Selain Butuh Kesibukan, Ini Alasan Lansia Perlu Punya Teman di Usia Senja
JAKARTA, iNews.id - Memasuki usia lanjut, memiliki kegiatan untuk mengisi waktu bukan satu-satunya kebutuhan. Lansia juga membutuhkan teman untuk berbincang, bertemu, dan tetap merasa terhubung dengan lingkungan di sekitarnya.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting bagi lansia yang tinggal sendiri. Berada di lingkungan yang ramai, seperti apartemen, tidak selalu membuat seseorang terbebas dari rasa sepi. Ratusan penghuni bisa tinggal dalam satu gedung, tetapi belum tentu saling mengenal.
Kondisi itu menjadi salah satu perhatian di lingkungan Gading Nias Residence dan Grand Emerald Apartment, Jakarta. Dari kebutuhan untuk membangun hubungan antarpenghuni lansia, terbentuklah Komunitas Golongan Lanjut Umur (Glamur).

Komunitas yang telah berjalan sekitar empat tahun tersebut kini memiliki lebih dari 400 anggota. Para lansia dapat bertemu melalui berbagai kegiatan sederhana, mulai dari senam, karaoke, bernyanyi hingga line dance.
Ketua Komunitas Glamur Lana Gunawan mengatakan, perubahan mulai terlihat dari penghuni yang sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktu di unit masing-masing.
"Para Oma dan Opa jadi lebih sering bertemu dan saling mengenal. Mereka yang sebelumnya lebih banyak di unit, sekarang mulai ikut turun dan mengikuti kegiatan Glamur," kata Lana, belum lama ini.
Menurut Lana, aktivitas bersama menjadi cara bagi para lansia untuk menikmati waktu sekaligus membangun kedekatan dengan penghuni lainnya.
"Konsep Glamur memang untuk happy-happy. Para Oma dan Opa senang berkumpul, bernyanyi, berjoget, senam, dan menikmati waktu bersama," ujarnya.
Namun, pertemuan tersebut tidak berhenti pada kegiatan untuk mengisi waktu luang. Dari interaksi yang berlangsung secara rutin, para penghuni menjadi lebih mengenal satu sama lain.
Hal itu dapat menjadi penting bagi lansia yang tinggal sendiri. Ketika seseorang sudah dikenal oleh lingkungan di sekitarnya, perubahan kondisi maupun kebutuhan bantuan lebih mudah diketahui oleh orang lain.
General Manager Customer Care and Community Care Inner City Management (ICM) Rusli Usman mengatakan, gagasan membangun komunitas tersebut salah satunya muncul setelah melihat adanya penghuni lansia yang tinggal sendiri dan lebih banyak menyendiri.
"Dari beberapa kejadian, kami melihat ada penghuni lansia yang tinggal sendiri dan lebih banyak menyendiri. Ketika mereka sakit atau membutuhkan bantuan, terkadang tidak ada yang mengetahui," kata Rusli.
Karena itu, menurut Rusli, komunikasi antar-penghuni perlu dibangun agar lansia tidak sepenuhnya terisolasi dari lingkungan tempat tinggalnya.
Teman Jadi Bagian dari Kehidupan Sosial Lansia
Memiliki teman di usia senja bukan sekadar soal mempunyai lawan bicara. Hubungan sosial membuat seseorang memiliki kesempatan untuk bertukar cerita, mengetahui kabar orang lain, sekaligus merasa menjadi bagian dari lingkungan.
Dalam kehidupan di apartemen, hubungan semacam itu juga dapat membuat batas antarunit menjadi lebih cair. Penghuni tidak hanya mengenal tetangga sebagai orang yang sesekali berpapasan di lorong, tetapi juga sebagai seseorang yang memiliki hubungan sosial dengan mereka.
Bagi pengelola hunian, kondisi tersebut membuat komunikasi dengan penghuni menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan komunitas.
"Bagi kami, pengelolaan properti bukan hanya tentang aset fisik, tetapi juga manusianya. Karena itu, kami perlu membangun edukasi dan komunikasi agar penghuni terbiasa bersosialisasi," ujar Rusli.
Menurut dia, ketika komunikasi sudah terbentuk, penghuni juga lebih terbuka menyampaikan apa yang mereka rasakan maupun persoalan yang terjadi di lingkungan tempat tinggal.
Komunitas Glamur sendiri berjalan dengan dukungan ICM, Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS), serta warga.
Pada akhirnya, ruang berkumpul bagi lansia tidak harus selalu berupa kegiatan besar. Pertemuan sederhana yang dilakukan secara rutin dapat menjadi kesempatan untuk mengenal tetangga, membangun pertemanan, dan saling memperhatikan.
Sebab, di usia senja, kesibukan mungkin dapat membuat waktu berlalu. Namun, kehadiran seorang teman memberi sesuatu yang berbeda: kesempatan untuk berbagi cerita dan merasa tetap terhubung dengan orang lain.
Editor: Muhammad Sukardi