Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bukan Diabetes atau Hipertensi, Penyakit Ini Paling Banyak Ditemukan di Program CKG
Advertisement . Scroll to see content

Waspada! Komplikasi Diabetes Ini Diam-Diam Bisa Sebabkan Kebutaan

Senin, 20 Juli 2026 - 15:58:00 WIB
Waspada! Komplikasi Diabetes Ini Diam-Diam Bisa Sebabkan Kebutaan
Retinopati diabetik menjadi komplikasi diabetes yang menyerang mata. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.idDiabetes tidak hanya meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, atau gagal ginjal, tetapi juga dapat menyerang mata hingga menyebabkan kebutaan. Dokter ungkap fakta di balik retinopati diabetik.

Ya, salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah retinopati diabetik, kerusakan pada retina akibat kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama.

Sayangnya, komplikasi ini masih belum banyak disadari masyarakat karena gejalanya sering kali tidak muncul pada tahap awal. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui kondisinya setelah penglihatan mulai menurun.

Diskusi kesehatan dalam isu komplikasi diabetes. (Foto: Mei Sada Sirait)
Diskusi kesehatan dalam isu komplikasi diabetes. (Foto: Mei Sada Sirait)

Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, Sp.M, M.Epid., Ph.D., mengatakan, retinopati diabetik merupakan komplikasi diabetes yang terjadi di bagian dalam mata sehingga tidak dapat dikenali hanya dari penampilan luar.

"Memang tidak terlalu populer karena lokasinya ada di dalam bola mata, dari luar tidak kelihatan. Jadi pasien diabetes yang menderita retinopati diabetik itu enggak kelihatan dari luar. Bentuk matanya sama, secara kosmetik masih sama," ujar Prof Bayu dalam Forum Jurnalis Kesehatan Roche Indonesia bersama Kementerian Kesehatan, Senin (20/7/2026).

Menurutnya, retina merupakan jaringan di bagian belakang bola mata yang berfungsi menangkap cahaya dan mengirimkan sinyal ke otak agar seseorang dapat melihat. Organ ini memiliki kebutuhan metabolisme yang sangat tinggi sehingga dipenuhi pembuluh darah berukuran sangat kecil.

Pada penyandang diabetes, kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah halus tersebut. Kerusakan ini menyebabkan kebocoran, perdarahan, hingga terbentuknya endapan protein, lemak, dan sisa metabolisme yang mengganggu fungsi retina.

"Ketika pasien diabetes menderita retinopati diabetik, banyak muncul kerusakan pada pembuluh darah. Akhirnya bocor, pecah, kemudian muncul merah-merah di retina. Itu darah yang keluar dari pembuluh darah yang rusak," jelasnya.

Selain menyebabkan perdarahan, kondisi tersebut juga memicu pembengkakan retina yang dapat membuat penglihatan menjadi kabur. Jika terus berkembang tanpa penanganan, kerusakan retina bisa berujung pada gangguan penglihatan permanen hingga kebutaan.

Prof Bayu menambahkan, risiko retinopati diabetik meningkat seiring lamanya seseorang menderita diabetes. Faktor lain seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok juga dapat mempercepat kerusakan retina.

Bahkan, menurutnya, kerusakan yang telah terjadi selama bertahun-tahun belum tentu berhenti meski pasien sudah berhasil mengontrol gula darah, tekanan darah, atau berhenti merokok.

"Kalau diabetesnya sudah berlangsung lama, proses kerusakan pada retina tetap bisa berlanjut. Karena itu yang paling penting adalah deteksi dini dan pemantauan secara rutin," katanya.

Jutaan Penyandang Diabetes Berisiko Retinopati Diabetik

Besarnya ancaman retinopati diabetik terlihat dari tingginya jumlah penyandang diabetes di Indonesia.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes mencapai 11,7 persen, atau diperkirakan sekitar 32 juta orang. Namun, hanya sekitar 4,8 juta orang yang tercatat rutin menjalani kontrol kesehatan.

Sementara itu, analisis data BPJS Kesehatan menunjukkan sekitar 15 juta peserta telah didiagnosis diabetes. Dari jumlah tersebut, sekitar 12 juta orang rutin berobat ke fasilitas kesehatan.

"Di antara mereka, sekitar 5,2 juta mengalami retinopati diabetik, dan sekitar 1,2 juta membutuhkan tindakan, baik laser, injeksi, bahkan operasi," ungkap Prof. Bayu.

Data tersebut menunjukkan retinopati diabetik bukan lagi komplikasi yang jarang terjadi, melainkan menjadi salah satu tantangan besar dalam penanganan diabetes di Indonesia.

Pemeriksaan Mata Jangan Menunggu Penglihatan Kabur

Prof. Bayu menekankan bahwa retinopati diabetik pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan. Oleh karena itu, penyandang diabetes tidak boleh menunggu munculnya gejala sebelum memeriksakan mata.

Menurutnya, pemeriksaan retina secara berkala memungkinkan dokter menemukan kerusakan sejak stadium ringan sehingga pengobatan dapat segera diberikan untuk mencegah penurunan penglihatan.

"Sampai satu titik, penderita diabetes pasti akan muncul tanda retinopati. Kalau terdeteksi sejak ringan, penglihatan masih bisa dipertahankan. Tapi kalau tidak dimanajemen dengan baik, progresnya cepat hingga gangguan penglihatan berat bahkan buta," pungkasnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut