Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : 10 Peristiwa Penting di Bulan Muharram, Nomor 4 Tonggak Sejarah Kalender Hijriah
Advertisement . Scroll to see content

Contoh Pidato Tentang 1 Muharram 1443 Hijriah

Rabu, 11 Agustus 2021 - 21:05:00 WIB
Contoh Pidato Tentang 1 Muharram 1443 Hijriah
Muslim mendengarkan pidato tentang peringatan tahun baru Islam 1 Muharram. (Foto: Antara)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pidato tentang 1 Muharram 1443 Hijriah biasanya kerap disampaikan dalam pengajian memeringati Tahun Baru Islam. Pada momen tahun Baru Islam yang jatuh bertepatan 10 Agustus 2021, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menggeser hari libur 1 Muharram 2021 sehari setelahnya yakni Rabu, 11 Agustus 2021.

Penggeseran hari libur 1 Muharram 1443 H ini semata-mata untuk mengantisipasi munculnya klaster baru penyebaran Covid-19 yang disebabkan libur panjang.

Momen Tahun Baru Islam yang masih dalam pandemi Covid-19 ini menjadi refleksi bagi umat Islam untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT dan bersama-sama berjuang melawan Covid-19 dengan cara menjaga dan menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat serta mengikuti vaksinasi Covid-19 sebagai ikhtiar menjaga diri dari penularan virus corona.

Berikut contoh pidato 1 Muharram tentang momentum hijrah mengalahkan pandemi Covid-19 yang ditulis
Pengurus Lembaga Dakwah PBNU KH Abdul Muiz Ali dikutip iNews.id dari laman dakwahnu.id:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللهِ الـحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُولِ الله، لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِالله وَ بَعْدُ

Segala Puji bagi Allah, Sholawat dan Salam-Nya semoga tetap tercurahkan ke haribaan Nabi agung Muhammad SAW.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas nikmat iman dan Islam. Atas karunia-Nya juga, kita bisa berkumpul di tempat mulia ini untuk memeringati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriah.

Shalawat serta salam kita sanjungkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang dengan cahaya Islam.

Bulan Muharram tahun ini masih dalam suasana pandemi Covid-19. Meski demikian, tidak mengurangi semangat kita untuk memeringati Tahun Baru Islam.

Muharram merupakan permulaan tahun dalam kalender Islam yang menandai pergantian tahun Hijriyah. Kata “Muharam” dalam Bahasa Arab mempunyai arti “yang dilarang”. Disebut kalender Hijriah mendasari pada hijrah Nabi yang memiliki sejarah panjang dan peristiwa penting dalam Islam. 

Permulaan penetapan kalender Hijriyah atas inisiatif Khalifah Umar bin Khattab. Dalam tradisi Islam ahlu sunah wal jama’ah, setiap memasuki malam pergantian Tahun Baru Islam dan selama di bulan Muharram, mereka mengisi dan meramaikannya dengan berbagai ritual keagamaan seperti membaca al-Quran, dzikir, do’a, melaksanakan puasa sunah, menyantuni anak yatim dan lain sebagainya.

Keberadaan bulan Muharram disebut bulan yang mulia merujuk pada firman Allah yang disebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah [9]: 36).

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda,

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudlar yaitu antara Jumadil tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hijrah di Masa Pandemi

Penamaan kelender Hijriyah yang dikaitkan dengan momentum hijrahnya/pindahnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallama secara fisik bersama para sahabatanya dari Makkah ke Madinah. Dalam persepektif yang lebih luas, hijrah dapat diartikan meninggalkan kebiasaan yang dilarang pindah atau menuju kepada yang diperintah oleh Allah Subhanahu wata’ala.

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ

 ”Orang yang berhijrah itu adalah orang yang berhijrah, meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah” (HR. al-Bukhârî).

Esensi hijrah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallama sesungguhnya bukan hanya sekadar berpindah dari satu tempat ketempat yang lain (hijrah al-Hissiyah), tetapi mengubah cara hidup (hijrah) dengan mengamalkan perintah agama menuju perubahan yang lebih baik dari kondisi dan situasi sebelumnya (hijrah al-Maknawiyah) merupakan makna hijrah yang hakiki .

Dalam konteks pandemi, pada saat Covid-19 masih menjadi ancaman kesehatan dan sudah banyak menelan korban, hijrah harus dimaknai sebagai upaya mengubah kondisi pandemi ini menjadi kondisi normal kembali.

Islam mengajarkan tentang pentingnya menjaga kesehatan, termasuk menjagadiri dari wabah yang mengancam nyawa atau kesehatan. Hal itu dapat kita rujuk pada penjelasan al-Quran, hadis atau pendapat ulama.

Akhirnya, marilah kita senantiasa menjaga kesehatan diri dan orang lain sebagai bentuk ikhtiar mencegah dari wabah Covid-19.

Wallaahul muwaafiq ilaa aqwamith thaariq. Wassalamu'alaikum warakhmatullah wabarakaatuh.

Contoh Kedua

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Alhamdulillahi-lladzii hadaana lihadzaa, wama kunna linahtadiya laula an hadanallah, laqod jaa-at rusulu robbinaa bil haqqi wanuuduu an-tilkumul jannah, uuritstumuuhaa bimaa kuntum ta’maluun.

Para hadirin dan hadhirat yang saya hormati. Kita patut bersyukur masih diberikan umur sehingga bisa memeringati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriah.

Di tahun baru Islam ini, marilah kita senantiasa meningkatkan amal ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia (haram) dalam Islam. Bulan Muharram juga disebut dengan Bulan Allah atau Syahrullah. 

Di bulan Muharram juga banyak terjadi peristiwa penting yang dialami para nabi. Semua peristiwa itu terjadi pada 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura. 

Beberapa peristiwa yang terjadi pada hari Asyura di antaranya bertobatnya Nabi Adam alaihisalam (as), berlabuhnya kapal Nabi Nuh as di Bukit Juhdi setelah enam bulan mengarungi banjir besar, diselamatkannya Nabi Yunus as dari ikan paus, Nabi Ayyub as sembuh dari penyakit yang dialaminya bertahun-tahun, serta Nabi Musa as selamat dari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya setelah menyeberangi laut Merah. 

Berkaitan dengan Bulan Muharram yang disebut bulan mulia, Allah SWT berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At-Taubah: 36).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, yang dimaksud empat bulan haram adalah bulan Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram (tiga bulan ini berurutan), dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, masyarakat Arab dilarang berperang karena disucikannya keempat bulan tersebut. Oleh karena itu, ia juga dinamakan Syahrullah Asham, yang artinya Bulan Allah yang Sunyi karena larangan berperang itu.

Dari Abu Bakrah radhiallahu‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Bulan Muharram juga dinamakan Syahrullah atau Bulan Allah. Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim).

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An Nawawi menyebutkan bahwa, “Hadits ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah".

Bulan Muharram juga menjadi bulan kemenangan bagi Nabi Musa alaihisalam. Bersama kaumnya yang beriman, Nabi Musa diselamatkan oleh Allah SWT dari kejaran Raja Fir'aun. 

Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, beliau menceritakan :

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari).

Demikian pidato singkat tentang keutamaan Bulan Muharram. Semoga kita bisa berhijrah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Mohon maaf bila ada salah kata.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabrakaatuh.

Wallahu A'lam.

Editor: Kastolani Marzuki

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut