Sulit Punya Anak Bukan Hanya soal Perempuan, Suami Juga Perlu Diperiksa
JAKARTA, iNews.id – Ketika pasangan sulit mendapatkan keturunan, perempuan kerap menjadi pihak yang lebih dulu diperiksa. Padahal, persoalan kesuburan tidak hanya dapat terjadi pada perempuan, tetapi juga laki-laki.
Karena itu, evaluasi kondisi kesuburan sebaiknya melibatkan suami dan istri. Hal ini menjadi penting bagi pasangan yang telah lama mengupayakan kehamilan, seperti Kingkin Kusumawardhani dan suaminya. Selama 23 tahun pernikahan, keduanya masih menanti kehadiran buah hati.
"23 tahun bukan waktu yang singkat, dan terlalu jauh perjalanannya. Mungkin ini terakhir kali usaha saya," ungkap Kingkin saat mengikuti kegiatan GlowImpact di Malang, Jawa Timur, belum lama ini.

Perjalanan panjang tersebut menjadi gambaran bahwa upaya mendapatkan keturunan dapat menjadi proses yang tidak mudah bagi sebagian pasangan. Ketika kehamilan belum terjadi, mencari penyebabnya tidak semestinya hanya dibebankan kepada perempuan.
Kementerian Kesehatan menyebut infertilitas diperkirakan dialami oleh 10–15 persen pasangan usia subur di Indonesia. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 4–6 juta pasangan.
Infertilitas dapat berkaitan dengan berbagai faktor pada sistem reproduksi laki-laki maupun perempuan. Pada perempuan, penyebabnya antara lain dapat berhubungan dengan gangguan ovulasi, kondisi saluran reproduksi, maupun masalah pada rahim.
Sementara pada laki-laki, gangguan kesuburan dapat berkaitan dengan produksi sperma, jumlah sperma, pergerakan sperma, hingga kualitas sperma. Karena itu, kondisi suami juga perlu dipertimbangkan ketika pasangan mengalami kesulitan mendapatkan keturunan.
Pemeriksaan bukan berarti setiap pasangan harus menjalani rangkaian tes yang sama. Evaluasi dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing pasangan dan dapat diarahkan oleh tenaga kesehatan untuk mencari kemungkinan faktor yang berperan terhadap kesulitan memperoleh kehamilan.
Selain persoalan medis, infertilitas juga dapat memberikan tekanan psikologis dan sosial. Perempuan sering kali menjadi pihak yang lebih banyak mendapat pertanyaan mengenai kehadiran anak, padahal persoalan kesuburan dapat berasal dari salah satu pasangan maupun kombinasi berbagai faktor.
Karena itu, keterlibatan suami dalam proses konsultasi dan pemeriksaan juga dapat membantu pasangan menghadapi persoalan tersebut sebagai perjalanan bersama.
Hal itu pula yang menjadi salah satu pesan dalam kegiatan pendampingan GlowImpact yang digelar di Malang. Sebanyak 15 pasangan mengikuti sesi edukasi dan konsultasi bersama praktisi edukasi program kehamilan Angga Prajabuana serta dokter.
Founder MS GLOW Beauty Shandy Purnamasari mengatakan, upaya mendapatkan buah hati seharusnya tidak hanya menjadi perjuangan perempuan.
"Kami percaya, perjalanan mendapatkan buah hati bukan hanya menjadi perjuangan perempuan, tetapi juga perjalanan yang dijalani bersama pasangan," ujar Shandy.
Pendampingan tersebut memberikan kesempatan kepada pasangan untuk membahas perjalanan yang telah mereka lalui serta mendapatkan informasi mengenai persiapan kehamilan. Kebutuhan pemeriksaan atau penanganan medis tetap ditentukan berdasarkan hasil konsultasi dan evaluasi tenaga kesehatan.
Bagi Kingkin, pendampingan bersama suami menjadi bagian dari ikhtiar yang masih dijalani setelah 23 tahun menanti. Terlepas dari hasil akhirnya, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sulit mendapatkan keturunan tidak semestinya dipandang sebagai beban salah satu pihak.
Ketika pasangan belum juga mendapatkan buah hati, mencari tahu kondisi kesuburan suami dan istri secara bersama dapat menjadi langkah untuk memahami persoalan dengan lebih menyeluruh. Dengan demikian, proses mendapatkan keturunan tidak hanya menjadi perjuangan perempuan, tetapi menjadi perjalanan yang dihadapi berdua.
Editor: Muhammad Sukardi