Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Teks Khutbah Jumat 17 Juli 2026 tentang Bulan Safar Bukan Bulan Sial
Advertisement . Scroll to see content

Teks Khutbah Jumat 24 Juli 2026 Singkat Penuh Hikmah: Raih Berkah di Bulan Safar

Kamis, 23 Juli 2026 - 17:27:00 WIB
Teks Khutbah Jumat 24 Juli 2026 Singkat Penuh Hikmah: Raih Berkah di Bulan Safar
Ilustrasi tkes khutbah Jumat edisi 24 Juli 2026 tentang meraih keberkahan di Bulan Safar. (Foto: Freepik)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Teks khutbah Jumat 24 Juli 2026 singkat terbaru mengangkat tema meraih berkah di Bulan Safar. Tema ini penting disampaikan khatib ke jemaah shalat Jumat untuk menepis mitos dan anggapan Safar adalah bulan sial.

Dalam ajaran Islam, Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah, setelah Muharram. Bulan ini memiliki banyak peristiwa bersejarah penting, termasuk hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Sesuai kalender Hijriah dari Kementerian Agama, 1 Safar 1448 H  jatuh pada hari Kamis, 16 Juli 2026.

Arti Bulan Safar karena rumah-rumah mereka kosong dari para penghuninya, sebab penghuninya pergi untuk berperang dan mengadakan perjalanan. Dikatakan safaral makanu, apabila tempat yang dimaksud kosong, tak berpenghuni. Bulan ini dinamai Safar karena pada bulan ini, orang-orang Arab dulunya sering melakukan perjalanan jauh (safar). 

Di kalangan masyarakat Jawa, Bulan Safar atau Sapar kerap dihubungkan dengan mitos bulan sial dan banyak bencana. Pada masa Arab Jahiliyah, bulan Safar juga disebut bulan sial. 

Bulan Safar sering dikaitkan dengan mitos kesialan atau marabahaya. Asumsi ini sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan hingga pada masa Rasulullah SAW. Namun, Rasulullah SAW membantah mitos tersebut dan bahkan menyelenggarakan acara penting, seperti menggelar acara pernikahan di bulan Safar.

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra disebutkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

Bahkan Rasulullah sendiri membantah bahwa bulan Safar bulan sial. Lewat riwayat Imam Bukhari, Nabi bersabda;

لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ ولا هَامةَ ولا صَفَرَ وفِرَّ من المَجْذُومِ كما تَفِرُّ من الأَسَد

Artinya: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada ramalan buruk, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada sial bulan Safar, dan larilah kamu dari penyakit kusta seperti kamu lari dari singa” (HR. Bukhari). Islam mendasarkan ajarannya pada tauhid (keyakinan kepada satu Tuhan yang Maha Esa) dan mengajarkan kebenaran serta akhlak yang baik.

Menurut Ibnu Utsaimin rahimahullah, kata Safar dalam hadis tersebut memiliki makna yang bervariasi. Namun yang paling kuat menurut umat Jahiliah adalah sebagai bulan kesialan, sehingga sebagian orang jika selesai melakukan pekerjaan tertentu pada hari kedua puluh lima dari bulan Safar merasa lega, dan berkata, “Selesai sudah hari kedua puluh lima dari bulan Safar dengan baik.”

Berikut ini naskah khutbah Jumat tentang meraih keberkahan di Bulan Safar dilansir dari laman pcnucilacap.

Teks Khutbah Jumat 24 Juli 2026 Singkat Penuh Hikmah

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهٖ, نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاۤتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهٗ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَّۤاۤ إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ , اَللّٰهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰۤى اٰلِهٖ وِأَصْحَابِهٖ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ, أُوْصِيْكُمْ ونَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن , قَالَ اللهُ تَعَالٰى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ اِلَّاَ هُوَۚ وَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Bulan Safar merupakan bulan penting dalam sejarah kenabian yang ditandai dengan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah di akhir bulan ini. Hijrah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual penuh ujian dan kesabaran.

Setelah berdakwah terbuka, Nabi dan pengikutnya menghadapi ancaman dari kaum Quraisy, sehingga hijrah menjadi jalan satu-satunya untuk mencari tempat aman agar Islam berkembang dengan baik.

Dalam proses hijrah, kesabaran menjadi kunci utama keberhasilan Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi berbagai risiko dan tantangan. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kesabaran bukan hanya menahan amarah atau keluhan saja, melainkan keteguhan hati dan kepercayaan penuh pada janji Allah SWT, terutama saat diuji dalam hidup.

Lanjutan Khutbah Pertama

Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah berkata, “Manusia ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan :”

Pertama, Marah.

Adakalanya saat menghadapi ujian, seseorang merasa marah tidak mau menerima takdir Allah. Seringkali manusia, ketika diuji mengeluh, bergumam, menyalahkan keadaan, bahkan mencela ketentuan Allah. Padahal, marah kepada takdir berarti marah kepada Allah sendiri. Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ࣙاطْمَـَٔنَّ بِهٖۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ࣙانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ

Artinya: “Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi (tidak dengan penuh keyakinan). Jika memperoleh kebaikan, dia pun tenang. Akan tetapi, jika ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang (kembali kufur). Dia merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak hanya taat saat baik, tetapi juga kuat dan sabar menghadapi ujian. Sikap mudah goyah dan mengeluh justru merugikan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, perkuat hati dengan kesabaran dan iman, bukan kemarahan atau keluhan. Mengeluh, baik lisan maupun hati, bisa membawa dosa bahkan syirik, dan marah adalah sikap terendah dalam menghadapi ujian.

Kedua, Sabar.

Sabar adalah tingkatan minimal yang wajib dimiliki setiap Mukmin. Memang, sabar itu pahit rasanya, tetapi buah dari sabar sangat indah, sebagaimana ungkapan seorang penyair :

ٱلصَّبْرُ مِثْلُ ٱسْمِهِ مَرَّ مَذَاقُهُ وَلَكِنْ عَـٰقِبَهُۥ أَحْلَىٰ مِنَ ٱلْعَسَلِ

Artinya: “Sabar itu pahit rasanya, tapi hasilnya lebih manis dari madu.”

Meskipun demikian, sabar bukan berarti menyukai musibah, melainkan menahan diri dari marah dan tetap teguh dalam iman. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunjukkan betapa besar kesabaran mereka saat hijrah, menempuh perjalanan panjang yang penuh bahaya demi mempertahankan dan menyebarkan agama Allah.

Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah.

Ketiga, Ridha.

Ridha merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari sabar. Ridha adalah menerima setiap ketetapan Allah, baik itu nikmat maupun musibah, dengan hati yang lapang dan iman yang kuat kepada qadha dan qadar. Orang yang ridha tidak membedakan antara ujian atau kemudahan karena keduanya merupakan ketentuan Allah. Inilah kedamaian hati yang sejati, yang membedakan sabar biasa dengan kesabaran hakiki.

Keempat, Syukur.

Syukur berarti mampu bersyukur (berterimakasih) kepada Allah bahkan di tengah musibah, karena orang beriman melihat ujian sebagai penghapus dosa dan jalan meraih pahala. Rasulullah SAW bersabda :

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَٰهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya:  “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari kita gunakan bulan Shafar ini sebagai waktu untuk memperdalam kesabaran kita mulai dari menahan amarah, bersabar, meraih ridha, hingga mampu bersyukur atas setiap ketetapan Allah SWT. Dengan begitu, tidak hanya keberkahan yang kita raih, tetapi juga semoga pertolongan dan kasih sayang-Nya senantiasa menyertai setiap langkah kehidupan kita. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

.أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.  إنَّهُ تَعاَلٰى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَّؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ مُؤَيِّدِ الصَّابِرِيْنَ بِعَزِيْزِ نَصْرِهِ, وَمُيَسِّرِ الشَّاكِرِيْنَ لِحَمِيْدِ شُكْرِهِ, وَمُوَفِّقِ الْمُخْتَارِيْنَ لِلْقِيَامِ بِاَمْرِهِ, أَحْمَدُهُ عَلٰى مَاۤ أَنْعَمَ وَأَسْلَمَ لِاَمْرِهِ, فِيْمَا حَكَمَ وَاَبْرَمَ, اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهٗ لاَ شَرِيْكَ لَهٗ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰۤى ٰالِهٖ مُنْتَهٰى الدُّهُوْرِ, صَلاَةً دَائِمَةً بِلاَ فَنَاءٍ وَلاَ فُتُوْرٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاۤأَيُّهَا النَّاسُ, أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى اِنَّ اللهَ وَمَلَاۤئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلٰى النَّبِيِّ, يٰأَۤيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰۤى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَاۤ اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَاۤ اِبْرَاهِيْمَ, وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَاۤ اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَاۤ اِبْرَاهِيْمَ, فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاۤءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَۤاءَ وَالْوَبَۤاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ, مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاۤصَّةً وَعَنْ سَاۤئِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَاۤمَّةً, يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.  اَللّٰهُمَّ اصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللّٰهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ, كَمَاۤ أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْۤءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ, وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ.  رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّار.ِ

عِبَادَ اللهِ, اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهٖ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.

Editor: Kastolani Marzuki

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut