman Ria Ricis menunjukkan pentingnya memperhatikan sinyal yang diberikan tubuh ketika mengalami gangguan kesehatan. Diare lebih dari enam kali dalam satu pagi, seperti yang diceritakannya, perlu dinilai berdasarkan kondisi keseluruhan, termasuk kemampuan minum, jumlah urine, serta gejala lain yang menyertai.
Jika diare terjadi berulang kali, jangan hanya berfokus pada menghentikan buang air besar. Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi dan segera periksakan diri jika muncul tanda bahaya. Penanganan yang tepat dapat membantu mencegah dehidrasi dan komplikasi yang lebih serius.
Editor: Muhammad Sukardi