Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jadi Duta BPJS Kesehatan, Raffi Ahmad Ingatkan Anak Muda Jangan Mageran!
Advertisement . Scroll to see content

Rokok Elektrik Lebih Aman daripada Sigaret? Ini Kata Pakar yang Tidak Banyak Orang Tahu

Kamis, 16 Januari 2020 - 20:11:00 WIB
Rokok Elektrik Lebih Aman daripada Sigaret? Ini Kata Pakar yang Tidak Banyak Orang Tahu
Vape berbahaya bagi kesehatan. (Foto: Mtpr)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Rokok elektrik atau vape tengah menjadi tren di kalangan remaja. Apalagi vape memiliki beberapa varian rasa atau liquid, mulai dari rasa buah-buahan, makanan, biskuit, atau kopi. Lantas, apa dampak vape bagi kesehatan?

Vape mulai masuk Indonesia sejak pertengahan 2015. Sejak saat itu, vape mulai banyak dibicarakan. Banyak remaja beralih dari rokok konvensional ke rokok elektronik ini. Hal ini disebabkan karena masyarakat menganggap bahwa rokok elektrik ini lebih aman dibanding rokok kretek. Selain itu, rokok elektrik ini menawarkan beberapa varian rasa, sehingga konsumennya tidak merasa bosan.

Menurut  Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, rokok konvensional dan rokok elektrik adalah sama. Mereka memiliki beberapa persamaan.

“Pertama adalah sama-sama mengandung nikotin di dalamnya. Kedua, sama-sama mengandung bahan multifungsi yang dapat memicu terjadinya kanker paru-paru. Persamaan ketiga, yaitu sama-sama mengandung bahan yang toxic dan dapat memicu terjadinya peradangan,” katanya di Kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu 15 Januari 2020.

Dia mengatakan, kandungan karsinogen pada rokok elektrik yang dipakai sebagai pengganti tar jika sudah dikonsumsi dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan terjadinya kanker.

“Semakin banyak yang dihisap, maka semakin cepat pula penyakit itu datang,” ucapnya.

Dari kandungan yang toxic pada rokok elektrik ini, kata dia, dapat memicu terjadinya ispa ataupun asma.

“Dalam waktu dua atau tiga tahun terakhir ini sudah banyak tercatat penyakit paru yang disebabkan oleh penggunaan rokok elektrik ini,” katanya.

Selama ini tidak sedikit masyarakat yang berpikir bahwa tidak hanya aman daripada rokok biasa, rokok elektrik juga bisa membantu perokok aktif untuk berhenti merokok. Menurutnya, statement itu salah besar.

“Karena dari pihak WHO sendiri tidak menyarankan rokok elektrik sebagai alternatif untuk berhenti merokok,” ucapnya.

Dia mengatakan, ada delapan hal yang menjadi persyaratan dapat membantu seorang perokok aktif berhenti merokok. Namun, diketahui bahwa delapan aspek tersebut tidak dapat terpenuhi oleh rokok elektrik.

“Salah satu syarat paling penting untuk membantu pengurangan konsumsi rokok adalah tidak menambah terjadinya pemicu penyakit. Sedangkan rokok elektrik sendiri meningkatkan terjadinya pemicu penyakit. Maka rokok eletrik bukan alternatif untuk berhenti merokok,” ucapnya.

Dia mengatakan, sudah ada beberapa penelitian tentang rokok elektrik yang dipercaya bisa membantu penggunanya untuk tidak mengonsumsi rokok. Namun dari sekian banyak penelitian, sebanyak 75 persen di antaranya menyatakan tidak berhasil. “Rokok elektrik bukanlah pilihan untuk berhenti merokok,” ujarnya.

Editor: Tuty Ocktaviany

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut