Tren Perawatan Kecantikan yang Prioritaskan Kebutuhan Kulit Lebih Diminati, Ini Faktanya!
JAKARTA, iNews.id — Arah industri kecantikan mulai bergeser pada 2026. Di tengah maraknya klinik dan ragam treatment yang terus bertambah, konsumen kini semakin kritis.
Ya, perawatan kecantikan tak lagi sekadar soal hasil instan, tetapi apakah dibutuhkan oleh kulit, atau justru mendorong ketergantungan jangka panjang. Kesadaran tersebut mendorong munculnya tren perawatan yang lebih rasional dan terukur.
Konsumen kini menuntut kejelasan proses, transparansi biaya, serta pendekatan yang benar-benar berangkat dari kondisi kulit, bukan dorongan transaksi berulang. Pendekatan ini tercermin pada konsep perawatan yang diterapkan Raraysae Beautycare.
Klinik ini menyusun program perawatan dengan struktur yang jelas sejak awal, tanpa biaya tambahan di tengah proses. Skema tersebut memberi kepastian bagi pelanggan, baik dari sisi finansial maupun alur tindakan yang dijalani.
Alih-alih mendorong kunjungan berulang tanpa batas, fokus perawatan diarahkan pada kebutuhan kulit yang nyata. Perawatan diposisikan sebagai proses dengan tujuan dan titik evaluasi, bukan rangkaian treatment yang terus diperpanjang.
"Perawatan seharusnya tidak hanya dirasakan, tetapi juga bisa dipahami dan dievaluasi secara sadar. Dengan data yang tercatat, pelanggan tahu apa yang berubah dan apa yang masih perlu diperbaiki," ujar Rendy Dewantara selaku Manajer Operasional Raraysae Beautycare dala keterangan resminya, Senin (19/1/2026).
Salah satu sorotan dalam tren perawatan 2026 adalah pentingnya dokumentasi progres kulit. Selama ini, hasil perawatan kerap dinilai secara subjektif atau sekadar terasa lebih baik atau tampak berbeda di cermin. Padahal, perubahan kulit sering berlangsung bertahap dan membutuhkan evaluasi yang objektif.
Bagi Rendy, mencatat perkembangan kondisi kulit pelanggan dalam laporan tertulis yang memuat parameter konkret, seperti perubahan pigmentasi, tekstur, hingga respons kulit terhadap tindakan tertentu jauh lebih terukur dan dibutuhkan konsumen. Dengan cara ini, hasil perawatan dapat dipahami dan dievaluasi secara sadar.
Lebih lanjut, Rendy menerangkan bahwa meski sebagian pelanggan merasakan perubahan sejak perawatan awal, hal tersebut tidak dijadikan janji instan. Perubahan awal dipahami sebagai indikator bahwa penanganan sesuai kebutuhan kulit, bukan hasil akhir yang berdiri sendiri.
Tren lain yang menguat adalah penolakan terhadap ketergantungan perawatan. Dalam konsep ini, ketika kondisi kulit sudah stabil, intensitas perawatan justru dapat dikurangi. Keputusan melanjutkan treatment didasarkan pada kebutuhan yang disadari, bukan rasa takut kondisi kulit akan kembali memburuk.
Pola tersebut membentuk relasi baru antara klinik dan pelanggan. "Kepercayaan dibangun melalui transparansi dan pemahaman, bukan strategi penjualan agresif," terang Rendy.
"Keberhasilan perawatan diukur dari sejauh mana pelanggan memahami kondisi kulit dia dan mampu merawatnya secara berkelanjungan," tambahnya.
Editor: Muhammad Sukardi