Terapi Sel Imun Jadi Harapan Baru Lawan Kanker, Begini Cara Kerjanya
JAKARTA, iNews.id – Bagaimana jika tubuh pasien sendiri bisa dipersenjatai untuk melawan kanker? Pertanyaan tersebut perlahan bukan lagi sekadar gambaran dalam film fiksi ilmiah.
Perkembangan terapi sel imun (immune cell therapy) kini membuka peluang baru dalam pengobatan kanker dengan memanfaatkan sekaligus merekayasa sel kekebalan tubuh pasien agar mampu mengenali dan menyerang sel kanker.
Teknologi ini menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan precision medicine, pendekatan pengobatan yang berusaha menyesuaikan terapi dengan karakteristik biologis dan genetik masing-masing pasien.
Di tengah meningkatnya kasus kanker di dunia, teknologi tersebut menjadi perhatian para peneliti dan tenaga medis.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory dari International Agency for Research on Cancer (IARC), Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dan 242.099 kematian akibat kanker pada 2022. Beban tersebut diperkirakan masih akan meningkat.
Secara global, WHO dalam Global Status Report on Cancer 2026 memproyeksikan jumlah kasus baru kanker dapat mencapai hampir 35 juta kasus per tahun pada 2050 jika tidak dilakukan perubahan strategis.
Kondisi tersebut membuat pengembangan metode pengobatan yang lebih efektif dan personal semakin dibutuhkan. Salah satu teknologi yang menarik perhatian adalah CAR-T cell therapy.
Secara sederhana, terapi ini mengambil sel T dari darah pasien. Sel T merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang berperan mengenali dan menyerang sel yang dianggap berbahaya.
Sel tersebut kemudian dibawa ke fasilitas khusus untuk dimodifikasi secara genetik. Tujuannya adalah membuat sel T memiliki chimeric antigen receptor (CAR), sebuah reseptor yang dirancang untuk mengenali target tertentu pada permukaan sel kanker.
Setelah dimodifikasi dan diperbanyak dalam jumlah besar, sel T tersebut kemudian dikembalikan ke tubuh pasien melalui infus.
Di dalam tubuh, sel CAR-T diharapkan dapat menemukan sel kanker yang memiliki target tersebut, kemudian menyerangnya.

"Jadi, sel imun pasien diprogram ulang agar lebih mampu memburu target kanker tertentu," kata Presiden Direktur PT Bifarma Adiluhung - Regenic Stem Cell, dr. Sandy Qlintang, dalam acara Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
Karena menggunakan sel hidup yang telah dimodifikasi untuk melawan penyakit, terapi ini bahkan kerap digambarkan sebagai 'living drug' atau obat hidup.
Dijelaskan dr Sandy, terapi sel imun bukan lagi sebatas penelitian di laboratorium. Ya, di Amerika Serikat, FDA telah menyetujui sejumlah terapi CAR-T untuk kanker darah tertentu, termasuk beberapa jenis leukemia, limfoma, dan multiple myeloma.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa terapi berbasis sel telah bergerak dari ranah eksperimental menuju bagian dari pengobatan modern untuk penyakit tertentu.
Namun, bukan berarti semua pasien kanker dapat menjalani terapi ini. Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah mengembangkan terapi sel imun untuk tumor padat, seperti kanker paru, payudara, kolorektal, dan berbagai jenis kanker lainnya.
Pasalnya, tumor padat memiliki lingkungan mikro yang kompleks. Sel kanker juga dapat memiliki karakteristik yang membuatnya lebih sulit dikenali atau diserang oleh sistem imun.
Para ilmuwan karena itu terus mencari target yang tepat serta cara membuat sel imun mampu bertahan dan bekerja secara efektif di lingkungan tumor.
Perkembangan terapi sel imun tidak bisa dilepaskan dari konsep precision medicine.
Kanker bukanlah satu penyakit yang memiliki karakteristik sama pada setiap pasien. Bahkan pasien dengan jenis kanker yang sama dapat memiliki perbedaan pada mutasi genetik, protein, lingkungan tumor, hingga respons terhadap pengobatan.
Karena itu, pendekatan satu terapi untuk semua semakin ditinggalkan ketika tersedia pilihan yang memungkinkan pengobatan disesuaikan dengan karakteristik penyakit pasien.
Pengembangan data genomik juga berperan dalam proses tersebut. Pemerintah Indonesia melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) tengah membangun basis data genomik populasi yang diharapkan dapat mendukung perkembangan kedokteran presisi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi perkembangan bioteknologi baru yang bersumber dari pemahaman terhadap DNA.
"Kalbe berada di garis terdepan (frontier) dari transformasi ini, dan tugas utama saya sebagai Menteri Kesehatan adalah memfasilitasi sektor industri agar siap menyambut gelombang bioteknologi baru, yang bersumber dari penemuan elemen fundamental kehidupan, yakni DNA," kata Menkes.
Menurut Menkes Budi, Indonesia telah memiliki dua basis data tingkat populasi yang mencakup sekitar 280 juta jiwa. Melalui BGSI yang diinisiasi pada 2022, pemerintah membangun basis data tingkat populasi ketiga, yakni basis data genomik.
Data tersebut nantinya dapat membantu ilmuwan memahami karakteristik penyakit secara lebih mendalam.
Meski terdengar menjanjikan, terapi sel imun bukanlah teknologi yang bisa diterapkan begitu saja. Ada proses panjang untuk memastikan keamanan, kualitas, dan efektivitasnya.
Dan menurut dr Sandy, perkembangan precision medicine dan cell therapy harus diikuti kesiapan ekosistem kesehatan.
"Melalui DBSDLS, kami ingin mempertemukan perkembangan sains terkini dengan realitas implementasinya. Bukan hanya membahas teknologinya, tetapi juga bukti ilmiah, kesiapan infrastruktur dan fasilitas produksi bersertifikasi GMP (CPOB), regulasi, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga tantangan implementasinya," paparnya.
Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan laboratorium.
"Kemajuan teknologi perlu berjalan bersama dengan clinical evidence, governance, dan kesiapan ekosistem sehingga inovasi dapat diterapkan secara aman, efektif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia," jelas dr Sandy.
Hal tersebut menjadi penting karena terapi sel imun dapat menimbulkan efek samping serius.
Pada terapi CAR-T, misalnya, pasien dapat mengalami cytokine release syndrome (CRS), yakni respons peradangan yang terjadi ketika sel imun yang telah diaktifkan melepaskan berbagai sitokin dalam jumlah besar.
Pasien juga dapat mengalami gangguan neurologis tertentu sehingga terapi membutuhkan pemantauan dan penanganan oleh tim medis yang memiliki kompetensi khusus.
Perkembangan terapi sel dan gen juga membuat regulator harus bergerak mengikuti kemajuan teknologi.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, Indonesia mulai mempersiapkan kerangka regulasi untuk mendukung perkembangan advanced therapy medicinal products (ATMP).
"Melalui Peraturan BPOM No. 8 Tahun 2025, kami berkomitmen untuk mereformasi proses regulasi dan mempercepat jalur perizinan guna mendukung kemajuan riset kedokteran masa depan (future medicine) seperti terapi sel punca, RNA, dan gen," ungkap Taruna.
Namun, percepatan tersebut tetap harus berjalan bersama prinsip keamanan.
"BPOM memastikan bahwa percepatan regulasi ini tetap berpijak pada prinsip tanpa kompromi terhadap aspek keamanan, kualitas, dan efikasi demi melindungi kesehatan seluruh masyarakat Indonesia," sambungnya.
Kemajuan terapi sel imun memang memberikan harapan baru. Namun, teknologi ini bukan obat ajaib untuk semua kanker.
Masih banyak penelitian yang diperlukan untuk mengetahui pasien mana yang paling mungkin mendapatkan manfaat, bagaimana meningkatkan efektivitas terapi, bagaimana mengurangi efek samping, serta bagaimana membuat teknologi tersebut dapat diterapkan lebih luas.
Perkembangan gene editing seperti CRISPR/Cas9 juga membuka peluang baru dalam memodifikasi sel untuk kebutuhan medis. Dalam satu dekade terakhir, hampir 50 terapi sel dan gen telah memperoleh persetujuan FDA, menunjukkan cepatnya perkembangan bidang tersebut.
Pada akhirnya, masa depan pengobatan kanker mungkin tidak hanya bergantung pada obat yang diberikan kepada pasien. Sel tubuh pasien sendiri bisa menjadi bagian dari terapinya.
Namun, jalan menuju masa depan tersebut tetap membutuhkan penelitian, bukti klinis, regulasi, fasilitas produksi yang memenuhi standar, tenaga kesehatan terlatih, serta sistem pelayanan yang mampu memastikan teknologi benar-benar aman dan bermanfaat.
Editor: Muhammad Sukardi