3 Tahun Ngonten Tanpa Penghasilan, Rizky Podos Ungkap Perjuangannya Jadi Kreator Konten
JAKARTA, iNews.id - Menjadi kreator konten tidak selalu langsung mendatangkan penghasilan. Ada proses panjang yang harus dilalui, termasuk ketika konten yang dibuat belum banyak ditonton dan tawaran kerja sama belum datang.
Hal itu dirasakan langsung kreator konten Rizky Podos atau Fodos. Dia mengaku pernah konsisten membuat konten selama sekitar tiga tahun tanpa mendapatkan penghasilan dari aktivitas tersebut.
Cerita itu disampaikan Fodos saat menjadi narasumber GenZone Talks dalam rangkaian iNews Campus Connect 2026 di Universitas Tarumanagara (Untar), Rabu (30/9/2026).
Fodos mengungkapkan dirinya tidak sejak awal membuat konten dengan target mendapatkan uang. Dia justru terjun ke dunia konten kreator karena hobi dan dorongan dari seorang teman sekolah dasar.
Saat itu, teman SD Fodos pindah ke kampung, sehingga keduanya tidak lagi sering bertemu. Mereka kemudian tetap berkomunikasi dengan saling mengirim video lucu.
Temannya lalu menyarankan Fodos untuk tidak hanya mengirim video secara pribadi, tetapi mencoba mengunggahnya ke media sosial.
"Kenapa lu enggak coba upload aja? Karena dia ngerasa videonya lucu," kata Fodos menirukan perkataan temannya.
Fodos pun mencoba mengunggah video pertamanya. Namun, alih-alih langsung mendapatkan banyak penonton, konten tersebut justru nyaris tidak mendapat respons.
"Pas aku upload, Alhamdulillah, kagak ada yang nonton," ujarnya yang disambut tawa penonton.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak membuat Fodos berhenti. Dia tetap membuat dan mengunggah video karena memang menikmati proses kreatif tersebut.
"Awalnya memang pure aku bikin video karena aku suka aja," tuturnya.
Fodos mulai membuat konten pada 2018. Selama beberapa tahun pertama, dia mengaku belum mendapatkan penghasilan dari aktivitas sebagai kreator.
Sebenarnya, tawaran endorsement sempat datang melalui direct message. Namun, saat itu Fodos belum memahami cara kerja sama dengan brand.
Dia bahkan belum mengetahui bagaimana cara merespons tawaran endorsement maupun menentukan tarif untuk konten yang dibuat.
"Enggak ngerti cara balasnya gimana atau ngasih harganya berapa," ujarnya.
Situasi tersebut membuat Fodos kemudian bergabung dengan sebuah manajemen. Dari sana, dia mulai mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan industri kreator, termasuk cara menentukan rate card, berkomunikasi dengan brand, hingga memahami sistem kerja sama.
Pengalaman tersebut perlahan membuat Fodos memahami bahwa menjadi content creator bukan sekadar membuat video dan mengunggahnya ke media sosial.
Selama sekitar tiga tahun pertama, dia tetap membuat konten meski belum mendapatkan penghasilan.
"Jadi artinya bisa dibilang aku selama tiga tahun bikin video enggak ada penghasilan, tapi tetap bikin. Karena dasarnya memang suka, bukan karena memang nyari duit," katanya.
Menurut Fodos, konsistensi menjadi salah satu hal penting dalam membangun karier sebagai content creator. Dia mengingatkan kreator pemula agar tidak berharap mendapatkan hasil besar hanya dari satu atau dua video.
Baginya, membangun audiens merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan waktu.
"Aku udah ngonten dari 2018, di TikTok dari 2020. Jadi kayak ya kekonsistenan itu yang membuat kayak orang bisa sampai di titik kayak aku sekarang," ujarnya.
Selain konsistensi, Fodos menilai kreator perlu memahami niche atau karakter konten yang ingin dibangun.
Dia mencontohkan kreator yang memilih membuat konten mukbang. Jika ingin membangun audiens melalui konten tersebut, kreator perlu konsisten dengan tema yang dipilih.
Namun, konsistensi bukan berarti harus terus mempertahankan satu format apabila setelah dievaluasi konten tersebut tidak berkembang. Menurut Fodos, kreator tetap dapat mengeksplorasi turunan dari niche yang sudah dibangun.
Misalnya, dari konten mukbang dapat dikembangkan menjadi food vlogger yang mengulas makanan atau tempat makan tertentu.
Hal lain yang tidak kalah penting, menurut Fodos, adalah membangun personal branding. Di tengah banyaknya kreator dan format konten di media sosial, dia menilai sulit menemukan jenis konten yang benar-benar belum pernah dibuat orang lain.
“Semua tuh pasti kayak amati, tiru, modifikasi,” ujarnya.
Karena itu, pembeda seorang kreator tidak selalu terletak pada jenis kontennya. Karakter kreator yang muncul dalam setiap konten juga dapat menjadi identitas yang membuat penonton mengingat pembuatnya.
“Yang bener-bener 100 persen OG itu udah enggak ada,” kata Fodos.
Dia mencontohkan konten vlog maupun mukbang yang sudah berkembang sejak lama. Meski demikian, masing-masing kreator tetap dapat memiliki ciri khas yang membuat penonton mengenali kontennya.
Bagi Fodos, pengalaman tiga tahun membuat konten tanpa penghasilan menjadi bagian dari proses membangun karier. Dari sekadar menjalankan hobi, dia kemudian belajar memahami industri, membangun konsistensi, menentukan arah konten, hingga menemukan karakter yang menjadi identitasnya sebagai kreator.
Editor: Muhammad Sukardi