10 Fakta Mengejutkan Konser Kanye West di GBK Jakarta, Nomor 8 Paling Memorable!
JAKARTA, iNews.id - Konser Kanye West alias Ye di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (24/10/2026), menyisakan banyak cerita yang menarik untuk disimak. Bukan hanya menghadirkan panggung raksasa dengan visual planet Bumi hingga Bulan, konser perdana Ye di Indonesia ini juga mencuri perhatian berkat kedatangan puluhan ribu penonton dari mancanegara.
Konser bertajuk 'Ye Live in Jakarta' menjadi salah satu pertunjukan musik internasional yang menyedot perhatian besar di Tanah Air. Sejumlah fakta di balik penyelenggaraannya pun menarik untuk dikulik, mulai dari rekor pembeli tiket asing, pesawat carter yang disiapkan promotor, hingga lagu penutup yang membuat seisi stadion bernyanyi bersama.
Lantas, apa saja fakta mengejutkan dari konser Kanye West di GBK? Berikut ulasannya.
Konser Ye di GBK menjadi penampilan konser perdananya di Indonesia. Momen ini menjadi kesempatan bagi penggemar di Tanah Air untuk menyaksikan langsung rapper asal Amerika Serikat tersebut membawakan karya-karya populernya.
Jakarta juga menjadi satu-satunya kota di Asia Tenggara dalam rangkaian konser Ye Live Concert Tour 2026. Kondisi ini membuat penggemar dari sejumlah negara di kawasan tersebut memiliki alasan kuat untuk datang ke Indonesia.
Salah satu fakta yang paling mengejutkan adalah besarnya jumlah penonton internasional. Marketing & Communications Lead Raw Vision Collective, Karen Tjahja, mengungkapkan sebanyak 20.500 tiket konser telah dibeli penonton dari luar negeri.
Menurut Karen, angka tersebut menjadi pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk sebuah konser tunggal di Indonesia.
Australia menjadi negara dengan jumlah pembeli tiket asing terbanyak, disusul Malaysia dan Singapura. Data tersebut menunjukkan bahwa konser Ye di Jakarta tidak hanya menarik perhatian penggemar lokal, tetapi juga menjadi tujuan perjalanan bagi penggemar musik dari berbagai negara.
Tingginya permintaan tiket ternyata tidak berhenti pada urusan masuk ke stadion. Promotor juga menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan perjalanan penggemar dari luar negeri.
Karen mengungkapkan, pihaknya sampai harus menyiapkan penerbangan carter, salah satunya untuk rute dari Filipina menuju Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk membantu mengakomodasi penggemar yang sudah membeli tiket konser, tetapi kesulitan mendapatkan kursi penerbangan reguler.
"Kami enggak mau sampai mereka sudah beli tiket konser, eh ternyata tiket pesawatnya enggak ada. Jadi kami berasa promotor tapi berasa tour agent juga," ujar Karen pada awak media, belum lama ini.
Daya tarik utama konser Ye di GBK adalah Giant World Globe Stage atau panggung kubah raksasa berbentuk bola dunia.
Panggung ini dirancang dengan konsep 360 derajat sehingga penonton dapat menikmati pertunjukan dari berbagai sudut stadion. Ye tampil di bagian puncak instalasi tersebut, menciptakan ilusi seolah-olah dirinya berdiri di atas planet Bumi.
Struktur Dome Stage tersebut didatangkan langsung dari luar negeri. Skala produksinya menjadi salah satu elemen yang membedakan konser ini dari pertunjukan musik biasa.
Konsep panggung Ye tidak hanya mengandalkan ukuran instalasi yang masif. Teknologi visual turut memainkan peran penting dalam membangun atmosfer pertunjukan.
Pada awalnya, penonton disuguhi proyeksi planet Bumi dengan hamparan benua dan samudra. Visual tersebut kemudian berubah menjadi permukaan Bulan yang dipenuhi tekstur kawah dan bayangan abu-abu keperakan.
Perubahan visual itu membuat Ye seolah-olah berdiri di atas permukaan Bulan. Perpaduan projection mapping, kabut, sorotan lampu, dan laser menghadirkan suasana teatrikal yang menjadi salah satu daya tarik konser.
Ye membuka konsernya di GBK dengan lagu "King", trek dari album BULLY (2026).
Penampilan tersebut langsung disambut sorakan penonton yang memenuhi stadion. Tanpa harus menunggu lama untuk mendengar salah satu lagu andalannya, penggemar langsung larut dalam suasana konser.
Setelah "King", Ye melanjutkan penampilan dengan "Father" dan "Father Stretch My Hands Pt. 1". Deretan lagu tersebut memperlihatkan perpaduan materi dari album terbarunya dengan karya yang telah lebih dahulu dikenal penggemar.
Konser Ye di Jakarta juga memanjakan penggemar lewat deretan lagu dari berbagai periode kariernya.
Sejumlah lagu yang dibawakan antara lain "Niggas in Paris", "Mercy", "Praise God", "Blood on the Leaves", "Carnival", "Power", "Bound 2", "Heartless", "Famous", "Gold Digger", "Touch the Sky", "Flashing Lights", "Jesus Walks", dan "Ghost Town".
Pilihan lagu tersebut memberi kesempatan kepada penggemar untuk menikmati berbagai sisi musikalitas Ye, mulai dari karya-karya yang menjadi hits hingga materi yang lebih baru.
Salah satu momen paling membekas dari konser Ye di GBK adalah ketika dia menutup pertunjukan dengan lagu "Runaway".
Dentuman piano ikonis yang mengawali lagu tersebut menjadi penanda berakhirnya konser megah malam itu. Penonton menyambutnya dengan sorakan dan bernyanyi bersama, menciptakan suasana emosional di tengah kemegahan panggung.
"Runaway" merupakan salah satu lagu paling dikenal dalam diskografi Ye. Lagu yang dirilis pada 2010 melalui album My Beautiful Dark Twisted Fantasy itu menjadi pilihan penutup yang kuat setelah rangkaian pertunjukan dengan visual spektakuler.
Momen tersebut terasa istimewa karena kemegahan panggung akhirnya berpadu dengan lagu yang memiliki tempat tersendiri bagi banyak penggemarnya.
Di balik produksi panggung yang spektakuler, konser Ye di Jakarta juga memiliki sisi lain yang menjadi perhatian.
Ye dianggap relatif minim berinteraksi langsung dengan penonton. Pertunjukan lebih banyak bertumpu pada kekuatan musik, tata cahaya, visual, dan skala produksi dibandingkan sapaan atau fan service.
Fakta menarik lainnya datang dari persiapan transportasi untuk mengantisipasi kepadatan setelah konser.
Promotor Raw Vision Collective berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pihak terkait untuk membantu kelancaran mobilitas penonton. Salah satu langkah yang disiapkan adalah perpanjangan operasional MRT Jakarta hingga pukul 01.30 WIB pada hari konser.
Frekuensi perjalanan MRT juga ditingkatkan. Selain itu, TransJakarta menambah frekuensi perjalanan dan armada bus, sedangkan Bluebird Group menyiapkan tambahan armada taksi di sekitar area konser.
Marketing & Communications Lead Raw Vision Collective, Karen Tjahja, mengimbau penonton memanfaatkan transportasi umum untuk mengurangi potensi kemacetan di kawasan Senayan.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari penyelenggaraan konser berskala besar yang menghadirkan penonton lokal maupun internasional.
Konser Ye di GBK akhirnya menjadi pertemuan antara musik, teknologi visual, dan antusiasme penggemar dari berbagai negara. Dari panggung berbentuk planet hingga "Runaway" sebagai lagu penutup, pertunjukan ini menyuguhkan sejumlah momen yang akan terus diperbincangkan oleh para penonton.
Editor: Muhammad Sukardi