5 Puisi Karya Ajip Rosidi yang Akan Terus Dikenang

Riyandy Aristyo ยท Kamis, 30 Juli 2020 - 16:16 WIB
5 Puisi Karya Ajip Rosidi yang Akan Terus Dikenang

Kenangan sastrawan Ajip Rosidi (kanan) memberikan buku karyanya kepada mantan Menlu Mochtar Kusumaatmaja pada perayaan ulang tahunnya yang ke-70 di Bandung beberapa waktu lalu. (Foto: Antara).

JAKARTA, iNews.id - Kepergian sastrawan Ajip Rosidi pada Rabu 29 Juli 2020, meninggalkan sejuta kenangan bagi keluarga dan para penggemarnya. Karya dia yang akan terus dikenang adalah koleksi puisi yang menyentuh.

Berikut iNews.id kumpulkan sejumlah puisi karya Ajip Rosidi yang melegenda dari berbagai sumber, Kamis (30/7/2020).

1. Lagu Kerinduan

Wajahmu antara batang kelapa langsing

Menebar senyum dan matamu menjadikan daku burung piaraan

Semua hanya bayangan kerinduan: kau yang nun entah di mana

Mengikuti setiap langkahku, biarpun ke mana

Kujalani kelengangan hari

Sepanjang pagar bayangan: wajahmu menanti

Langkah kuhentikan dan kulihat

Hanya senyummu memenuhi jagat

2. Ingat Aku Dalam Doamu

Ingat aku dalam do'amu: di depan makam Ibrahim

akan dikabulkan Yang Maha Rahim

Hidupku di dunia ini, di alam akhir nanti

Lindungi dengan rahmat, limpahi dengan kurnia Gusti

Ingat aku dalam do'amu: di depan makam Ibrahim

di dalam solatmu, dalam sadarmu, dalam mimpimu

Setiap tarikan nafasku, pun waktu menghembuskannya

Jadilah berkah, semata limpahan rido Illahi

Ya Robbi!

Biarkan kasih-Mu mengalir abadi

Ingat aku dalam do'a-Mu

Ingat aku dalam firman-Mu

Ingat aku dalam diam-Mu

Ingat aku

Ingat

Amin

3. Penyair

Versi pertama:

Adapun penyair lahir

Membangkitkan kematian para penyihir

Lalu dengan mantra kata-kata

Menjelmakan kehidupan manusia

Menyanyikan kelahiran cinta

atau menangisi kematian bunda

Melagukan kesia-siaan rindu, kau pun tahu

Segala yang beralamat duka

Versi kedua:

Siapa menjelajahi pagi

Mendapat pertama sinar mentari

Lagu kunyanyikan kini

akan dimengerti nanti

Lagu kusajakkan kini

Suara lubuk hati

yang selalu sunyi

semuanya nanar

4. Dukaku yang Risau

Berjalan, berjalan selagi di diri duka

Bernapas lega menemu perempuan

Kami berpandangan: lantas tahu

Segalanya tinggal masa kenangan

Kami berjalan memutar danau

Namun kutahu: dukaku yang risau

Takkan mendapatkan pelabuhan aman

Kecuali dalam pelukan penghabisan

Kupandang matanya:

Tak kukenal siapa pun juga

Didindingi kabut samar

5. Hamlet

Yang was-was selalu, itulah aku

Yang gamang selalu, akulah itu

Ya Hamlet kusuka: Dialah gambaran jiwaku

Yang selalu was-was dalam ragu. Membiarkan kau

Mengembara dalam mimpi yang risau

Kutemukan pada Oliver, kegamangan falsafi

Dunia yang muram dan masa depan yang suram

Tapi kulihat kecerahan intelegensi

Seorang muda yang terlalu dekat kepada alam

Hamlet. Hamletku, ia datang kepadamu

Menatap fana atas segala yang kujamah: Tahu

Bahwa hidup melangkah atas ketidak pastian

Yang terkadang menentukan Kepastian

Aku pasrah

Editor : Tuty Ocktaviany