Virus HPV Ditemukan di Kloset Toilet Umum, Ini Faktanya!
JAKARTA, iNews.id - Virus human papillomavirus (HPV) ternyata ditemukan pada sejumlah fasilitas toilet umum, mulai dari kloset hingga wastafel dan pegangan pintu. Temuan ini menjadi perhatian karena HPV selama ini dikenal sebagai virus yang terutama menular melalui kontak seksual.
Direktur Imunisasi Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Indri Yogyaswari, menjelaskan bahwa transmisi HPV tidak hanya melalui jalur seksual, tetapi juga terdapat kemungkinan jalur nonseksual.
"Transmisi virus HPV bukan hanya seksual. Ada yang nonseksual," ujar Indri dalam acara Temu Media - Upaya Penguatan Pencegahan Kanker dan Imunisasi HPV, hasil kolaborasi RCCE Indonesia dengan Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes yang digelar secara virtual, Kamis (29/10/2026).

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Public Health tersebut menemukan materi genetik HPV pada sejumlah permukaan fasilitas umum di China. Studi yang dilakukan pada 2025 itu memeriksa 360 sampel lingkungan selama 30 hari.
Hasilnya, sebanyak 87 sampel atau 24,17 persen dinyatakan positif HPV berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Meski demikian, temuan materi genetik virus pada permukaan benda tidak serta-merta membuktikan bahwa penggunaan fasilitas tersebut dapat menyebabkan seseorang terinfeksi HPV.
Dalam penelitian tersebut, sampel diambil dari empat jenis lokasi, yakni toilet umum, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit obstetri dan ginekologi, serta rumah sakit umum.
Berdasarkan jenis permukaan, temuan positif HPV paling tinggi terdapat pada kloset jongkok, yakni 53,33 persen dari 120 sampel. Sementara itu, 14,17 persen sampel wastafel dan 5 persen sampel pegangan pintu dinyatakan positif HPV.
Pada lokasi tertentu, angka temuan bahkan lebih tinggi. Sebanyak 73,33 persen sampel kloset jongkok di rumah sakit umum dan rumah sakit obstetri dan ginekologi terdeteksi positif. Sementara itu, temuan HPV pada wastafel di rumah sakit umum mencapai 40 persen.
Angka tersebut merupakan hasil pemeriksaan sampel dalam penelitian, bukan persentase kemungkinan seseorang tertular HPV setelah menggunakan fasilitas tersebut.
Keberadaan materi genetik virus pada suatu permukaan juga tidak otomatis membuktikan bahwa virus masih mampu menginfeksi atau bahwa penularan benar-benar terjadi melalui kontak dengan permukaan tersebut. Karena itu, risiko penularan melalui fasilitas umum masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Selain persoalan penularan, vaksin HPV juga kerap dikaitkan dengan anggapan bahwa vaksinasi dapat mendorong perilaku seks bebas atau kebiasaan berganti-ganti pasangan.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis, Prof Hinky Hindra Irawan Satari, Sp.A, Subsp. I.P.T., M.Trop.Paed, menegaskan anggapan tersebut tidak tepat.
"Jadi sebetulnya itu kurang tepat," ujar Prof Hinky.
Dia menegaskan, tidak ada data yang menunjukkan bahwa vaksinasi HPV menyebabkan peningkatan perilaku seks bebas atau membuat seseorang cenderung berganti-ganti pasangan.
Menurut Prof Hinky, narasi tersebut justru berpotensi menghambat upaya vaksinasi. Dia menilai anggapan yang tidak didukung data tersebut menjadi salah satu narasi yang digunakan kelompok antivaksin untuk menentang program vaksinasi.
Padahal, vaksin HPV bertujuan membantu mencegah infeksi tipe virus tertentu yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk kanker serviks.
HPV merupakan kelompok virus yang terdiri atas banyak tipe. Sebagian tipe dapat menyebabkan kutil kelamin, sedangkan tipe berisiko tinggi dapat memicu perubahan sel yang berkembang menjadi kanker, termasuk kanker serviks.
Editor: Muhammad Sukardi