Sering Disebut Pemicu Penyakit, Ternyata Stres Ada Gunanya
JAKARTA, iNews.id – Stres sering disebut pemicu penyakit, menurunkan performa kerja, dan menimbulkan masalah mental lainnya jika perasaan tertekan tersebut berlangsung lama atau jangka panjang. Tetapi penelitian lain justru mengungkap bahwa stres juga memiliki manfaat yang bagus.
Hal tersebut diungkapkan oleh profesor psikologi berbasis di Amerika, Kathleen Gunthert. Dia mengatakan, ada beberapa hal positif yang bisa diambil dari stres jangka pendek. Sementara itu, stres jangka panjang memang memiliki dampak negatif bagi kesehatan fisik dan mental.
Menurut penelitian 2013 yang diterbitkan Psychoneuroendocrinology, tingkat stres yang moderat atau stres yang masih dapat dikendalikan dan dikenal sebagai 'eustress' tersebut dapat melindungi diri terhadap kerusakan oksidatif, yang terkait dengan penuaan dan penyakit.
Apa saja manfaat dari stres jangka pendek atau stres dalam dosis kecil? Simak informasinya seperti dirangkum iNews.id dari Time, Minggu (25/11/2018).
Meningkatkan Motivasi
Jika yang kita tahu rasa stres berlebihan dapat menurunkan motivasi diri, ternyata hal itu tak berlaku bagi stres jangka pendek. Misalnya, stres ketika tenggat waktu semakin dekat, yang justru mampu meningkatkan fokus dan motivasi untuk lebih produktif.
Membantu Perkembangan Diri
Sama halnya dengan memotivasi diri, stres jangka pendek juga membantu Anda mengembangkan diri Anda sendiri. Allison Berwald, seorang pekerja sosial klinis berlisensi di New York City mengatakan, menggunakan stres untuk menghadapi ketakutan atau tantangan, juga dapat membantu Anda mengatasi berbagai masalah dan rintangan, sehingga secara tak langsung membantu membuat diri Anda berkembang.
Baik bagi Hubungan
Perasaan cemas berlebihan dan stres jangka panjang memang tidak sehat bagi hubungan Anda dengan pasangan ataupun keluarga. Gunthert mengungkapkan, sebuah hubungan yang saling berbagi tentang rasa tertekan atau stres dan pada akhirnya saling mendukung satu sama lain, justru semakin baik untuk keintiman satu sama lain. Sebab, hal tersebut dapat menciptakan rasa yang positif dari pengalaman negatif.
Editor: Tuty Ocktaviany